Di suatu hari yang cerah diriku bertemu dengan Sam.

Gw:          “Halo Sam apa kabar?”
Sam:         “Baik-baik saja, Bang Enos.”
Gw:          “Gw mau tanya, itu apa yang lagi lu mainin?”
Sam:
“Nah ini yang namanya Sape. Ini alat musik tradisional dari Kalimantan. Sape ini alat musik suku Dayak, juga dikenal sebagai Orang Ulu di Kalimantan. Sape sering digunakan untuk menemani tarian daerah dan dapat dimainkan sendiri atau berbarengan dengan alat musik tradisional Kalimantan lainnya.

Biasanya bentuk dan motif Sape itu menarik lho. Kepala Sape bisa diukir mirip burung hantu, burung kakaktua, atau hewan lainnya. Umumnya dibuat dari kayu gelondong utuh yang diukir, sape ini rata-rata masih dibuat berdasarkan pesanan oleh para pengrajin. Sape yang gue pegang ini kepalanya bermotif burung hantu.

Sekalipun tidak mengikuti tuning standard, susunan nada pada sape tradisional umumnya mengikuti tangga nada pentatonik. Namun seiring perkembangannya, sape dengan tangga nada pentatonic dan kromatik juga dapat ditemui atau dipesan sekarang ini. Sape modern yang memiliki pickup layaknya gitar listrik pun sudah umum ditemui sekarang ini. Cengkok atau aksen pada melodi sape sangat unik dan mendayu.”

Gw:          “Wah lengkap sekali penjelasannya! Hahaha…Lu tau dari mana aja sih?”
Sam:
“Nah jadi ceritanya awal tahun kemarin gue pernah datang ke Kota Ketapang di Kalimantan Barat, untuk mengunjungi si Will (William Zhou), Ketua ICCA yang sekarang itu lhooo (promosi). Dari dulu nih si Will sudah cerita-cerita soal alat musik tradisional Ketapang yang namanya Sape ini.

Nah sekalian jalan-jalan, sekalianlah kita mengunjungi beberapa pengrajin Sape yang ada di Ketapang, dan ternyata jumlah pengrajinnya lumayan banyak. Beberapa masih dibuat dengan bentuk tradisional dengan ukiran-ukiran rumit, namun beberapa sudah mulai lebih modern. Yang diukir harganya bisa mencapai 2 hingga 2,5 juta, sedangkan yang dilukis harganya 1 hingga 2 juta. Ukurannya pun bermacam-macam.

Sekalipun Sape ini biasanya dibuat berdasarkan pesanan, namun jangka waktu pengerjaannya relatif singkat, yaitu hanya beberapa minggu saja. Biasanya si pengrajin sape harus masuk ke hutan dulu untuk mengumpulkan kayu-kayu yang akan dibuat menjadi Sape. Nanti kalian bisa memesan bentuk dan motifnya, dan dengan sedikit tambahan harga, kalian juga bisa memesan sape listrik. Bisa colok ke ampli, lho.

Kami kebetulan di sana bertemu dengan seorang pengrajin Sape bernama Bang I’id. Kami pesan sape dari dia. Ternyata, sape ini cukup tenar lho. Bang I’id ini juga sering mendapat pesanan Sape dari manca negara.”

Gw:          “Wah asyik juga yahh…hahaha. Makasih bro buat ngobrol-ngobrolnya!”

Itulah tadi obrolan singkat bermanfaat sama Samuel Jeruel, Presiden ICCA 2014. Sampai ketemu lagi teman-teman!

 

 

Enos
11 ICCA - Logo copy