Menjadi seorang istri, ibu dan pengusaha merupakan tiga titel penting yang selalu dijunjung tinggi wanita ini. Ia adalah Josephine Lylia Kam, wanita kelahiran Semarang, Jawa Tengah yang pindah ke Melbourne bersama keluarganya pada tahun 2005.

Tidak seperti kebanyakan warga Indonesia yang menetap seusai menempuh pendidikan tinggi di Melbourne, Lia – begitu panggilan akrabnya – sama sekali belum pernah tinggal di negeri asing. Ia bahkan tidak memiliki saudara atau kerabat yang dikenalnya ketika menginjakkan kaki di Ibu Kota Negara bagian Victoria ini. Namun setelah jatuh bangun dan menempuh berbagai rintangan, kini Lia dapat merasakan kenyamanan hidup bersama keluarganya sambil menjalankan bisnis properti dan window furnishing-nya.

Kepada BUSET, Lia membagikan cerita dan pengalamannya yang diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi para pembaca, terutama kaum wanita dalam memperingati semangat emansipasi wanita yang diteladani Raden Ajeng Kartini, yang selalu kita peringati setiap tanggal 21 April.

Menggapai Cita – Cita

Alkisah, Lia kecil bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Merasa memiliki bakat berbahasa Inggris dimana nota bene pada waktu itu belum banyak orang Indonesia yang pandai berbahasa Inggris, Lia terdorong untuk menjadi guru Bahasa Inggris.

Benua Kangguru menjadi tujuan utama yang diperjuangkannya. Namun keinginannya itu ditolak mentah-mentah oleh kedua orang tuanya yang masih berpikiran kolot dengan alasan anak perempuan tidak boleh sekolah jauh-jauh.

Tanpa putus asa, Lia akhirnya berangkat ke Jakarta untuk mengambil kuliah Bahasa Inggris di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Atma Jaya. Ini pun diijinkan orang tuanya karena kakaknya yang  tertua telah lebih dahulu menetap di Jakarta.

Sambil kuliah, Lia menjadi guru les Bahasa Inggris untuk anak-anak dan dewasa. Setelah lulus, dirinya sempat mengajar Bahasa Inggris di Sekolah Regina Pacis. “Saya merasakan sendiri bagaimana beratnya menjadi seorang guru, persiapan yang harus dilakukan sangat detail dan memakan waktu cukup banyak. Meskipun saya hanya bekerja di sana selama beberapa bulan, paling tidak cita-cita saya sebagai guru sudah tercapai,” tuturnya halus.

Antara Karir dan Keluarga

Bertekad untuk memiliki taraf keuangan yang lebih baik, Lia akhirnya beralih profesi dari seorang guru menjadi seorang profesional dengan mulai bekerja sebagai Asisten General Manager di perusahaan swasta produksi tissue terkenal di Jakarta.

Sementara itu, dalam hal asmara Lia pun menemukan pasangan hidupnya, Wirawan Tanamas, seorang Sarjana Hukum lulusan Universitas Trisakti.

Setelah dua tahun memiliki pengalaman di bidang managemen, Lia pindah ke PT. Sinar Mas Inti Perkasa dan menduduki posisi di departemen Human Resources. Karena ingin meningkatkan pengalaman kerjanya, Lia kemudian pindah kerja ke perusahaan asing, PT. Smithkline Beecham Indonesia sebagai Asisten Presiden Direktur. Kala itu atasan Lia merupakan warga asing berkebangsaan Skotlandia.

Perusahaan terakhir dimana Lia bekerja paling lama adalah PT. Bristol Myers Squibb Indonesia, dengan kantor pusat di Amerika Serikat. Karena kecakapan dan keuletannya dalam bekerja, Lia menjadi eksekutif yang sangat dibanggakan oleh salah satu pimpinannya yang berasal dari Australia, John R. Latham. “Sampai sekarang saya masih tetap membina hubungan baik dengan beliau yang sekarang sudah pensiun dan tinggal di Sydney,” ujar Lia.

Diam-diam, Lia telah menargetkan dirinya untuk bekerja selama maksimum 10 tahun, setelah itu ia harus membangun dan memiliki perusahaan sendiri. Niat ini terus ia yakini hingga akhirnya Lia sadar bila dirinya mempunyai kemampuan dalam hal sales dan marketing.

Sepertinya dewi keberuntungan ada di pihak Lia. Tepat 10 tahun bekerja, target yang dipatok terealisasi. Pada tahun 1990, seorang kerabat dekatnya menawarkan kerjasama bisnis dalam bidang kertas. Tanpa berpikir panjang, Lia langsung menerima tawaran tersebut. Selain menjadi pemegang saham, ibu dua anak ini pula dipercaya menduduki bangku Direktur Sales dan Marketing PT. Protona Findo, perusahaan yang bergerak sebagai perwakilan pabrik-pabrik kertas asal Finlandia. “Kalau urusan kertas, kualitas kertas dari Finlandia nomor satu. Klien-klien kami di Indonesia adalah perusahaan-perusahaan kelas atas,” ujarnya.

