Buzzwords seperti millennials, unicorns, decacorns, 4.0 Industry, kemungkinan dapat membingungkan pembaca sekalian, saking banyak sekali definisi yang beredar tentang buzzwords di atas. Kali ini, Indonesian Students Symposium mencoba untuk mengundang para pengunjung untuk menilik dan memberi bimbingan tentang Millennials dan Industri 4.0 melalui acara pertama mereka yang bertema ‘Millennials: Envisioning Creative Industry 4.0’. Diadakan di Monash University Caulfield pada awal Mei 2019, acara garapan LPDP dan PPIA Monash ini turut mengundang delapan figur yang namanya tidak asing dalam bidang mereka tersendiri, yaitu, Valerie & Veronika, Wulan Guritno, Arnold Poernomo, Ariel Heryanto, Iman Usman, Halim Alamsyah, dan Butet Manurung.

ISSA mendapat respon yang sangat positif dari kalangan mahasiswa

Sesi pertama datang dari Profesor Ariel Heryanto, seorang dosen Indonesian Studies di Monash University. Dalam kesempatan kali ini, Prof. Ariel memberi penataran yang berjudul Indonesia Back to the Future. Beliau melihat adanya ruang untuk hambatan sekaligus kesempatan dalam suatu konteks negara, sehingga cara-cara yang lama atau kuno tidak lagi dapat dipakai. Baginya, setiap orang harus melihat ke belakang untuk bergerak menuju hal yang ada di depan. “More information is better, more knowledge is necessarily better, not always, tapi banyak masalah yang tidak teknis, masalah yang politis dan etis, itu gak diperhatikan dengan baik,” ujarnya. “Harapan saya bagi para hadirin adalah agar memiliki perspektif yang luas, tidak sepihak hanya sempit, tapi juga mau lihat ke kiri, kanan, belakang dan depan juga.”

Sesi Tanya jawab dengan Halim Alamsyah dan Prof. Ariel Heryanto

Beliau pula menuturkan bahwa tugasnya sebagai akademisi adalah mengingatkan setiap orang akan pengetahuan yang tidak hanya dibatasi dalam lingkup hal teknis saja, namun juga mengingatkan tentang politik, ekonomi yang menjadi bagian dalam industri yang bergerak saat ini.

Pada kesempatan yang sama, mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah yang sekarang menjabat di Lembaga Penjamin Simpanan mengangkat fakta kondisi perekonomian di Tanah Air. Dalam konteks industri 4.0, beliau sadar bahwa inovasi dalam Fintechs (Financial Technologies) menawarkan kesempatan dan juga ancaman bagi masyarakat sehingga Indonesia harus mulai kritis memandang segala perubahan yang ada di sekitar. “Informasi yang banyak jangan ditelan mentah-mentah, harus kritis cari informasi yang benar, lalu memutuskan kira-kira langkah yang baik itu apa. Kedua hal tersebut menjadi kunci untuk berlomba dalam industri yang kompetitif dan trending ini.

Project Manager ISSA Indra dan Sheena berharap dapat membuka mata para hadirin mengenai permasalahan sekaligus peluang di Tanah Air, khususnya berkenaan dengan industri 4.0

Wulan Guritno menyampaikan sudut pandang lain dari profesinya sebagai seorang aktris dan pengusaha. Selain itu, Wulan juga datang dengan tujuan yang baru dimana ia turut memperkenalkan yayasan rintisan dirinya dan teman-teman, yaitu Gelang Harapan. Suatu yayasan yang aktif dalam membangkitkan kepedulian akan penderita kanker. Gelang Harapan memberikan seluruh keuntungan dari penjualan gelang yang ada untuk para penderita kanker di Indonesia. Untuk sekarang, Wulan fokus dalam menyebarluaskan tentang yayasan ini agar terus menerus berjalan dan tidak stagnan. 

Chef Arnold tidak segan menceritakan kegagalan di awal kariernya

Senada dengan Wulan, Valerie dan Veronika juga gencar dalam sesinya untuk menunjukkan kepedulian mereka terhadap lingkungan, ditambah dengan berbincang-bincang mengenai karier mereka yang kian lama kian tumbuh pesat melalui kecaanggihan teknologi. Sepasang saudara kembar ini memberikan tips dan ajakan yang sangat aplikatif untuk para penonton yang pada umumnya masih berada di bangku kuliah ini.

