Amien Rais menyamakan Pemilu 2014 seperti Perang Badar? Komentar penulis: “Buset! Apa dia gak mikir dulu sebelum bicara?”

Mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat tersebut menyamakan Perang Badar yang adalah peperangan besar dalam sejarah Islam yang telah menelan banyak korban dengan pesta demokrasi Pemilihan Umum 2014. Ini sangat aneh. Tapi kemudian penulis ingat sewaktu Amien Rais datang ke Melbourne, 27 September 1998 dan bicara di Konsulat Jenderal RI Melbourne. Kala itu beliau mengeritik Soekarno-Hatta di depan para sesepuh masyarakat Indonesia di Victoria. Bung Hatta dikritik karena telah mengundurkan sebagai wakil presiden dan Bung Karno karena Demokrasi Terpimpinnya. Seusai ceramah salah seorang sesepuh berkomentar, “apakah orang seperti ini yang akan jadi presiden Indonesia? Kok analisanya tentang masalah yang sedang dihadapi Bangsa Indonesia begitu sederhananya?” Dan Amien Rais tidak peka bila deretan pertama yang duduk di depannya adalah sesepuh yang boleh dikatakan semuanya pro Soekarno-Hatta.

Hasil Pemilu waktu itu menunjukkan Amien Rais hanya dapat suara 5%. Media harian Kompas pun menjuluki Amien Rais “hanya besar di media, tidak di lapangan”.

Menurut seorang teman dekat yang telah mengenal sosok mantan pejabat negara ini sejak tahun 60an, memang begitulah seorang Amien Rais. Hari Senin bilang A; Selasa bilang B dan Rabu bilang C. Belum saja jadi presiden, koran terkemuka The Age (17/6/99) menerbitkan sebuah artikel ulasan tentang Amien Rais yang berjudul “Amien Rais: Indonesia’s hope, or curse?” Disebutkan di sini tentang inkonsistensinya, sebagai contoh, mengenai sikap anti-Tionghoa (Amien Rais disebut-sebut pernah melontarkan ide pembagian harta milik pedagang kaya Tionghoa kepada masyarakat banyak), anti-Kristen dan anti-Yahudi.

Amien Rais menambahkan bahwa perjuangan prajurit dalam Perang Badar adalah ikhlas membela ‘kehormatan diri’ dan ‘kehormatan Tanah Air’. Menurut penulis, para tokoh politik kerap kali berbicara atas nama ‘kehormatan Tanah Air’ tapi yang sebenarnya terjadi adalah mereka bicara tentang ‘kehormatan diri’. Pesan penulis kepada Amien Rais, jangan campurkan dua hal yang berbeda sekali!

Tokoh kontraversial ini sempat pula meninggalkan Muhamadiyah karena ingin jadi presiden. Masyarakat Indonesia mulai bertanya-tanya siapa sebenarnya Amien Rais? Apakah Amien Rais melontarkan ide dan pikiran yang semacam itu hanya untuk membuat sensasi dan dimuat di media nasional? Rasanya terlalu kecil kalau itu tujuannya.

Sekarang Pemilu Presiden RI sudah diambang pintu, Amien Rais lagi-lagi berbuat ulah dengan pernyataan yang berbahaya! Sampai akhirnya calon presiden Jusuf Kalla dari pasangan Jokowi meminta para ulama untuk bergerak dan menjelaskan ke masyarakat. JK menyesalkan pernyataan Ketua Majelis Pertimbangan Pusat PAN yang memberikan indikasi Amien Rais melihat permusuhan dalam proses berdemokrasi.

Lebih jauh, saat bersilahturahmi dengan ratusan ulama pesantren di Jakarta, JK mengatakan: “Jangan selalu berbicara permusuhan, kita menyesalkan yang mengatakan pemilu adalah Perang Badar. Kita tidak ingin seperti itu. Indonesia jangan dijadikan seperti Afghanistan, Mesir atau Suriah. Kita ini damai dan Bangsa Indonesia harus bersyukur memiliki beragam agama yang diakui dan beragam bahasa serta adat istiadat dan tetap bisa hidup rukun dalam satu kesatuan bangsa.’

Pendukung pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa tersebut seringkali menimbulkan riak dan kegelisahan di masyarakat. Tapi penulis yakin masyarakat Indonesia tidak mudah dihasut dan ini terbukti dari pemilu-pemilu terdahulu yang semuanya berlangsung aman.

Banyak para analis yang memperkirakan akan terjadi banyak kerusuhan tapi ternyata kerusuhan yang ditakutkan tidak terjadi. Masyarakat Indonesia sudah dewasa berpolitik. Mereka bisa melihat siapa politisi yang oportunis dan siapa yang betul-betul memperhatikan kepentingan rakyat dan masyarakat. Ketika tiba saat pencoblosan, hati yang akan bicara, “saya harus selamatkan Indonesia, bukan saya harus selamat Prabowo atau Jokowi!”

Rasanya tidak terlambat untuk mempersembahkan satu untai puisi untuk manusia bernama Soekarno yang merupakan salah satu pendiri Republik Indonesia.

BUNG KARNO

Kau muncul di cakrawala Timur
Laksana garuda putih di waktu fajar
Pertanda baik bagi bangsamu
Ibumu memanggilmu Putra Fajar
Chairil Anwar menyebutmu Satu Zat dengannya!
“Bung Karno, kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal berlayar

Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak dan berlabuh”

Bangsamu lagi mimpi
Kapan lagi garuda putih kembali
Muncul di cakrawala Timur
Apakah kau rela
Melihatmu rakyatmu tetap mimpi?

Bebaskan bangsamu dari belenggu tahyul
Bebaskan bangsamu dari praktek KKN
Bebaskan bangsamu dari tikus-tikus oportunis

Karena kau pernah berucap bangsamu bukan
Bangsa tempe……………………

 

Anton Alimin
Jembatan Poetry Society
[email protected]

 

SHARE
Previous articlePANDAWA 16 Aug 2014
Next articleAntologi Kisah Syahisti