Boleh dikatakan Lia bisa sampai pada posisi tersebut dengan merangkak dari bawah. Kendatipun, ketika ditanya, wanita yang selalu gigih berjuang ini tak segan-segan membagikan kiat suksesnya dalam berkarir. “Jangan kerja terlalu lama di suatu perusahaan jika posisinya sudah tidak bisa meningkat. Jangan hanya diam di comfort zone terus, harus berani mencari peluang lain di perusahaan baru dan perluas jaringan pertemanan Anda,” ujarnya mantap.

Lia yang pada saat itu memiliki kantor pribadi di gedung Menara Imperium, Kuningan – Jakarta Selatan, terpilih sebagai salah satu Badan Pengurus Penghuni Menara Imperium (PPMI). Ini membuktikan kinerja dan kepiawaiannya dalam hal managemen yang dipercaya banyak orang. “Saya ini orang kecil dan tidak habis pikir mengapa mereka memilih saya menjadi salah satu pengurus gedung, padahal pengurus yang lainnya adalah bos-bos besar,” kenangnya. Namun Lia yakin bahwa “kejujuran, keuletan, tekad dan pantang menyerah merupakan prinsip yang harus dipegang teguh. Dan yang terpenting adalah untuk selalu berdoa dan memiliki iman yang kokoh,” papar wanita yang tidak lupa untuk selalu beribadah serta aktif terlibat dalam kegiatan persekutuan iman itu.

Tugasnya di Protona Findo membuat Lia mulai sering bolak balik Eropa, terutama Finlandia, karena harus menghadiri rapat penjualan tahunan dan urusan bisnis lainnya. Meski demikian, di lain pihak Lia berusaha untuk menyeimbangkan kehidupan karir dan keluarganya. “Setiap kali saya rapat di luar negeri, suami saya dengan setia selalu ikut menemani. Kebetulan dia adalah direktur di perusahaan keluarganya sendiri, jadi bisa ikut pergi kapan saja.”

Lia dan Wirawan dikaruniai dua putri yang sangat mereka banggakan. Walaupun sangat sibuk dengan urusan bisnis, tugas sebagai seorang ibu tidak pernah diabaikan. Lia secara khusus menyiapkan tempat beristirahat di ruang kantornya. “Anak-anak sengaja saya sekolahkan di Theresia, di Jl. Menteng, jadi dekat dengan kantor. Seusai sekolah, mereka akan singgah di kantor dan beristirahat di sana. Saya sudah siapkan sofabed, makanan juga sudah disiapkan dari rumah. Jadi saya bisa kerja sambil memberi perhatian pada anak-anak. Perkembangan dan pendidikan anak-anak sangat penting bagi saya, jadi saya selalu memprioritaskan mereka.”

Sekarang, anak pertama mereka, Gracia Tanamas telah menyelesaikan studi Arsitektur Landscape di Melbourne University. Gracia menikah dengan Christian Suwarna, Konsultan Boston Consulting Group (BCG). Keduanya sedang tinggal di Chicago, Amerika Serikat dan tengah menantikan buah hati pertama mereka Juli mendatang.

Sang adik, Maureen Tanamas, saat ini sedang menyelesaikan program Master dalam bidang Human Resources, juga di Melbourne University. Mengikuti jejak ibu, sambil kuliah, Maureen bekerja paruh waktu sebagai Assistant to Account Manager di perusahaan spesialisasi Human Resources, Global Mobility.

Cikal Bakal Hidup Baru di Melbourne

Hidup keluarga Tanamas di Indonesia boleh dikatakan sudah memadai secara finansial. Namun setelah tragedi 1998, Lia merasa Jakarta tidak aman bagi kedua putrinya. “Saya melihat dengan mata kepala sendiri saat gedung-gedung di dekat rumah kita dibakar, betapa brutalnya aksi masyarakat yang menyakiti warga.”

Lia mulai berpikir keras untuk mencari tempat yang aman, terutama untuk kedua anak gadisnya. Sempat terbesit untuk mengirim mereka sekolah ke Negeri Paman Sam. Namun di tengah perencanaannya, kejadian 9 September di New York kembali mengurungkan niat tersebut. Tapi Lia tidak putus asa. Ia lalu mencoba mengunjungi Sydney dan Melbourne. “Saya langsung merasa Melbourne adalah kota yang sangat cocok untuk anak-anak saya. Saya ajak anak-anak untuk merasakan kehidupan di Sydney dan Melbourne selama kurang lebih sebulan, naik-turun tram dan train, dan memperhatikan gaya hidup masyarakat di sini, akhirnya saya yakin Melbourne lah tempatnya.”

Sekembalinya di Jakarta, Lia mencari informasi bagaimana cara untuk bisa mendapatkan visa Permanent Resident Australia. “Tak disangka ternyata enam bulan setelah saya masukkan aplikasi, visa PR saya keluar.” Lia melanjutkan, “tadinya suami tidak setuju kami pindah ke Melbourne, tapi setelah kami rundingkan dan kami doakan, akhirnya kami sekeluarga memberanikan diri pindah ke Melbourne.” Keputusan pindah ini terutama untuk mendampingi Gracia yang kala itu sudah harus mempersiapkan diri untuk kuliah.