Turut hadir pula Chef Arnold Poernomo yang menceritakan mengenai kegagalannya yang membawa dia ke ajang Masterchef hingga naik pamornya sampai dengan sekarang melalui restoran dan sebagai juri Masterchef Indonesia sendiri.

Datang dari sisi seorang entrepreneur juga, Co-Founder dari Ruangguru, Iman Usman berbagi cerita tentang kisah awal mulanya meraih cita-cita sebagai seorang millennial. Ia mencoba untuk mengajak para pemuda/i untuk memiliki tujuan yang tidak hanya berdampak positif bagi diri sendiri, namun juga untuk kebaikan sesama. Dan justru, ini akan dapat berdampak lebih besar dengan penggunaan teknologi yang baik.

Artis Wulan Guritno mengingatkan kita untuk mengulurkan tangan di tengah kesibukan yang tiada henti

Berjuang dalam lingkup pendidikan, Butet Manurung membagikan kisah inspiratif dari petualangannya memberi perubahan bagi sistem pendidikan di tempat-tempat terpencil. Bukan hanya mengharukan, namun kehadiran Butet di ISSA membuka mata bahwa gerakan sekecil apapun yang dapat membawa pendidikan masyarakat Indonesia ke level yang lebih tinggi adalah sangat penting. Sebab tak dapat dipungkiri, penggunaan teknologi tanpa didampingi dengan kepintaran justru akan menyesatkan, seperti halnya dengan berita hoax yang cepat beredar yang justru dapat dengan mudah memprovokasi aktifitas yang negatif.

Pada akhirnya, Project Manager ISSA 2019 Sheena dan Indra berharap acara ini dapat memotivasi para mahasiswa dan mahasiswi di Melbourne dalam bersikap serta menyiapkan bidang pekerjaan di tengah industri 4.0 ini. “Yang terpenting adalah, kita mau anak-anak melihat banyaknya permasalahan sekaligus peluang di Indonesia,” ujar Indra.

Valerie dan Veronika menceritakan pengalaman mereka dalam menggunakan kecanggihan teknologi untuk mendukung karier mereka

“Harapannya agar mereka dapat menjadi their own leader, dan agar mereka update tentang Indonesia, sadar akan peran mereka kepada Indonesia,” tutup Sheena dan Indra.


APA KATA MEREKA

Rendy | Mahasiswa Monash University jurusan Management and Finance

My favorite speaker is Arnold. Dia cerita dan bilang sendiri kalau dimulai dari bangun Koi di Sydney terus ikut Masterchef saja dia gak langsung keterima, dia ditolak sepuluh kali dan terus coba lagi. Untuk ke depannya, ISSA mungkin bisa ditambah segmennya, karena ini very limited.

Nadya | Mahasiswi Monash University jurusan Commerce

Aku terinspirasi sama yang twins ini. Mereka ada their own business, jadi mereka bisa pakai itu untuk kasih kita dan menginspirasi, dan aku kan orangnya jadi kepingin jadi content creator. Quote yang aku ingat adalah be active jangan jadi kupu-kupu (kuliah-pulang), dan kalau cari passion lihat dari hal yang kalau kamu kerjakan tidak dibayar kamu bakal oke saja.

Celine | Mahasiswi Monash University jurusan Marketing and Management

Yang aku ingat adalah dari Iman Usman. Pertama, kalau kita punya hope, kita harus give purpose and make changes to people dan ada fungsinya. Kedua, kalau kita mau dapat ide,  ide itu bisa datang dengan kita pikirin lama-lama, tapi ide itu juga bisa datang  langsung. Kayak tadi Iman Usman dapat ide karena main game Harry Potter, yang dikembangin ke hal yang dia suka, dimana itu dia connect it with education and I find it super duper impressive, dan dari situ kebuka sedikit kalau ide itu kita bisa ambil dari sekitar kita without we even knowing it. Untuk ke depan, semoga waktunya lebih banyak karena speakersnya bagus dan expert dalam bidang mereka masing-masing.

Adisa