Buat kalian para penggemar sepak bola, tentu tidak akan melewatkan kesempatan menonton pemain – pemain bola international secara langsung. Apalagi di tanah Australia ini yang notabene bukan mania sepakbola.

Maka dari itu, merupakan sebuah keburuntungan bagi kita penggemar sepak bola, karena di Bulan Januari ini Australia menjadi tuan rumah Piala Asia 2015. Artinya, kita bisa menonton secara langsung pemain – pemain kelas dunia seperti Shinji Kagawa, Keisuke Honda, Son Heung-Min, atau legenda Australia, Tim Cahill.

Tapi, selain permainan yang menarik, kompetisi yang ketat dan bertaburannya bintang – bintang internasional di lapangan, ada hal – hal yang menarik untuk disimak di Piala Asia 2015 ini. Salah satu yang membuat BUSET ikut terperangah adalah betapa membaur dan atraktifnya supporter – supporter di turnamen yang tengah berlangsung ini (saat BUSET naik cetak – red.)

Ini terbukti dengan jumlah total penonton setelah 16 pertandingan mencapai 250.000 orang. Ini merupakan pencapaian luar biasa karena Australia pada aslinya bukanlah negara sepakbola. Hal ini diamini oleh AFC General Secretary, Dato’ Alex Soosay, yang mengatakan bahwa jumlah penonton yang membludak merupakan keberhasilan bagi sepakbola Asia.

“Kita benar – benar mempunyai turnamen yang hebat, semangat dan antusiasme penonton di dalam maupun di luar lapangan sangatlah mencengangkan,” ujarnya.

“Pujian harus dilontarkan kepada Panitia turnamen, karena mereka telah mempromosikan turnamen ini dengan sangat baik, dengan program – program seperti Adopt a Team yang menganjurkan orang Australia untuk mendukung tim selain timnas Australia,” lanjut Dato’ Alex Soosay lagi.

BUSET sendiri merasakan secara langsung berhasilnya program Adopt a Team. Hampir di setiap pertandingan yang BUSET hadiri, selalu ada penonton orang Australia yang meramaikan bahkan dengan atribut negara lain.

Malahan, ada satu momen dimana tim Korea Utara yang notabene tidak mempunyai pendukung asli dari negeri sendiri karena urusan politik negaranya, memberikan salut luar biasa pada penonton Australia yang sepanjang pertandingan menyerukan tim Korea Utara.

Selain itu, satu program lain yang tidak kalah sukses adalah Community Ambassador for Asian Cup 2015; program yang mengikutsertakan komunitas imigran di Australia untuk mempromosikan Piala Asia 2015. BUSET sendiri merupakan salah satu wakil dari komunitas Indonesia dan merupakan satu-satunya media Indonesia di Victoria yang terpilih menjadi duta.

Communitty Ambassador ini berasal dari berbagai latar belakang, ada yang mengepalai organisasi komunitasnya, ada juga yang menjalankan surat kabar komunitas berbahasa asing,” CEO Local Organising Committee Michael Brown mengatakan. “Yang menjadi kesamaan dari mereka adalah mereka merupakan perwakilan dari komunitasnya, dan mereka semua ingin membantu menyukseskan ajang Piala Asia 2015 ini,” tandasnya lagi.

Program ini juga dinilai sukses, seperti dikatakan oleh Mehdi Soodi, Presiden dari Iranian Society of Victoria. “Saya yakin timnas Iran akan mendapatkan dukungan penuh selama bermain di Australia dari komunitas Iran di sini,” sebutnya.

Bukti nyatanya, pertandingan dimana Iran bermain rata – rata ditonton oleh sekitar 20.000 orang. Jumlah yang fantastis. Yang menarik dari tim nasional Iran adalah, tim yang dijuluki Tim Melli oleh suporternya ini adalah pemersatu bagi rakyat Iran, seperti dilansir dari surat kabar Sydney Morning Herald.

“Orang Iran memang berasal dari kubu politik yang berbeda – beda dan bertentangan. Namun kita semua langsung bersatu ketika Tim Melli bertanding. Tim ini adalah identitas semua orang Iran,” tutur Aram Tayebi, pemain bola Australia yang berdarah Iran.

Tidak kalah menariknya adalah dukungan terhadap tim nasional Palestina, yang negaranya selalu berkecamuk perang. Bisa dibilang, tim Palestina merupakan tim paling underdog di turnamen ini, karena kekisruhan di negaranya yang menyebabkan kurangnya fasilitas untuk berlatih. Tapi ini malah menyebabkan banyaknya dukungan terhadap tim nasional Palestina.

Bisa dibilang ini bukti kalau sepakbola bisa menyatukan segala kultur, ras, ataupun paham politik.

 

faz