Mencari pekerjaan di tanah rantauan bukan hal mudah. “Meskipun resume saya bagus, tapi karena belum ada pengalaman kerja di Australia dan umur sudah 40an, tidak ada perusahaan yang menerima. Saya sempat down karena sulit mendapat kerja,” kisahnya. Sang suami yang sudah biasa hidup enak di Jakarta terpaksa harus rela bekerja dari bawah di salah satu mini market dekat tempat tinggal mereka saat itu.

Berbagai usaha sempat dilakukan untuk memperbaiki taraf hidup keluarga. Lia dan suami sempat berencana membeli mini market tersebut agar dapat dikembangkan dan dijadikan bisnis permanen yang menghasilkan. Tapi rencana tersebut gagal.

Setelah mengalami berbagai cobaan hidup dan beberapa kali kena tipu, Lia belajar banyak mengenai selak beluk hukum dan permainan bisnis di Australia, terutama Victoria. Hal tersebut ia aplikasikan ketika membangun rumah di bilangan Kew yang sekarang menjadi tempat tinggal mereka. “Tuhan Maha Pengasih terhadap keluarga kami. Setelah melewati cukup banyak kepahitan hidup, saya dianugerahi talenta baru dalam kehidupan saya. Ketika mencari blind [penutup jendela –red.] untuk rumah kami, saya ketemu sama salah satu pengusaha wanita asal Malaysia yang akhirnya kita berteman dan menjadi partner bisnis.” Bisnis blind Lia dari tahun ke tahun berkembang sehingga semakin dikenal oleh beberapa pembangun properti di Australia. 

Selain itu, Lia mendalami bidang properti dan mengambil studi penuh di REIV (Real Estate Institute of Victoria). Ia pun sempat bekerja di salah satu perusahan real estate di Docklands selama beberapa tahun.

Setelah sepuluh tahun hidup di Negeri Kangguru, Lia banyak mendapatkan pelajaran hidup. Tanpa lelah dan putus asa, ia jalani dan hadapi semuanya satu per satu. “Saya selalu bersandar kepada Tuhan, banyak berdoa dan tidak gampang putus asa merupakan kunci utama hidup saya. Keutuhan dan keharmonisan keluarga juga harus selalu dipupuk.”

Lia sangat mensyukuri perubahan kehidupan yang dialaminya bersama keluarga. Terlebih lagi, selama di Melbourne, hubungan kekeluargaannya semakin akrab. “Kami mempunyai quality time bersama keluarga yang jauh lebih baik.” Lia juga merasa bahwa tugas rumah tangga yang dijalankannya menjadi enteng, sehingga meski tidak ada pembantu rumah tangga seperti di Indonesia, bukan masalah bagi Lia. “Karena suami dan anak ikut berpartisipasi, rumah selalu bersih dan nyaman untuk ditempati.” “Ayo bapak-bapak dan anak-anak, mulailah berpartisipasi membantu pekerjaan rumah untuk meringankan beban ibu yang sudah cukup berat,” ujar Lia seraya bercanda.

Kartini Modern

“Sebagai seorang wanita, kita seringkali merasa lemah dan tidak berdaya. Tapi menurut saya, wanita itu unik dan memiliki talenta-talenta tertentu yang tidak dimiliki pria,” ucap Lia ketika berdiskusi mengenai peran wanita di era globalisasi.

“Saya senang melihat Kartini-Kartini modern yang banyak berhasil dan mandiri, tidak seperti jaman Kartini di tahun  1900. Tapi, di lain pihak, saya tidak setuju kalau Kartini-Kartini modern melupakan kodratnya sebagai wanita ciptaan Tuhan.”

Melihat perkembangan bangsa yang semakin positif, Lia meyakini jika Kartini Indonesia akan terus bermunculan, “bukan bersaing dengan tujuan mengalahkan, namun justru untuk bersama-sama mendampingi pria dalam memajukan keluarga, lingkungan dan negara,” tegasnya.

“Pesan saya bagi para Kartini yang berumah tangga, walaupun sukses dengan karir dan harus ikut membantu mencari nafkah, jangan lupa dengan tugas sebagai istri dan sebagai ibu bagi anak-anaknya. Peran ibu sangat penting untuk keberhasilan anak-anak. Memang berat tugas dan tanggungjawab sebagai wanita, tapi itu adalah kemahiran khusus yang diberikan kepada wanita dan pasti bisa dijalankan kalau kita mau,” ujar Lia.

“Tekunilah bakat-bakat yang Anda miliki dan jangan pernah berhenti berdoa dan berusaha, maka kerberhasilan akan Anda raih.”

“Mari kita peringati dan kenang jasa-jasa besar ibu kita, Raden Ajeng Kartini,” kata Lia seraya menutup pembicaraan.