Besar dan bertumbuh sebagai seorang Indonesia, seniman tari, Eko Supriyanto kembali mempersembahkan karyanya. Setelah sukses dengan tarian Cry Jailolo dan Balabala, Eko lagi-lagi terinspirasi dari lautan membuat sebuah tarian solo dengan tajuk Salt.
Menampilkan tarian terbarunya tersebut pada 3 dan 4 November di Sylvia Staehli Theatre, Dancehouse, laki-laki yang lahir dan besar di keluarga dan lingkungan Jawa ini mengangkat kultur kebudayaan Indonesia Timur dalam beberapa tarian barunya, terutama Salt yang terinspirasi ketika Eko menjambangi wilayah Indonesia Timur.

Simak wawancara singkat Buset dengan Eko baru-baru ini.

Bagaimana cerita awal bisa masuk ke dunia tari?

Saya dari kecil dididik oleh kakek saya untuk nari, oleh orang tua saya, menari dan silat, dua-duanya. Lalu, SMA juga mulai ikut kegiatan tari. Sampai akhirnya, setelah lulus SMA saya yakin untuk melanjutkan ke STSI dulu, Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Solo, lulus dari STSI, dapat beasiswa kuliah ambil Master di Amerika Serikat. Master selesai langsung keterima di mengajar di ISI (Institut Seni Indonesia) Solo sampai sekarang. Terus, S3 saya selesaikan tahun 2015, sekarang lagi ngambil S3 satu lagi, penciptaan, ya, ngajar, dan terus berkarya saja sih motivasinya, selalu merasa bahwa Indonesia dengan 17.000 pulau, dengan materi tradisi yang sangat beragam, saya yakin bisa selalu menginspirasi dengan karya.

Mas Eko sekarang kesibukannya apa saja?

Aku terakhir ini mempersiapkan Salt. Complete trilogy dari Cry Jailolo, Balabala, yang Salt ini terakhir. Yang ini tunggal, saya tarikan sendiri, durasinya 55 menit. World premiere-nya di Belgia Oktober kemarin.

Kenapa pilih Indonesia Timur untuk Salt?

Saya dibesarkan dengan budaya petani, lalu saya besar dan lahir, dan juga berkembang, berkarya, berkarir, awal-awalnya di kultur penari Jawa. Saya merasa, saya tipe orang yang sangat suka untuk menjelajahi tantangan baru, saya tidak suka dengan hal-hal yang sifatnya monoton, saya selalu tidak mau merasa nyaman di zonanya saya, jadi saya selalu mencoba hal yang baru.

Nah, ketika saya ditawari oleh pak Bupati Halmahera Barat untuk berkarya di sana, ya saya terima, karena tantangannya saya belum pernah ke sana. Dan akhirnya, toh saya bisa berkarya di sana, walaupun memang sangat tidak mudah berkarya yang terinspirasi dari kultur yang memang kita belum tahu, belum kenal, kalau kita tidak betul-betul harus memang menyelam sedalam-dalamnya ke dalam kultur itu, baru kita akan tahu dan memang tidak bisa diakses secara instan. Kesuksesan Cry Jailolo dan Balabala ataupun Salt juga tidak semerta-merta hanya sekilas dan sebentar, dan saya juga butuh waktu paling tidak tiga sampai tujuh tahun. Tapi menarik, karena saya pikir, kenapa harus Jawa terus, kenapa harus Sumatera terus, kenapa harus Bali terus, kenapa harus Kalimantan terus, kan ada kultur yang lain di Nusantara, khususnya Indonesia Timur, ada Maluku, Maluku Utara, Halmahera Barat. Nah, Jailolo adalah tempat kecil yang sebetulnya banyak sekali mutiara di sana.

Darimana inspirasi dan apa inti dari tarian ini?

Inspirasinya dari dalam air, dari diving. Salt lebih ke pengalaman, lebih kayak ke autobiografi saya sebetulnya. Dari saya lahir, dikenalkan dengan tubuh tari, tubuh seni. Kemudian saya belajar tari Jawa, tari Magelang, tari-tari kuda lumping, terus ya belajar secara akademis. Dan akhirnya saya ke Indonesia Timur untuk menemukan bentuk-bentuk tari baru, dengan Halmahera dan Jailolo, itu sih. Lebih ke perjalanan refleksi perjalanan hidup saya dalam dunia tari, refleksi dari Jailolo, refleksi masa kecil saya dengan tubuh-tubuh tari.

