Pemuda kelahiran 1987 ini memiliki segudang prestasi di dunia penelitian medis. Adalah Michael Cangkrama, anak bungsu dari pasangan Johanes dan Lina Tjangkrama, yang telah berhasil menyelesaikan PhD di bidang penyakit kulit dan kini tengah mempersiapkan Postdoctoral Research Fellow di ETH Zurich, Switzerland – universitas yang notabene salah satu alumninya adalah ilmuwan Albert Einstein.  

Kepada BUSET, Pemuda asal Tanjungpinang, Kepulauan Riau ini berbagi cerita mengenai perjalanan karir akademiknya.

 

Seperti apa sih Michael di masa kecil?

Saya dilahirkan di Tanjungpinang, kota kecil di Pulau Bintan, Propinsi Kepulauan Riau. Saya menyelesaikan studi saya sampai dengan SMA di kota ini sebelum pindah ke Melbourne di tahun 2005.

Di masa-masa sekolah saya ini saya suka menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan sastra dan kesenian daerah. Saya sering mengikuti pagelaran kesenian seperti acara lomba puisi, pantun dan juga pernah menjadi salah satu penari tradisional melayu dalam acara-acara kesenian tersebut.

Begitu juga, saya senang sekali mengikuti kegiatan organisasi yang dimana memberikan peluang untuk melatih jiwa kepemimpinan seperti OSIS dan pernah menjabat sebagai Ketua OSIS. Sampai saat ini pun juga, di tengah kesibukan saya menjalankan PhD saya, saya pernah menjabat sebagai Koordinator PDKKI (Persekutuan Doa Keluarga Katolik Indonesia) Melbourne selama 3 tahun periode. Dalam masa jabatan saya ini, saya 2 kali diundang oleh dua Paus yang berbeda (Pope Benedict XVI dan Pope Francis) untuk bertemu dengan mereka di Vatikan dalam rangka mendiskusikan topik kesejahteraan mahasiswa internasional di Australia.

Karena ketertarikan saya dan pengalaman saya di dalam kehidupan organisasi ini, saya juga dipercayakan untuk menjadi Ketua Komite Postgraduate Symposium AMREP (Alfred Medical Research and Education Precinct), sebuah pertemuan riset untuk para ilmuwan dari berbagai institusi, seperti BakerIDI, Burnet Institute dan juga Monash University.

 

Saat berkuliah di Melbourne Michael mengambil jurusan Biotechnology di RMIT, kenapa dan apa yang Michael dapatkan dari studi ini?

Program course RMIT untuk Biotechnology saat itu sangat menarik perhatian saya karena subjectsubjectnya banyak memberikan kesempatan kepada saya untuk mengenal kehidupan riset itu seperti apa.

 

Lulus S1, Michael kemudian melanjutkan studi Honours di Melbourne University sebelum akhirnya menempuh jenjang PhD. Apa yang menjadi latar belakang ketertarikan Michael terhadap pengembangan penyakit kulit?

Setelah saya menyelesaikan First Class Honours di University of Melbourne, saya mendapatkan tawaran untuk melanjutkan PhD di beberapa institusi dengan jenis projek yang berbeda-beda. Pada saat itu saya belum menentukan spesialisasi riset. Di antara tawaran PhD yang saya terima, salah satunya berasal dari Profesor Stephen Jane dari Monash University yang dimana beliau adalah salah satu pakar riset kulit yang terkenal di Australia. Berkali-kali beliau mendapatkan penghargaan internasional atas hasil risetnya. Hasil risetnya sendiri telah dipublikasikan di jurnal-jurnal tertinggi di bidang medikal biologi seperti Science, Cancer Cell dan Nature Medicine. Setelah berdiskusi dengan beliau tentang projek dan potensi riset ini, saya semakin tertarik untuk bekerja di bawah supervisi beliau.

