“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”
(HR Bukhari dan Muslim)

 

Kisah dan pengalaman para pengurus MY IFTAR selama Ramadan di Melbourne ternyata cukup menarik untuk disimak. Bagi seorang Jundi Mulia, penanggungjawab MY IFTAR, kesepian adalah hal pertama yang ia rasakan ketika pertama kali menjalankan puasa di tanah asing. “Tapi lebih challenging lagi bagi mereka yang masih berstatus mahasiswa. Seperti pengalaman saya dulu, menjadi seorang mahasiswa adalah tantangan tersendiri karena harus berhadapan dengan ujian yang bertepatan dengan shalat Ied. Pastinya ini tidak akan terjadi di Indonesia, yang biasanya kita akan mendapat 3 hingga 5 hari libur. Makanya, dengan adanya YIMSA dan MYSK ini menjadi salah satu pelepas rindu untuk bisa shalat Eid bareng, dan buka puasa bersama, dimanapun dan kapanpun,” ucap pemuda yang saat ini sudah bekerja di salah satu perusahaan di Melbourne.

Lain halnya dengan Farah yang mengatakan dengan berpuasa di Melbourne justru ia bisa memfokuskan dirinya dalam beribadah. “Di Melbourne memang suasana Ramadan sangat berbeda dengan di Indonesia, tapi saya merasa melaksanakan ibadah bisa lebih khidmat. Tidak terlalu terfokus kepada banyaknya acara buka puasa bersama sana-sini yang biasa ada di Indonesia,” seru mahasiswi Bachelor of Nursing dari Holmesglen Insititute itu. Walaupun demikian, Farah tidak mengelak bahwa tetap ada kerinduan terhadap keluarga saat merayakan Idul Fitri.

AJ yang pindah ke Melbourne bersama keluarganya sejak kecil justru memiliki cerita yang berbeda. AJ merasa tumbuh di Melbourne yang mayoritas penduduknya beragama nasrani tidak lantas membuat AJ kehilangan arah. “There are many instances where non-Muslims would be the people reminding me about prayer times as well as iftar time. Apart from that, when I used to work, it was my non-Muslim colleagues who encouraged me to take longer breaks so I can pray longer,” ucapnya bangga. Bagi AJ, inilah yang dapat memupuk toleransi dan rasa saling menghargai. “This is also the reason why I want to develop myself to show them that Muslims are not as bad as the media projects us to be and we are quite similar in many aspects except only our belief,” tambahnya lagi.

Setiap individu akan menilai dan memaknai Ramadan dengan versinya masing-masing. Seperti misalnya AJ yang berstatus mahasiswa, Ramadan tahun ini bertepatan dengan ujian akhir semester. “This year may be a quite difficult year for me to practice Ramadan. This is because it overlaps with my examination period, thereby, complicating deciding to study or learn more religion. InshAllah, this Ramadan will challenge me to push myself to sufficiently devote much of my time with religious obligations,”  tutur pria yang juga gemar mengajar ini.

Mujib pula mengalami hal yang sama. “Dari sini justru kita benar-benar sedang dilatih untuk menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Di satu sisi harus mengerjakan kewajiban kita, yakni belajar, dan menjaga ibadah Ramadan kita untuk terus bisa istiqamah dan melebihi ibadah-ibadah di bulan yang lainnya,” kata mahasiswa jurusan Akuntansi ini.

Hal menarik lainnya adalah musim dingin yang kian cepat menghampiri tak dipungkiri membuat manusia menjadi susah bangkit dari tempat tidur. Farah berbagi kisah menarik ketika dirinya bekerja part-time di pagi hari, mengharuskan ia untuk sahur on the road, atau sahur di jalan. “Benar-benar perjuangan sekali untuk bangun di pagi-pagi buta dan harus siap-siap berangkat kerja, and at the same time, harus mempersiapkan makanan sahur. Percayalah, itu tidak mudah.” ujarnya sambil tertawa kecil. Apalagi, di tempat kerjanya atau di kampus, banyak penduduk lokal belum terlalu memahami makna puasa dan bulan Ramadan. “Alhamdulillah, nanti kebiasa kok dalam menjelaskan,” cerita gadis yang sudah tinggal di Melbourne selama 7 tahun ini.

 

***

(dari atas, searah jarum jam): AJ, Melissa, Mujib, Farah, Jundi, Emily

Ramadhan yang datang setiap tahunnya tentu akan menyimpan begitu banyak kenangan. Namun, tidak ada yang tahu apakah tahun ini merupakan Ramadhan kita yang terakhir? Atau masih kah kita diberi kesempatan untuk menyelesaikan satu bulan penuh berpuasa? Semua itu memang rahasia Yang Maha Kuasa. Kendati demikian, setiap Ramadan yang datang, selalu ada sebuah harapan yang terselip.

“Saya sendiri berharap di bulan Ramadan ini untuk terus diberi kesempatan dalam menimba ilmu agama, supaya kaya ilmu, bisa semakin banyak hal untuk dibagi kepada orang-orang lainnya. Saya juga berharap tali silaturahmi antar sesama, dengan YIMSA, MYSK dan komunitas lainnya bisa diperkuat lagi. Dan tentu saja, saya berharap tahun ini, untuk semua mahasiswa yang sedang menghadapi ujian akhirnya, semoga sukses, dan kita bisa menyeimbangkan antara urusan dunia dan akhirat lebih baik lagi,” urai Mujib menjelaskan tentang harapannya untuk Ramadhan tahun ini.

For me, I hope this Ramadhan is to be able to excel in my religious obligations as well as my academic expectations, as this is my biggest challenge regarding Ramadan this year. I really want to be able to strengthen my Islamic knowledge and become closer to my beloved Muslims,” tuai AJ.

“Kita berharap bulan Ramadan ini bisa sehat terus, dan bisa menunaikan ibadah puasa dengan baik. Ditambah, semoga Ramadhan ini, semua dosa kita bisa diampuni oleh Allah, dan diberikan umur yang panjang untuk bisa menikmati indahnya bulan Ramadan di tahun-tahun yang akan datang,” tutur Farah dan Jundi.

We hope everyone in this Ramadan will shower with blessings and happiness, and hope that we still see each other again in next year’s Ramadan,” tutup Emily dan Melissa.

 

***

Selamat menunaikan ibadah puasa untuk semua pembaca setia Buset yang menjalankannya!

 

 

 

 

Alifia