Ruhut Sitompul kini dikenal sebagai politikus Partai Demokrat. Kontroversi selalu mewarnai sepak terjangnya di panggung politik di Senayan sebagai wakil rakyat. Awalnya, publik mengenal Ruhut di dunia seni peran, pengacara, hingga kini sebagai politikus.

 

Si Poltak

Nama Ruhut Sitompul pertama kali melejit saat memerankan tokoh Poltak pada serial “Gerhana” yang tayang di RCTI pada 1998-2003. Saat itu, dia menjelma sebagai sosok yang angkuh dengan logat Batak kental dan rambut kuncir. Sebutan ‘Poltak, Raja Minyak dari Tarutung’ sangat dikenal publik, bahkan hingga melebihi nama aslinya.

“Saya saat itu kaget juga mendapatkan peran itu. Namun, ternyata saya berhasil. Saya menjadi Poltak itu pada masa enam presiden. Yang pertama, saat Pak Harto (Presiden ke-2 RI Soeharto), kemudian lengser dan digantikan Pak Habibie (Presiden ke-3 RI BJ Habibie),” katanya kepada BUSET.

Dia melanjutkan, Presiden Abdurrahman Wahid, yang diangkat menggantikan Habibie, juga kerap menyaksikan sinetron itu bersama keluarganya. Kemudian, Megawati Soekarnoputri, menurutnya, juga tak ketinggalan untuk menyaksikan dirinya berakting di layar kaca.

“Bahkan, ketika Pak SBY (Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono) juga menyaksikan sinetron itu, karena banyak permintaan dari masyarakat hingga sinetron tersebut re-run (tayang ulang),” katanya bangga.

Pria kelahiran Medan, 24 Maret 1954 itu menyampaikan, tawaran untuk memerankan tokoh Poltak, berawal ketika dia menjadi pengacara salah satu rumah produksi (StarVision). Tertantang menjajal di dunia akting, dia pun menyanggupi untuk tampil sampai episode ke-13. Nyatanya, penampilan Ruhut digemari pemirsa, hingga berlanjut hingga sampai puluhan episode berikutnya.

“Saya bilang pada mereka (rumah produksi) bahwa saya tidak pernah bermain peran, tapi mereka malah bilang ‘Abang setiap kali sidang perannya sangat luar biasa, makanya kami anggap Abang pasti bisa’,” ceritanya sambil diiringi gelak tawa.

Sukses bermain sinetron, Ruhut juga dilirik Raja Dangdut Rhoma Irama, untuk bermain film layar lebar berjudul “Sajadah Ka’bah” pada 2011. Meski saat itu tercatat sebagai anggota DPR, dia masih dapat meluangkan waktunya untuk beradu peran dengan artis papan atas Tanah Air, sebut saja Rhoma Irama, Ida Iasha, Ridho Rhoma, pelawak Nurul Qomar dan lainnya.

“Padahal saat itu kan saya berseberangan dengan Bang Haji (Rhoma Irama), pada kasus Inul Daratista, karena saya membelanya sedangkan Bang Haji menolak Inul. Namun ternyata saat ketemu Bang Haji di pesawat, saya malah ditawari untuk main film bareng,” tuturnya.

Ruhut menyampaikan, pada film itu dia berperan antagonis sebagai Towi, seorang pengusaha yang berniat mengubah masjid menjadi tempat perjudian terbesar di Lombok. Dalam film itu, dia menjalani syuting selama dua pekan dengan berbagai adegan laga.

“Untuk scene pengambilan gambar peranku selama dua minggu. Aku digantung, naik gunung dan sebagainya untuk film itu. Kebetulan, saat itu Pak SBY sedang kunjungan ke Amerika Serikat, sehingga tidak tahu kutinggal main film hahahaa…,” bebernya dengan suara khasnya.

Ruhut menyampaikan, hingga saat ini masih banyak rumah produksi yang menginginkannya untuk kembali berakting. Akan tetapi tawaran-tawaran itu belum dapat dipenuhi karena fokus menjalankan peran sebagai wakil rakyat. Kendati demikian, anak kedua dari empat bersaudara ini masih merahasiakan judul film baru yang bakal dilakoninya dalam waktu dekat.

“Ada yang minta aku striping, tapi mana bisa aku penuhi karena waktunya tidak ada. Tapi ini ada rumah produksi terkenal (Sinemart) yang nawari untuk aku main film itu. Aku sudah dihubungi untuk dikasih skenarionya, tapi kubilang kalau aku lagi di luar kota. Mungkin akan kuambil, cuma ya itu tadi waktunya harus menyesuaikan,” paparnya.

Meski kerap memerankan tokoh antagonis, namun Ruhut yakin tetap disukai masyarakat. Bahkan, perilaku kontroversi yang kerap ditampilkan di gedung parlemen, kata dia, semata-mata bukan untuk kepentingan dirinya melainkan bagi masyarakat.

