Tak terasa tinggal 2 bulan lagi film yang dipersembahkan Place of Joy (PoJ) Melbourne berjudul ‘My Identity’ akan tayang di layar lebar RMIT Capitol, tepatnya pada tanggal 4 Oktober mendatang. Lewat edisi BUSET bulan ini, kami telah menyiapkan profil director dan main casts ‘My Identity’. Buat yang penasaran, yuk kita tengok siapa saja mereka itu.

Halo! Namaku Fenessa. Aku sudah hampir 5 tahun berjemaat di Place of Joy Church dan ini tahun terakhirku di Melbourne. Orang-orang di sekitarku mungkin mendeskripsikanku sebagai orang yang periang dalam setiap kondisi. Yeah, I’m a tough girl 😉
Aku selalu tertarik dalam dunia perfilman dan pada kali ini aku diberikan kesempatan untuk menjadi sutradara ‘My Identity’.

Sebagai director, hal apa yang paling berkesan selama proses syuting?

Bagiku setiap momen dalam proses syuting itu memorable. Kita selalu mengerjakan scene yang berbeda dengan anggota crew dan cast yang berbeda, jadi selalu ada hal berkesan yang baru. All these things are so new to me, but that’s what will remain with me forever!

Apa kendalanya?

Menurutku karena ini proses pembuatan film yang pertama bagi gereja kami, jumlah anggota yang familiar dengan dunia perfilman masih cukup minim. Oleh karena itu, dalam menyelesaikan masalah yang ada, kami lebih menggunakan trial and error method, yang memakan banyak waktu.

Selain menjadi director, Fen juga ialah salah satu penulis naskah ‘My Identity’. Apa yang menjadi bahan inspirasi saat menulis jalan cerita ini?

Sebenarnya cukup simple, kita ingin menulis suatu cerita yang bisa membuat pembaca/penontonnya merasa memiliki koneksi dengan cerita tersebut. Pengalaman hidupku sendiri dan orang-orang disekitarku lah yang menjadi bahan inspirasi dari cerita ini.

Apa yang diharapkan dari film ini?

Aku benar-benar berharap orang-orang yang menonton ‘My Identity’ ini dapat tersentuh hatinya dan mendapatkan hal baru dari film ini. And again, seperti yang sudah aku bilang, film ini dibuat cukup dekat dengan realita yang ada, oleh karena itu film ini bisa memberikan kita semua semangat untuk menghadapi masalah-masalah yang ada. Dan satu lagi yang paling penting, setelah film ini ditayangkan, kami semua anggota dari ‘My Identity’ dengan senang hati ingin membantu kalian yang memiliki masalah yang sama dan tersentuh hatinya oleh film ini. At last, I hope you guys enjoy the movie as we enjoyed making it J.

THE MAIN CASTS

Nama saya Nikita dan saya berperan sebagai Stephanie. Saya bersekolah di William Angliss Institute jurusan hospitality specialising in Patisserie.

Stephanie adalah karakter yang mempunyai masalah dengan orang tuanya, dimana sekeras apapun ia berusaha, orang tuanya tetap lebih membanggakan kakaknya, William.

Bagaimana ceritanya bisa memainkan salah seorang peran utama ‘My Identity’?

Sebenarnya pertama kali saya bergabung di projek ini bukan sebagai cast tapi sebagai production manager. Tapi berkat dukungan teman-teman, saya pada akhirnya mendapatkan role sebagai Stephanie. Saya memutuskan untuk bergabung di projek ini karena ingin menyempatkan sedikit waktu saya untuk pelayanan.

Hal apa yang paling berkesan bagimu?

Di saat kita semua, baik crews dan casts, bisa benar-benar tertawa bersama sebagai satu keluarga. Saya juga belajar banyak hal baru dan mendapat pengalaman di dunia perfilman. Dan juga menurut saya mukjizat Tuhan benar-benar terlihat jelas dalam proses pembuatan film ini.

3 Kata yang dapat mendeskripsikan ‘My Identity’:

Crazy. Joy. God.

 

Namaku Jocelyn Victoria, tapi biasa dipanggil Jo. Aku punya passion yang cukup besar di bidang seni, terutama musik. Dalam film ini, aku berperan sebagai Jessica.

Jessica adalah seseorang yang memiliki kemauan yang keras namun juga sangat caring buat orang-orang di sekitarnya, tapi karena dia menunjukkan karakter itu sedikit terlalu over makanya dia jadi kelihatan super-kepo dan kepala batu! Dalam cerita ini, Jessica juga mempunyai masalah dengan pelayanannya di gereja yang berakar dari kesombongan dan pride dalam hatinya.

Kalau kamu punya teman yang memiliki karakter seperti Jessica, bagaimana cara kamu membantu dia menyelesaikan masalahnya?