Saya dikenalkan dengan diving (menyelam) ketika saya di Jailolo. Ketika sama teman-teman di Jailolo sama pak Bupati juga dipaksa untuk diving. Sekarang saya jadi penyelam profesional. Karya Salt ini sangat berkaitan dengan experiencing of diving, karena memang ketika akhirnya saya masuk ke dunia maritim, kultur maritim dari kultur petani, saya merasa saya harus menyelam dulu kedalam kultur yang saya ingin hadapi dan ingin saya pelajari, dan ingin saya teruskan untuk mengangkat dan memahami potensi-potensinya, termasuk pemahaman tentang potensi underwater-nya, kerusakannya, dan saya sebagai penari, objek atau subjek yang saya gunakan selalu tubuh. Nah, kalau refleksi tubuh saya ketika menyelam juga harus saya alami, sehingga saya juga merasakan anti grativasi, merasakan hal yang sifatnya sangat berkaitan dengan menyelam, tetapi berkaitan dengan tubuh, karena memang saya bekerja dengan tubuh, dengan tari saya, seperti saya bilang dari awal, ketika seandainya dulu belajar tubuh-tubuh tari petani, tubuh-tubuh tari Jawa, sekarang saya belajar tubuh-tubuh tarian perang, saya belajar tubuh-tubuh dengan anti gravitasi dengan menyelam. Nah, refleksi ini yang sebetulnya sangat akan terlihat dalam refleksi ketubuhan dalam karya tari Salt ini.

Apa pesan yang ingin disampaikan melalui Salt?

Saya ingin menjelaskan perjalanan tubuh tari saya, supaya orang-orang sadar bahwa sebetulnya tubuh-tubuh tari Indonesia itu sangat beragam, tidak hanya satu yang berkembang saja. Misalkan di Jawa atau di Bali atau di Sumatera atau di Kalimantan gitu. Dan tubuh-tubuh tari Indonesia itu sangat kompleks dengan tradisinya, yang tradisi itu akan terus-menerus dilanjutkan oleh para senimannya, itu maksud saya. Ya, sehingga ketika tubuh tari Indonesia ini bertemu dengan tubuh-tubuh tari lainnya, akan memberikan satu nuansa pengertian atau pengetahuan yang bisa didiskusikan bareng-bareng untuk dipahami perbedaannya. Karya Salt ini memang agak sedikit rumit karena tidak naratif, tetapi sangat personal. Beda dengan Cry Jailolo, beda dengan Balabala.

Bagaimana pendapat Mas Eko mengenai laut Indonesia?

Wah, ya, sampah ya paling parah, tuh! Kalau yang paling simpel terumbu karang. Mungkin dari jaman dulu sudah banyak yang dirusak oleh pendahulu-pendahulu kita, karena pengeboman dan pencarian ikan yang besar, tetapi sekarang sudah mulai sadar bahwa kita harus menjaga kehidupan terumbu karang untuk lebih baik lagi. Saya yakin bila terus digiatkan masyarakat semakin sadar sebetulnya.
Tapi yang paling parah masih masalah sampah, masalah plastik yang masih sangat harus ditekankan supaya masyarakat kita sadar bahwa plastik dan sampah sangat tidak layak untuk ada di laut

Apakah ada komponen tentang masalah ini dalam tarian Mas Eko?

Kalau tersirat dalam visualnya enggak ada, tapi dalam statement koreografi yang saya bikin, ada di situ. Saya jelaskan juga bahwa ini sumbernya dari situ, ketertarikan saya, kekhawatiran saya dengan sampah, ada di situ.

Kenapa Mas Eko lebih sering tampil di luar negeri daripada di Indonesia?

Karena yang mendukung saya, yang memberikan dana, dari luar Indonesia. Pemerintah kita belum concern, belum nyoba untuk membantu seniman-seniman Indonesia untuk berkarya di dalam negeri. Sekarang foundation saya dapat bantuan dari luar semua.

Di Indonesia masih punya perasaan kayak merasa nggak perlu menampilkan karya-karya saya. Dan kalaupun iya, mereka selalu terlambat daripada beberapa teman-teman dari luar yang sudah berkomitmen dari awal.

Dan terus terang saja, pemerintah kita memang sangat tidak mengakui, merespon, mengapresiasi, maupun hadir untuk mendukung seniman Indonesia. Mungkin dalam konteks Europalia ini iya, mereka sekarang hadir dan membawa seniman-seniman Indonesia ke Belgia untuk ke Europalia, tapi toh juga pada prinsipnya kalau kita nggak tahu detailnya, seniman-seniman di Indonesia, termasuk saya, itu sangat-sangat dianak-tirikan.

Banyak biaya produksi saya yang dipangkas, semuanya dipangkas, semuanya dipertanyakan. Kalau di luar kasih duit, percaya sama senimannya, nggak ada intervensi, nggak ada mencurigai, nggak ada juga mempertanyakan, percaya saja, dan karya Cry Jailolo, Balabala, maupun Salt ini semuanya co-productionnya dari luar, dari Belgia, dari Eropa, Nah, ini makanya pertanyaannya jadi terbalik, ditegaskan lagi, kenapa ya kok selalu tampil di luar, nggak di Indonesia dulu? Indonesia peduli nggak dengan senimannya? Posisi saya sekarang berani ngomong karena saya sudah melakukan banyak sejak tahun 90an awal, dan sama sekali dari situ pun saya tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah.
Adbm
Foto: David Fajar