Yang paling menarik dan membuat saya memilih projek PhD ini adalah bagaimana projek ini akan membuat gebrakan baru dalam dunia medis, khususnya dalam pengobatan penyakit kulit. Dan itu membuat saya semakin semangat untuk menjadi bagian dari projek ini dengan harapan apa yang dapat saya temukan nanti akan berdampak positif kepada masyarakat luas khususnya.

 

Bisa dijelaskan secara singkat mengenai penelitian Michael dan pencapaian apa yang sudah didapat?

Penelitian PhD saya yang utama adalah di bidang penyakit kulit. Penyakit kulit seperti eczema dan psoriasis adalah salah satu masalah medis yang sampai saat ini masih belum dapat diungkapkan secara pasti apa latar belakang genetics yang menyebabkannya. Informasi ini sangatlah kritikal untuk menemukan pengobatan yang lebih selektif dan efektif.

Hingga saat ini, pengobatan ini belum bisa mentarget langsung akar permasalahan dari penyakit-penyakit kulit ini. Penelitian saya ini berusaha untuk mengupas secara detail mekanisme genetik di balik penyakit-penyakit kulit ini, baik dari analisa DNA sampai dengan protein di dalam sel kulit.

Salah satu gene yang telah berhasil saya temukan dan berhubungan langsung dengan penyakit-penyakit kulit ini adalah Grainyhead-like (Grhl) gene. Bila gene ini tidak berfungsi dengan baik akan mengakibatkan pertumbuhan sel-sel kulit yang abnormal dan bisa menyebabkan berbagai komplikasi kulit termasuk kanker kulit.

Di sini saya menggunakan teknik-teknik biologi modern untuk membuktikan langsung mekanisme genetic yang mengakibatkan penyakit-penyakit kulit ini. Penelitian saya mendapatkan funding istimewa dari pemerintahan pusat Australia (NHMRC, National Health and Medical Research Council). Di tahun 2015 ini hasil riset dari PhD saya diseleksi kembali oleh NHMRC sebagai kandidat penerima funding di tahun 2016. Hasilnya akan diumumkan akhir tahun ini.

Funding berikutnya direncanakan untuk mengaplikasikan hasil riset yang telah saya peroleh dari PhD saya untuk pengobatan langsung para pasien yang menderita penyakit-penyakit kulit ini.

 

Berapa lama Michael menyelesaikan program PhD ini?

Program PhD ini berdurasi selama 3 tahun dan sudah selesai Maret 2015 kemarin.

 

Apa rencana karir akademis Michael selanjutnya? 

Saya akan melanjutkan riset saya sebagai Postdoctoral Research Fellow di ETH Zurich, Switzerland. Sedikit latar belakang mengenai ETH Zurich ini adalah salah satu universitas terbaik di Eropa; ranking 4 di Eropa dan ranking 3 di dunia dalam bidang engineering, science dan technology. Dan ilmuwan terkenal Albert Einstein merupakan salah satu alumni dari Universitas ini. Di ETH Zurich ini, saya akan bekerja di laboratorium Prof. Dr. Sabine Warner, dimana beliau adalah salah satu ilmuwan terkenal di dunia dan telah mempublikasikan kurang lebih 200 riset artikel penting di jurnal-jurnal internasional.

 

Apa saja penghargaan yang sudah berhasil Michael raih?

Di dalam masa saya menjalankan PhD, saya mendapatkan 3 beasiswa: Australian Postgraduate Award, Monash PhD Scholarship dan Faculty of Medicine International Postgraduate PhD Scholarship. Saya juga mendapatkan kesempatan diundang dalam beberapa konferensi baik nasional dan internasional untuk membicarakan hasil riset saya ini.

Beberapa penghargaan internasional pun diberikan kepada saya seperti Young Scientist Skin Research Travel Fellowship dari Singapore International Conference on Skin Research (Singapore) dan juga Travel Award dari Gordon Research Conference “Barrier Function of Mammalian Skin” di Boston, Amerika Serikat.