I would definitely be the William! Dalam cerita ini, William yang berkarakter sangat sabar tapi juga tegas selalu dapat memberikan semangat dan membantu Jessica menghadapi masalahnya dengan bijak. Just like how William helped Jessica in every circumstances, that’s what I would do to my friend. 

Apa yang jadi kendala terbesar selama proses syuting?

Waktu. Production schedule kita bener-bener packed karena waktu penayangan film ini yang dipercepat. Karena setiap harinya semua orang sudah punya kesibukan masing-masing; sekolah, kerja dan sebagainya, jadi setiap ada kesempatan kita bisa shoot sampai 13 jam bahkan lebih, which is definitely energy-draining for everyone involved.

3 Kata yang dapat mendeskripsikan ‘My Identity’:

Perseverance. Memorable. Blessing.

 

Namaku Vernanda Lupita. Aku berasal dari Surabaya. Kalau ditanya kelebihan, mungkin aku adalah orang yang cukup baik dalam membagi waktu bermain dan belajar. Peran yang aku dapatkan dalam film ini adalah sebagai Tasha.

Tasha merupakan gadis manja dari keluarga berada. Sebenarnya Tasha adalah gadis yang baik dan pintar bersosialisasi, tapi karena kurang perhatian dari orangtuanya, dia akhirnya berusaha mencari perhatian dengan cara yang negatif, salah satunya menggunakan narkoba.

Apa yang membuatmu mau menjadi bagian dari ‘My Identity’?

Awalnya sih ga mau karena takut ganggu kuliah dan free timeku. Tapi entah kenapa seperti ada yang mendorong untuk ikut dalam hati, terus aku pikir-pikir lagi, aku juga ga pernah terlibat pelayanan. Jadi ya sudah deh aku anggap menjadi Tasha dalam film ini sebagai pelayanan perdanaku.

Apa persamaan dan perbedaan antara diri kamu dan karakter Tasha?

Sama-sama suka bersosialisasi dan ga ansos. Perbedaannya, I’ll never try using drugs dan aku juga dapat perhatian lebih dari orang tua.

3 Kata yang dapat mendeskripsikan ‘My Identity’:

Awesome. Unforgettable. Likeable.

 

Nama saya Carlson Soemarsono, anak pertama dari tiga bersaudara. Saya berolahraga dalam waktu senggang. Pelayanan saya di gereja adalah sebagai singer. Pada film ini saya berperan sebagai William Saputra.

William itu semacem anak emas keluarga. Dia sempurna, baik di bidang akademis dan kepribadian serta di mata adiknya, Stephanie. Itulah yang membuat Stephanie iri terhadap William. Kendatipun, William mempunyai passion di bidang musik yang menjadi masalahnya bagi sang ayah – sebab beliau sudah mempunyai rencana lain bagi hidup William.

Hal apa saja yang menjadi kesulitan selama proses syuting?

Menjiwai karakter William yang cukup berkebalikan dengan saya sendiri. Saya kan cenderung cerewet dan suka bercanda, sedangkan pribadi William itu terlalu cool. Selain itu, proses syuting juga menyita cukup banyak waktu di tengah kesibukan kuliah.

Hal paling berkesan?

Setiap syuting menurut saya sangat berkesan karena ini benar-benar pengalaman baru bagi saya. Pemotretan untuk poster juga sangat berkesan karena itu merupakan photoshoot pertama saya.

3 Kata yang dapat mendeskripsikan ‘My Identity’:

Identity. Purpose. Driven.

 

Nama saya Calvin. Hobi saya adalah dancing. Orang-orang sekitar saya mungkin menganggap saya sebagai orang yang bisa menghidupkan suasana. Dalam kesempatan ini, saya mendapatkan peran sebagai Joseph. Ini merupakan pengalaman akting saya yang pertama.

Joseph itu orang yang pendiam dan tertutup. Dalam segala masalahnya, ia cenderung bisa menyelesaikannya sendiri. Pada dasarnya Joseph adalah orang yang baik namun lingkungannya lah yang menyeretnya berbuat buruk.

Apa ada kesamaan antara Joseph dengan kamu?

Sebenarnya banyak sih persamaannya, aku juga orang yang tertutup dan aku lebih senang menyelesaikan masalahku sendiri. Perbedaannya, ya mungkin aku ga separah dia haha.

Apa harapanmu terhadap film ini?

Harapanku simple aja sih, aku berharap orang-orang yang menonton film ini dapat terberkati. Mungkin film ini masih banyak limitations-nya tapi yang penting selama film ini bisa dipakai Tuhan sebagai alatnya, aku senang kok.

3 Kata yang dapat mendeskripsikan ‘My Identity’:

Only for Jesus.