 

Kehidupan Politik

“Aku selalu mempunyai prinsip hidup aku itu mengalir. Jadi ya ikuti saja kata hati. Meski sering mengundang kontroversi, tapi semua memang terjadi (sesuai yang disampaikannya) kan. Contohnya, saat kubilang mendukung pilkada langsung, lalu Pak SBY waktu itu mengeluarkan perppu, dan sekarang Ical (ketua Umum partai Golkar Aburizal Bakrie) juga ikut mendukung,” katanya.

Selain itu, ayah dari Christian Husein Sitompul ini juga pernah mengundang kontroversi ketika mendukung pencalonan Joko Widodo (Jokowi) pada Pemilihan Presiden 2014. Padahal, Partai Demokrat yang menaunginya, memberikan dukungan ke pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

“Namun tetep, aku izin ke Pak SBY. Saat itu aku bilang, ‘Bapak bilang kita netral tapi jangan golput. Nah, teman-teman saya sudah memberikan dukungan ke Prabowo-Hatta, tapi kata hati saya ingin mendukung Jokowi’,” ulasnya.

Menurutnya, saat itu SBY merestuinya melakukan langkah berbeda dari kebijakan partai untuk mendukung Jokowi. “Pesan Pak SBY, boleh. Namun tidak boleh membuat gaduh. Nah, yang malah membuat gaduh adalah orang-orang di Demokrat yang suka jeruk makan jeruk,” ungkapnya.

Ucapan dan sikap Ruhut yang ceplas-ceplos juga kerap menjadi bulan-bulanan di media sosial. Apalagi, saat dia terlihat adu argumen dengan politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Gayus Lumbuun, di Gedung DPR, hingga mengeluarkan kata-kata kotor.

Sementara untuk karier politiknya, Ruhut mulai bergabung dengan Golkar pada 1983. Namun, kala itu kiprahnya belum begitu terlihat hingga hijrah ke Partai Demokrat pada 2004. Perpindahan Ruhut tersebut dinilai beberapa pihak akibat jabatan Ketua Umum Golkar yang tidak lagi dipegang Akbar Tanjung.

Di partai berlambang bintang mercy peran Ruhut mulai terlihat dan menempati posisi strategis. Bahkan, dia menjadi salah satu anggota Tim Sembilan yang bertugas membuat kriteria dan memilih pasangan tepat untuk mendampingi SBY dalam pilpres. Kemudian, berbekal popularitasnya, dia terpilih menjadi anggota DPR periode 2009-2014.

“Saat menjadi anggota Komisi III DPR, banyak mengira aku bakal diiincar KPK, karena sebagai preman pasti tergiur dengan uang APBN yang nilainya ribuan triliun rupiah. Namun, semua itu tak benar, aku lurus-lurus saja,” jelasnya.

Ruhut memang sosok yang kontroversi, termasuk dalam urusan rumah tangga. Dia terjerat kasus perselingkuhan hingga isu rasisme. Bahkan, dia sempat dikenakan sanksi dari Badan Kehormatan DPR karena dinilai melanggar kode etik dengan menelantarkan istri dan anak-anaknya.

Dia juga terlibat perseteruan dengan mantan Ketua Umum partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Puncaknya, dia dicopot dari posisinya sebagai Ketua Departemen Komunikasi dan Informatika Partai Demokrat (PD) pada Desember 2012. Mestinya, dia juga dilantik menjadi Ketua Komisi III DPR menggantikan rekannya Gede Pasek Suardika. Namun, dia batal dilantik karena banyak pro-kontra.

Kini, Ruhut kembali terpilih menjadi anggota DPR periode 2014-2019 dari daerah pemilihan Sumut I meliputi Medan, Deli Serdang, Tebing Tinggi. Meski banyak kontroversi, namun popularitas Ruhut masih tinggi dan mendapat dukungan dari daerah asalnya.

“Ini aku lagi reses, mulai masuk lagi (ke DPR) nanti 20 Januari 2015. Kemarin dari Kalimantan Timur, kemarinnya lagi dari Yogyakarta, sebagai narasumber seminar Hari Antikorupsi Sedunia, di UGM, diundang KPK,” pungkasnya.

 

Pengacara Kondang

Terlepas dari segala kontroversinya, Ruhut merupakan seorang pengacara yang memperoleh gelar sarjana hukum dari Universitas Padjadjaran (Unpad) pada 1979. Kariernya sebagai pengacara mulai meningkat saat menjadi penasihat hukum Akbar Tanjung (saat itu Ketua Umum Partai Golkar), yang tersandung kasus korupsi Badan Logistik (Bulog).

“Dulu aku preman pasar (ketua ormas kepemudaan), tapi oleh orangtuaku aku disekolahkan di Unpad hingga akhirnya menjadi sarjana,” terangnya.

Saat sebagai pengacara, Ruhut pun tak lepas dari kontroversi. Dia tercatat sebagai penasihat hukum sejumlah yayasan milik Presiden ke-2 RI Soeharto saat semua orang menghujat Orde Baru. Selain itu, dia juga kerap berseteru dengan pengacara kondang, Hotman Paris Hutapea.

 

tb