Pria Borneo Ini Namanya Diperhitungkan di Australia

Crown International Holdings Group (Crown Group) adalah salah satu perusahaan properti terkemuka di Australia yang aktif dalam pengembangan dan investasi property khususnya di wilayah Sydney. Perusahaan ini didirikan pada 1996 oleh seorang arsitek berdarah Indonesia, Iwan Sunito bersama rekannya, Paul Sathio. Crown Group dianugerahkan Urban Development Institute of Australia (UDIA) NSW President’s Award yang merupakan penghargaan tertinggi dalam pengembangan properti di Australia untuk projek Top Ryde City Living.

Iwan Sunito lulus dengan gelar Bachelor of Architecture (Hons) dan Master of Construction of Management dari University of New South Wales (UNSW). Baru-baru ini juga ia mendapatkan beberapa penghargaan, termasuk Indonesia’s Property & Bank Magazine Golden Leadership Award 2013, Congress of Indonesian Diaspora Entrepreneur Award 2013 serta dinamakan sebagai pemenang 2013 Ernst & Young Entrepreneur of the Year Eastern Region Industry Category Award.

Perjalanan awal karir Iwan

Iwan Sunito lahir di Surabaya, Jawa Timur namun dibesarkan di kota kecil Pangkalan Bun yang terletak di Kalimantan Tengah, dimana kedua orangtuanya menjalankan bisnis bahan-bahan pembangunan gedung dan kayu. “Ayah saya dengan generous membayar saya dan kakak saya untuk meninggalkan Indonesia untuk mengejar kesempatan dan pendidikan di Sydney,” tutur Iwan mengingat kebaikan ayahnya.

Pada 1984, bersama sang kakak, Nisin Sunito, ia pindah ke Negeri Kangguru dan sejalan dengan itu, keinginan Iwan untuk mendalami bidang arsitektur juga turut berkembang. Selepas SMA, ia mendaftarkan diri di University of New South Wales dengan mengambil jurusan yang tak lain dan tak bukan, arsitektur. “Saya lulus dengan honors dan diberi penghargaan UNSW Eric Daniels untuk kemampuan saya dalam desain tempat tinggal. Setelah itu saya lanjut dan mendapatkan gelar Master dalam bidang arsitektur,” ujar pria yang kemudian terdaftar menjadi arsitek secara formal di negara bagian NSW.

Ketertarikan Iwan dengan seni arsitektur mendorongnya untuk mengeksplor pengembangan properti. Ia pun mulai mendesain rumah-rumah mewah di bagian utara Sydney sebelum membentuk Crown Group dengan partner-nya dalam berbisinis, Paul Sathio di tahun 1996. “Pengembangan properti adalah langkah berikutnya yang masuk akal, secara itu memberikan saya kebebasan dalam mendesain projek-projek dan memberi jalan untuk saya memberikan kontribusi kepada masyarakat lewat gedung-gedung rancangan saya.”

Menjalankan bisnis di Sydney

Iwan menjelaskan bahwa alasannya untuk menetap dan memulai bisnis di Sydney dan bukan tempat lain adalah karena dirinya mengemban pendidikan dan mendapatkan ijazah di kota yang sama, maka itu melanjutkan jalan karir di Sydney terasa alami untuknya. Sydney juga mempunyai potensial yang besar karena pasaran real estate dinilai sangat kuat.

Peran ibu kota New South Wales sebagai kota terpadat di Australia; destinasi nomor satu murid-murid Asia untuk mengejar pendidikan tinggi; serta meningkatnya jumlah para turis, menyebabkan angka populasi yang terus menanjak. Hal ini juga berkontribusi pada kurangnya pengadaan apartemen atau tempat tinggal di Sydney, prospek yang amat baik untuk perusahaan pengembangan properti.

“Kami sudah mempunyai kantor-kantor di Jakarta dan Surabaya. Baru-baru ini kami membuka kantor di Bali, juga sedang dalam tahap pembahasan dengan potential partners di Indonesia tentang pengembangan projek di Indonesia,” jelas Iwan saat ditanya apakah pernah berpikir untuk kembali ke negara asalnya.

Dari segi bisnis, lanjut suami dari Liana Sunito dan ayah dari tiga anak mereka, tidak banyak perbedaan dalam menjalankan perusahaan di Indonesia dan Australia. Akan tetapi karena kebudayaan kedua negara berbeda, hal ini mempengaruhi beberapa etika yang harus selalu dimengerti. “Orang Indonesia kadang mengalami kesulitan mendirikan bisnis di Australia karena mereka kurang bisa beradaptasi dengan budayanya. Padahal di Australia, hukumnya sangat jelas dan transparan, jadi lebih mudah untuk menjalankan bisnis. Bisnis kecil pun tidak akan rugi dalam segi hukum. Pemilikan tanah secara hukum sangat jelas di Australia, sedangkan di Indonesia hal itu seringkali menjadi isu,” ucapnya memberi contoh.

Sementara itu, kakak Iwan juga merupakan sosok yang diperhitungkan di dunia bisnis Australia. Nisin Sunito dikenal sebagai pemilik peternakan sapi seluas hampir 5 kali-nya Singapura. Peternakan ini merupakan divisi terbaru perusahaan milik Nisin, Oceanic Multitrading Pty. Ltd., yang juga bergerak di bidang ekspor impor kertas, bahan kimia dan investasi properti.

