Musik dan piknik adalah perpaduan yang asyik untuk menghabiskan musim panas. Itulah yang dilakukan Muhibah Angklung, kelompok musik independen dari Bandung, saat menyambangi Melbourne dalam rangkaian tur ke Australia. Selain Melbourne, mereka singgah pula ke Canberra, Brisbane dan Sydney.

Melbourne beruntung mendapatkan kesempatan menikmati pertunjukan angklung yang dimainkan oleh sekitar 40 pelajar SMA di Bandung

Bekerjasama dengan KJRI Melbourne dan Paguyuban Pasundan Victoria, 20 Januari lalu hadir acara “Picnic Concert with Muhibah Angklung”. Sejak pukul dua, para pengunjung mulai berdatangan dan menempati tikar-tikar yang sudah disediakan. Hari itu cuaca bersahabat dengan suhu sekitar 27 derajat celcius. Meski cukup berangin tapi sangat menyenangkan untuk bersantai di luar ruangan, mengingat dua hari berturut-turut sebelum acara ini berlangsung Melbourne dikepung hawa panas hingga 42 derajat celcius.

Tentu Anda masih ingat delapan tahun lalu UNESCO menetapkan alat musik angklung sebagai The Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. Tapi tak banyak yang tahu bahwa pengakuan tersebut bisa dicabut jika Indonesia tidak mampu melestarikan dan mengembangkannya. Hal ini dibeberkan oleh Dr. Maulana Syuhada selaku pimpinan Muhibah Angklung saat memberikan kata sambutan. Karena itulah salah satu usahanya bersama kelompok musiknya yang terdiri dari sekitar 40 pelajar SMA di Bandung adalah mendekatkan musik angklung ke lebih banyak orang, baik di negeri sendiri hingga ke luar negeri.

Angklung diperkenalkan sebagai musik yang cocok untuk mengiringi berbagai tarian daerah

Dibuktikan oleh kelompok ini bahwa alat musik angklung tak melulu bersanding dengan lagu-lagu tradisional dari tempat asalnya, yakni Jawa Barat. Muhibah Angklung berhasil memberikan atraksi menarik sejak lagu pertama. Mereka membawa penonton menuju Jakarta, Sumatera Utara, Bali, Papua, hingga Aceh lengkap dengan sajian tari daerah masing-masing. Para anggotanya pun lihai berganti peran, artinya mereka tak hanya piawai memainkan angklung tapi juga dituntut untuk lincah menari.

Setelah istirahat selama 15 menit, Muhibah Angklung memberi atraksi berbeda. Kali ini porsi bernuansa nusantara berganti dengan lagu-lagu internasional. Mereka berhasil memikat penonton dengan mengawinkan musik angklung dengan lagu milik Metallica, The Beatles, hingga ABBA. Tak ketinggalan kelompok yang berbasis di Jalan Sumatera, Bandung, ini juga memainkan Waltzing Matilda, lagu populer dari Australia. Di akhir acara mereka mengajak para penonton untuk turut berbaris dan menari.

Angklung diperkenalkan sebagai musik yang cocok untuk mengiringi berbagai tarian daerah

Semakin sore, para pengunjung makin banyak yang datang memadati halaman depan KJRI Melbourne. Acara berlangsung santai dan hangat. Namun terdengar beberapa masukan membangun, salah satunya adalah betapa sayangnya acara seasyik dan seinteraktif ini hanya dinikmati “terbatas” oleh pengunjung yang masih didominasi oleh masyarakat Indonesia yang tinggal di Australia. Diharapkan acara sarat budaya Indonesia ini bisa dinikmati oleh audiens yang lebih besar dan beragam. Mungkin memang harapan itu tidak sepenuhnya terjadi di Melbourne, namun Dr. Maulana Syuhada mengungkapkan bahwa di Brisbane mereka akan melakukan flash mob sambil memainkan angklung di Queen Street Mall. Sebuah usaha yang patut diapresiasi.

Sekali lagi, musik dan piknik bisa jadi perpaduan yang asyik untuk menghabiskan musim panas. Dan bolehlah kita tambahkan angklung di dalamnya agar musim panas di Melbourne kian semarak.

 

 

 

 

Apa Kata Mereka

 

Sam Shlansky

Untuk showcase budaya dua negara, menurut saya ini bagus sekali. Saya suka dan sangat menikmati. Ada angklung dengan musik dari Barat, ada juga tari-tarian dari seluruh Indonesia, menarik sekali. Saya  juga terlibat dalam program pertukaran budaya Indonesia – Australia, jadi saya harus banyak mempelajari tarian. Sore ini acara angklung ini manis sekali.

 

Lami Hopman (Ami Red)

Acara semacam ini bagus sekali, tapi alangkah baiknya jika dilakukan di tempat publik entah itu taman atau mall, atau di manapun. Soalnya Muhibah Angklung tadi juga sangat interaktif. Melibatkan penonton untuk ikut menari dan menyanyi, saya rasa orang Australia akan senang sekali melihat pertunjukan semacam ini. Sayangnya, yang datang masih lebih banyak orang Indonesia ketimbang masyarakat Australia.

 

Pia dan Kelinda Fitzpatrick

Saya pernah melihat pertunjukan angklung sebelumnya. Saya sendiri pernah ke Indonesia, tepatnya ke Yogyakarta dan belajar Bahasa Indonesia, tapi saya hanya bisa berbahasa sedikit sekali. Buat saya perpaduan antara lagu dan tari sangat bagus. Ini juga jadi pertama kalinya ibu saya menonton pertunjukan angklung dan sangat menikmati

 

 

 

Deste