Ratusan orang yang kompak mengenakan pakaian berwarna merah dan tangan bersikap Anjali (kedua telapak tangan rapat berbentuk kuncup di depan dada) menyambut tamu yang mulai berdatangan di salah satu auditorium Melbourne Convention and Exhibition Center. Bahkan beberapa orang berseragam merah tersebut sudah tampak di beberapa titik perhentian trem untuk memandu para umat. Mereka adalah para relawan perhimpunan Guan Yin CItta Dharma Door dari berbagai Negara yang turut menyukseskan acara tahunan, Master Lu’s Dharma Talk di Melbourne.

Master Lu memaparkan ajaran agama Buddha selama 1.5 jam di hadapan sekitar 4.000 hadirin

Tahun ini ribuan umat Buddha yang berasal dari sekitar 50 negara berkumpul pada 11 November lalu. Dari Indonesia ada 18 relawan yang ikut serta. Menurut Erna Wati, relawan yang rutin hadir, jumlah ini meningkat tiga kali lipat dibanding tahun lalu.

Auditorium di MCEC dipenuhi para hadirin yang ingin mendengar kata-kata bijak Master Lu

Jun Hong Lu atau yang kerap disapa Master Lu ialah guru spiritual yang mengajarkan ajaran agama Buddha dan tradisi budaya Chinese Zen kepada umat Buddha di seluruh dunia. Kharisma dan keterampilan Master Lu dalam memaparkan kebajikan (perbuatan baik) dan cinta kasih terhadap mahluk hidup menjadi magnet tersendiri bagi lebih dari 10 juta pengikutnya.

Master Lu menyapa para relawan yang datang dari berbagai negara

Acara ini diselenggarakan oleh Australia Oriental Media Buddhist Charity Association dan bekerjasama dengan Australian Chinese Buddhist Association (Melbourne). Kehadiran Master Lu siang itu disambut meriah oleh tepuk tangan hadirin dan relawan yang beramai-ramai mendekati bibir panggung dan menyodorkan beberapa ikat bunga. Di kursi penonton, para biksu dan biksuni turut duduk mendengar ceramah Master Lu.

Relawan yang selalu mengenakan seragam berwarna merah berkumpul di depan auditorium MCEC

Ini menjadi tahun ke-8 Master Lu hadir menjadi pembicara utama dibarengi dengan kesaksian atau testimoni beberapa pengikutnya, siang itu Master Lu berbicara mengenai perbuatan baik dan buruk dalam agama Buddha. Ia menekankan pentingnya menghargai apa yang telah kita punya, serta menjaga tali persaudaraan dengan keluarga, teman, pasangan dan guru. Selain itu, Ia juga menjelaskan arti mencintai mahluk hidup lewat pola hidup vegetarian yang dipercaya mampu mengurangi derita sesama mahluk hidup.

Biksu dan biksuni membagikan buku Master Lu secara gratis kepada pengunjung yang hadir

Dedikasi Master Lu dalam menyebarluaskan ajaran agama Buddha dan tradisi budaya Tiongkok sudah berjalan lebih dari 20 tahun. Dinobatkan sebagai “Ambassador for World Peace” pada tahun 2014 silam, Master Lu percaya bahwa perilaku baik dan pikiran baik mampu mengantarkan kita semua menjadi sosok yang sukses dalam kehidupan. Ia juga berharap semua manusia di dunia ini bisa hidup bermurah hati dan menyebarkan rasa cinta kasih kepada semua mahluk hidup tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain.

Hadirin tampak khusyuk mendengarkan ceramah Master Lu

Pada kesempatan yang sama, sepuluh hadirin yang beruntung juga mendapat kesempatan berinteraksi langsung dengan Master Lu. Lewat saran bijaksana yang sesuai dengan ajaran agama Buddha, guru agama yang telah menulis lebih dari 30 buku ini menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan, karier dan kesehatan yang dilontarkan hadirin.

 

 

Apa Kata Mereka

 

Erna Wati – Relawan asal Batam, Indonesia

Dulu saya merupakan orang yang keras kepala dan tidak ingin kalah sehingga saya mudah terpuruk dan depresi. Tetapi saat keajaiban Buddha yang mendatangkan sosok Master Lu dalam kehidupan saya empat tahun silam, saya sekarang menjadi lebih sabar dan mensyukuri kehidupan saat ini.

 

 

Indah – Relawan asal Jakarta, Indonesia

Pada saat saya menjadi relawan, saya merasa sangat bahagia bisa membantu Master Lu dan Guan Sin Yin Pu Sa dalam memaparkan ajaran agama. Karena saya sendiri sudah merasakan keajaiban sesudah menjalankannya. Saya berharap orang-orang juga bisa belajar mengenal ajaran ini.

 

 

 

 

Octa