Mendengar dentingan alat musik yang satu ini memang agak berbeda dari alat musik bersenar yang biasa kita dengar, membuat kita terpana sebentar, lalu semakin terpana lagi dengan bentuknya yang unik. Mari kita simak obrolan saya dengan beberapa teman yang ‘pernah’ atau ‘sedang’ berhubungan dengan alat musik yang sangat unik ini, Sasando.

 

IPANK LAY

BUSET ICCA - Ipank

 

Sasando itu apa sih? Asalnya dari mana?

Sasando adalah alat musik berdawai yang dimainkan dengan cara memetik.

Sasando merupakan alat musik tradisional dari kebudayaan Rote, Nusa Tenggara Timur. Konon sasando digunakan di kalangan masyarakat rote sejak abad ke-7. Ada beberapa versi ceritra rakyat tentang awal mulanya sasandu/sasando. Cerita ini bermula dari terdamparnya seorang pemuda bernama Sangguana di pulau Ndana yang kemudian dibawa oleh penduduk sekitar ke hadapan raja Takalaa, hal ini yang mempertemukan Sangguana dengan putri raja.

Selama tinggal di istana inilah bakat seni yang dimiliki Sangguana segera diketahui banyak orang  hingga sang putri pun terpikat. Sangguana pun jatuh cinta pada sang putri, namun raja mempunyai syarat untuk menerima Sangguana. Sangguana diminta raja untuk membuat alat musik yang lain dari yang lain.

Dalam mimpinya, Sangguana memainkan alat musik yang indah bentuknya serta merdu suaranya. Hal ini yang mengilhami Sangguana untuk membuat alat musik seperti yang diinginkan sang raja. Alat musik itu diberi nama sasandu. Kemudian sasandu tersebut diberikan kepada putri raja dan putri raja memberi nama Hitu (tujuh) makna dari pemberian nama tersebut karena 7 (tujuh) dawai sasando bergetar bersamaan saat dipetik. Karena keinginan raja terpenuhi,  Sangguana berhasil mempersunting putri raja.  

Ada berapa banyak jenis sasando?

Jenis-jenis sasando dibedakan dari jumlah senarnya.

* Sasando Engkel (28 dawai),

* Sasando Dobel (56 dawai, 84 dawai)

* Sasando Gong atau Sasando Haik (7 dawai, 11 dawai)

* Sasando biola (30 dawai, 32 dawai, 36 dawai)

Karena itu, bunyi sasando sangat bervariasi.

Kapan sasando biasa dimainkan?

Dalam masyarakat Rote sendiri, sasando sering dimainkan untuk mengiringi tarian, lagu, syair dan acara hiburan lainnya. Seiring dengan berjalannya waktu, sasando sekarang sering sekali dimainkan di acara-acara formal, misalnya penyambutan tamu penting. Bahkan di acara resepsi pernikahan sekalipun.

Bagaimana cara pembuatannya?

Bahan dasar untuk membuat sasando adalah kayu, paku penyangga, senar string, daun lontar dan bambu.

  1. Bambu dipotong sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan. Kemudian dua ujung bambu ditutup dengan kayu jati sehingga menghasilkan rongga di bagian dalam.
  2. Agar menarik, ruas bambu dilukis secara manual dengan spidol warna yang tahan air, lalu disemprotkan dengan pernis agar awet dan tidak luntur.
  3. Bentuklah daun lontar menjadi setengah lingkar. Sebagai tali pengikat untuk menyatukan lembaran daun lontar yang satu dengan lain, gunakan lidi daun lontar yan diiris tipis. Lalu dibiarkan 4 hari hingga mengering dan keras.
  4. Setelah kering, gabungkan rangkaian daun lntar itu dengan tabung bambu yang sudah dipasangi senar.

(sumber: internet)

Sasando dapat dibeli dimana dan berapa kisaran harganya?

Yang pasti tersedia banyak di Pulau Rote dan di Kota Kupang (NTT). Salah satu yang saya rekomendasikan adalah  “EDON SASANDO”. Harganya bervariasi. Untuk lebih lengkapnya bisa kunjungi link ini:

https://edonsasando.wordpress.com/

Ipank sendiri pernah main dimana saja?

Dengan sangat bangga saya pernah diajak main di acara “From dawn to dusk 2“. Selain itu, main di rumah saja hehehe.

Nah kalau kemarin yang di acara “Celebration of Indonesia”, ada juga yang main sasando namanya Bernard atau akrab dipanggil Beben, juga ada Rehany Mooy sementara ini berdomisili di Adelaide.

Apa latar belakang Ipank sebagai musisi?

Dulu saya belajar musik sejak usia 5 tahun, karena disuruh oleh orang tua saya. Kebetulan seluruh anggota keluarga bisa main musik. Saya mulai dengan instrumen piano, kemudian 5 tahun kemudian belajar drum, baru akhirnya belajar gitar yang terakhir. Saya sangat beruntung bisa berkesempatan kuliah musik di MI (Musicians Institute), Hollywood, AS setelah tamat SMA. Akhirnya saya bermusik terus hingga sekarang. Untuk musik, saat ini saya lebih banyak berada di bidang arranging dan juga music education.