Penghargaan-penghargaan ini diberikan atas presentasi terbaik hasil riset PhD saya. Hasil-hasil riset saya juga telah dipublikasikan di jurnal-jurnal medis terkenal dan baru-baru ini hasil riset saya dinobatkan sebagai riset terbaik dalam annual 2014 Alfred Medical Research and Education Precinct (AMREP) Research Report.

Saya juga sering mengikuti kompetisi-kompetisi untuk mahasiswa PhD dan salah satu highlight saya adalah memenangkan Three Minutes Thesis Competition dimana saya harus secara tepat dan efektif mempresentasikan hasil riset saya kepada para juri dalam waktu 3 menit saja. Ini menjadi kebanggaan saya tersendiri karena walaupun Bahasa Inggris bukan merupakan bahasa utama saya, tetapi saya mampu mengungguli mahasiswa PhD lainnya yang fasih berbahasa Inggris.

 

Apakah semua ini sudah sesuai cita-cita Michael?

Pada saat saya kecil, saya berimpian untuk menjadi seorang guru. Dan mungkin ini akan menjadi kenyataan bagi saya, kalau saya memilih untuk ber-karier di bidang akademik nantinya.

Cita-cita saya juga untuk mendirikan sekolah di Indonesia, sekolah untuk mereka yang tidak mampu karena masalah keuangan. Karena menurut saya, pendidikan itu sangat penting bagi kita semua, bisa saja kita memberikan sejumlah uang kepada mereka yang memerlukan tetapi pada akhirnya uang tersebut bisa saja habis, tetapi kalau pendidikan dan bimbingan intelektual yang diberikan, ini akan menjadi sangat berharga untuk kehidupan mereka. Bukan hanya bisa digunakan untuk kepentingan pribadi tetapi juga untuk khalayak luas.

 

Bagaimana tanggapan orang tua dan keluarga Michael?

Keluarga saya, terutama kedua orang tua saya, tentu senang dengan apa yang telah saya raih selama ini. Walaupun mereka tidak mengerti secara detail apa yang telah saya lakukan karena keluarga saya sendiri tidak ada yang bekerja di bidang riset. Di saat saya membicarakan hasil dan rencana saya kepada mereka khususnya riset saya ini, kedua orang tuaku selalu mengatakan as long as you are happy, we are also happy for you. Mereka tentu saja akan memberikan dukungan mereka senantiasa dan saya sungguh bersyukur mempunyai kedua orang tua dan sebuah keluarga yang se-supportive ini.

 

Michael sempat mengatakan ingin tinggal di New York, apakah ini akan terlaksana?

Saya senang sekali dengan kesibukan dan semaraknya kota New York, tetapi karena saya akhirnya mendapatkan kesempatan bekerja di Switzerland. Harapan saya untuk bekerja dan tinggal di New York mungkin harus ditunda dulu.

Pindah ke sebuah negara baru dengan lingkungan baru tentu akan menjadi tantangan yang baru juga bagi saya. Di balik semua ini saya akan tetap menikmati dan mensyukuri kesempatan saya semaksimal mungkin untuk hidup dan bekerja di Switzerland.

Rencana saya setelah ke sana adalah untuk berkarya sebaik-baiknya dan menghasilkan riset yang bermanfaat dari projek yang akan saya jalankan di ETH Zurich yaitu riset dalam bidang kanker kulit. Kanker kulit menjadi fokus saya kali ini karena di Australia dan bahkan dunia sudah menjadi permasalahan yang kritikal dan di ETH Zurich ini menyediakan fasilitas riset yang lengkap dan terbaik di dunia untuk bidang ini.

Di sini saya juga akan mendapatkan kesempatan untuk berkolaborasi dengan pakar-pakar terkenal taraf internasional. Selain itu, saya pasti juga akan menikmati waktu-waktu luang untuk mengunjungi Switzerland yang terkenal dengan pegunungannya dan kota-kota Eropa lainnya.

vr
foto: dok. pribadi