JALANAN adalah sebuah film karya sutradara Daniel Ziv yang bercerita tentang Kota Megapolitan Jakarta dan tiga pengamen berbakat nan humoris; Titi, Boni dan Ho. Film ini mengikuti kegiatan keseharian mereka secara intim selama 5 tahun di antara hiruk pikuk ibukota, tanpa rekayasa.

Daniel mengaku bahwa ia tertarik kepada cerita tersebut bukan karena ambisinya sebagai filmmaker atau sebagai pencarian topik untuk sebuah film dokumenter, melainkan karena pengalaman pribadinya dimana suatu hari di Jakarta ia berpapasan dengan geng beranggotakan individual-individual unik yang kisah hidupnya tak bisa ia lupakan begitu saja.

I was drawn into their world and the more time I spent with them, the more I realized they had a tale that deserved to be told. It was a story that happened to contain everything a documentary filmmaker could ask for: contagious personalities; compelling social justice issues; individual struggles that shed light on universal issues; cheeky humor; a colorful urban sub-culture, and – as an added bonus – a built-in soundtrack of wonderful original music,” jelasnya.

Sebagai seorang penggemar film dokumenter, Daniel selalu berharap film-film tersebut dapat membawa ceritanya secara murni dari perspektif para subyek. Bukan dari perspektif sang pembuat film seperti yang banyak terjadi. “So one of my goals was to have Boni, Ho and Titi tell their own story to the viewer, interact with the audience directly, without my being felt as an intermediary or as an ‘interpreter’,” jelas pria yang telah tinggal di Jakarta sejak 1999 ini.

Selain itu, Daniel juga bertujuan mendapatkan penonton yang nyata dalam artian ia tidak ingin JALANAN menjadi seperti film dokumenter lain yang ditonton hanya oleh beberapa teman dan penggemar film dokumenter. Maka itu pria asal Kanada ini tidak takut untuk membuat JALANAN sebagai film dokumenter yang menghibur. “I think a lot of documentaries take themselves very very seriously and feel that if they are talking about a serious social issue, it’s not allowed to be funny or engaging. But when I shot JALANAN for 5 years, nearly all the marginalized poor people I met were funny and engaging, and they never felt sorry for themselves. So I didn’t want to make a film that views them with pity. I wanted the film to show them for who they really are – people with a voice, with dignity, with self-esteem and dreams and ambitions and even a lot of wisdom from which we can learn.”

JALANAN sempat diputar di Melbourne Agustus kemarin. Pemutaran perdana satu-satunya film Indonesia yang lulus seleksi Melbourne International Film Festival ini dihadiri Daniel, Titi Juwariyah (salah seorang pemeran utama), Ernest Hariyanto (editor) dan Lakota Moira (project manager).

Titi Juwariyah asal Ngawi, Jawa Timur ialah seorang ibu dari 4 anak. Titi dipilih sebagai salah satu pemeran utama JALANAN karena, menurut Daniel, musisi jalanan yang ‘bekerja’ di Jakarta hanya 1 dari 100 yang berjenis kelamin perempuan. Umumnya profesi tersebut didominasi kaum laki-laki. Melalui JALANAN penonton dapat melihat perspektif seorang pengamen perempuan lewat Titi.

Sekarang Titi tinggal di Blok S, Jakarta Selatan dan berprofesi sebagai pengamen. Awalnya Titi didatangi oleh Daniel saat sedang ‘bekerja’ di Blok M. Pada saat itu Daniel sedang mengadakan audisi rahasia untuk mencari pengamen berbakat. “Aku coba mulai, ikut caranya dia. Aku kenalin sama Boni, terus Boni ngenalin ke Ho. Setiap hari diikutin dan kita ganti-gantian, kalau aku harus pergi ke sekolah, Daniel datengin aku terus kita ketemuan dan aku dipasangin microphone, dari situ udah deh terserah aku mau ngapain aja. Kecuali ke toilet,” cerita wanita berusia 36 tahun ini.

Di Jakarta, JALANAN menjadi film dokumenter pertama yang ditayangkan secara massal di jaringan bioskop 21 dan Blitzmegaplex pada April lalu. JALANAN bertahan selama 40 hari di layar bioskop dan mendapat respon yang baik dari kalangan terhormat di Tanahg Air, antara lain KPK dan pemerintah DKI Jakarta sendiri. “Pernah ada bapak-bapak yang bilang dia nggak suka nonton film Indonesia, tautau ada yang datang ke aku bilang senang banget nonton JALANAN, filmnya bagus banget. Langsung deh bapak itu ajak istri sama anak-anaknya nonton,” ucap Titi.

Pemutaran JALANAN sedikit banyak telah menuai ketenaran untuk Titi hingga dirinya sempat diundang untuk mengisi panggung Konser ‘Salam Dua Jari Menuju Kemenangan Jokowi-JK’ saat Pemilu kemarin, bersama band kawakan Slank dan gitaris Oppie Andaresta.

Dukungan terhadap Presiden RI terpilih bahkan diperlihatkan ketika Titi datang ke Melbourne untuk pemutaran filmnya. Titi mengenakan baju kemeja kotak-kotak ciri khas pendukung Jokowi sambil membawakan beberapa tembang ciptaannya, Balada Bocah Lampu Merah dan Salam Dua Jari.

Sejauh ini film JALANAN telah memenangkan penghargaan sebagai Best Documentary di Busan International Film Festival, Korea, 2013; Special Mention Geber Award, Jogja-NETPAC Asian Film Festival, Indonesia, 2013; In Competition, Asia Pacific Screen Awards, 2014; Best First Feature Film, Biografilm Festival, Italia, 2014; dan Magnolia Award-Best Documentary Shanghai TV Festival, Shanghai 2014.

sasha
(sebagian) sumber: Jalananmovie.com