Awal pembangunan Crown Group

Iwan mengakui pada awalnya sulit mencari titik terang dari Crown Group dan mendapatkan orang-orang dengan kaliber yang tepat untuk perusahaannya. “Saya mulai dari rumah. Meningkatkan skill dan merekrut orang-orang yang cocok untuk perusahaan saya. Sampai pada tahun 1996, saya mendapatkan dana yang cukup untuk memulai pekerjaan pengembangan properti pertama kita di Bondi. Itulah awal dari Crown Group,” ujarnya.

Crown Group kini telah berkembang menjadi sebuah perusahaan efisien yang mengkorporasikan in-house design, konstruksi, development, finance, sales dan tim marketing. “Hal ini yang membuat kita bisa merespon dengan cepat dan tepat di dalam market tersebut.” Untuk perusahaannya itu, Iwan menerapkan Tiga P; Position, Position, Position pada projek-projek mereka. Pertama, posisi dari gedung itu sendiri harus bagus, dekat dengan sarana transportasi, tempat kerja dan fasilitas gedung tersebut harus cocok dengan lokasinya. Kedua, posisi perusahaan di pasaran properti di Australia harus selalu menarik, inilah mengapa Iwan bersama timnya meciptakan market mereka sendiri dengan membangun apartemen yang berbeda dari pengembang lainnya. “Crown Group mendapatkan reputasinya dari desain gedung dengan resort style untuk para pemilik gedung, itulah yang membuat kita berbeda,” jelasnya. Dan yang terakhir adalah posisi Crown Group dalam skala global, untuk selalu melihat dari gambaran besar serta up to date dengan bentuk desain di seluruh dunia.

Seiring dengan berkembangnya Crown Group, menurut Iwan, pengembangan ke Melbourne, Brisbane, dan Asia bisa dicapai. “Tujuan kita untuk Crown Group adalah menjalankan operasi secara global dan mengenalkan Crown Group secara global. Di tahun 2016 yang akan datang, Crown Group akan memulai dengan pengembangan hotel dan suite. Untuk sekarang, ada gap di market real estate Sydney untuk suite-suite mewah. Kita sudah punya tiga rancangan gedung untuk mengisi gap tersebut.”

Kembali ke komunitas

Selain berkiprah di bidang properti, Iwan Sunito pula memiliki hasrat untuk membantu dan memberi dorongan terhadap orang-orang yang mengalami kesulitan dalam hidup, termasuk karir ataupun hubungan keluarga mereka. “Awal dari passion ini adalah karena saya merasa di dalam hidup, saya sudah diberi anugerah untuk bisa berada di posisi saya sekarang. Saya mempunyai hati dan inspirasi untuk memberi perubahan dalam hidup orang yang mengalami kesusahan.” Hal tersebut lalu dijadikan inspirasi bagi pria berusia 48 tahun ini untuk mendirikan sebuah gereja di Sydney, sesuai kepercayaannya. Gereja tersebut diberi nama Sydney Christian Worship Centre (SCWC).

Selain kesibukannya sebagai CEO Crown Group, Iwan adalah pemimpin SCWC. Ia berkomitmen menyisihkan waktu dari satu minggu untuk memimpin gereja dan memastikan bahwa tidak ada acara atau janji lainnya yang akan mengganggu waktunya di gereja.

Saat ditanya bagaimana cara membagi waktu antara bisnis, gereja dan keluarga, Iwan menjawab, “menghabiskan waktu dengan keluarga sangatlah penting untuk saya, dan itu sesuatu yang saya sangat enjoy. Mencapai suatu keseimbangan dalam hidup sangat penting, dan walaupun beberapa orang melihat kegiatannya dengan keluarga mereka sebagai batasan untuk mereka, saya melihatnya sebagai tantangan untuk mengatur waktu lebih efektif di perkerjaan saya.”

Di kala senggang, Iwan suka berpetualang. Ketika sempat, ia tinggal di hotel yang paling bagus. “Disanalah saya mendapatkan inspirasi untuk desain-desain kami yang berikutnya. Saya juga sangat suka berada di dekat perairan, yang datang dari pengalaman saya tumbuh besar di dekat perairan saat di Borneo, Kalimantan,” kata pria yang juga secara aktif terlibat di beberapa projek penggalangan dana untuk memberi bantuan kepada komunitas di Australia, Indonesia dan lainnya.

Selain itu, Iwan juga kerap berperan sebagai pembicara di berbagai acara, dari yang berkapasitas pengunjung 100 hingga 20ribu orang. Alasannya sederhana, Iwan merasa berbagi pengalaman dan saling membantu adalah salah satu bagian penting bagi kehidupan manusia. “Saya menemukan reward di dalam kegiatan mentoring dan membantu pemuda pemudi di Sydney yang kurang beruntung.”

Iwan pun berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia, dimana meski berada di tanah rantauan, bukan berarti kita tidak dapat berkembang secara maksimal. Sebaliknya, justru kita harus selalu merasa tertantang untuk bisa muncul ke permukaan dan terus berjuang untuk selalu membawa perubahan yang berdampak positif. Dengan demikian, secara tidak langsung kita telah mengharumkan nama Bangsa Indonesia.

 

sasha
foto: disediakan