 

Bernard
BUSET ICCA - Bernard

Apa dan bagaimana pengalaman main sasando?

Kesan pertama adalah sulit, sangat menantang. Karena saya belum pernah belajar bermain sasando sebelumnya. Satu-satunya instrumen bersenar yang saya bisa adalah gitar dan bass. Jadi cukup sulit waktu belajar main sasando. Perlu penyesuaian beberapa waktu, apalagi bentuk senarnya melingkar, sehingga di beberapa bagian tidak bisa terlihat. Beda sekali dengan gitar. Kalau gitar tangan kanan memetik, dan tangan kiri memegang / menekan fret/senar, namun kalau ini dua tangan akan ikut memetik. Jadi sungguh tidak biasa bagi saya. Sungguh menantang.

Apa perlu kita belajar sasando atau alat musik tradisional lainnya?

Perlu atau tidaknya kembali kepada kebutuhan. Tapi menurut saya kita perlu bisa instrumen tradisional.

Alasannya apa?

Alasannya adalah budaya tentunya. Apalagi jika tinggal di negara asing. Benar-benar bisa menampilkan budaya Indonesia dengan instrumen tradisional, meskipun dengan aransemen modern sekalipun.

Budaya kita sangat kaya, jadi sangat perlu ditampilkan terus. Kalau orang asing saja mau belajar budaya kita, masa kita tidak mau sih.

Apa kesannya sewaktu bermain sasando?

Ya seperti tadi, challenging banget, but excited. Pada saat bisa memainkan melodi sederhana pun, bunyinya sangat bagus. Sangat beda dengan instrumen modern. Saya rasa saya beruntung bisa berkesempatan untuk memainkan sasando.

 

Rehany Mooy
BUSET ICCA - Rehany

Sejak kapan dan bagaimana belajar main sasando?

Saya mengenal dan belajar sasando sejak tahun 2008, sebulan sebelum saya berangkat ke Adelaide. Saya belajar secara private dengan guru musik asal Pulau Rote, Lewi Pingga. Hampir tiap hari saya berlatih dan akhirnya beberapa lagu telah saya kuasai walau belum sempurna waktu itu. Waktu yang singkat itu saya pergunakan sebaik-baiknya sebelum berangkat ke Australia.

Apa saja dan bagaimana pengalaman main (perform) sasando? 

Pengalaman pertama saya yaitu bermain di gereja Bethel International Church (Adelaide). Ketika saya berlibur ke Kupang, September 2015 yang lalu, saya diajak untuk bermain duet bersama guru saya, Pdt. Lewi Pingga, di salah satu gereja di Kupang. Kami membawakan lagu Joy to The World, dan mengiringi jemaat untuk bernyanyi. Pengalaman yang sangat berkesan karena pertama kalinya duet dengan guru saya di hadapan lebih dari 70an jemaat.

Pada bulan November yang lalu, saya bermain sasando pada perayaan Natal 2015, gereja Bethel International Church. Saya membawakan “Joy to the world”.

Apa perlu kita belajar sasando atau alat musik tradisional lainnya? Dan apa alasannya?

Menurut pendapat saya, generasi muda haruslah melestarikan budaya daerah mereka sedari dini. Pengenalan dan pengetahuan tentang alat musik tradisional adalah ciri bangsa Indonesia yang harus kita banggakan. Saya memilih Sasando karena saya bangga sebagai anak yang berasal dari Pulau Rote dan sasando adalah alat musik yang unik. Yang saya percaya hanya satu-satunya alat musik yang mempunyai 32 dawai dalam bentuk silinder (sasando biola). Dengan memperkenalkan alat musik tradisional asal daerah kita, kita dapat menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia sangat kaya akan tradisii yang indah dan unik.

Apa kesannya sewaktu bermain sasando?

Sasando biola kepunyaan saya adalah jenis elektrik yang sangat sensitif dengan perubahan cuaca, sehingga sangatlah rentan berubah nadanya, apalagi ketika saya hendak bermain dalam suatu acara.

Dalam memainkan sasando, hal yang sangat menarik adalah 10 jari kita dapat memetik dawai sasando. Lima jari sebelah kiri memainkan melodi sedangkan lima jari sebelah kanan bertugas sebagai pengiring (chord).

Sasando dapat dibeli dimana dan berapa kisaran harganya?

Sasando elektrik maupun akustik yang saya punya adalah hasil buatan tangan Bapak Edon. Beliau membuatnya sendiri dan kita dapat membelinya di Sanggar Sasando Edon di Kupang.

Demikian ngobrol-ngobrol kita kali ini, terima kasih dan sampai ketemu lagi teman-teman!

 

 

Salam kreatif,
Enos
Indonesian Creative Community of Australia