Peran seorang Ibu Kartini memang tidak ada habisnya bagi masyarakat Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya acara untuk memperingati Hari Kartini. Kali ini giliran organisasi Perwira yang mempersembahkan acara sebagai peringatan Hari Kartini melalui The Indonesian Satay Festival 2019. Dengan lokasi di Box Hill Town Hall, teman-teman Perwira berhasil menarik perhatian banyak pengunjung, terutama pecinta kuliner dan budaya Indonesia baik dari masyarakat Indonesia sendiri maupun negara lain. Menurut Nika Suwarsih dan Santi Whiteside selaku pelaksana dan koordinator, setiap tahun, semakin dapat terlihat bahwa Satay Festival adalah acara multikultur yang begitu kental dikarenakan banyaknya non-Indonesia yang hadir. Walaupun pengunjung sudah campur antara Indonesia dan non-Indonesia, Nika yang juga menjabat sebagai Presiden Perwira berharap Satay Festival mampu menjadi ajang perkenalan budaya Indonesia kepada masyarakat yang lebih luas.

(dari kiri): Tsebin Chen (VMC – Victorian Multicultural Commission), Bill Bennett (Mayor of Whitehouse), Spica Tutuhatunewa (Konsul Jendral RI untuk Victoria dan Tasmania), Santi Whiteside dan Nika Suwarsih (Perwira)

Lalu, apa yang membuat Satay Festival ini berbeda dengan festival kuliner lain?

Dari namanya, Satay Festival merupakan festival kuliner yang mengharuskan semua tenantnya untuk menjual sate. Begitu banyak macam sate dan cara pengolahan bumbu sehingga dapat disimbolkan sebagai keragaman Nusantara kita. Walaupun demikian, semua pengunjung dimanjakan dengan beragam kuliner yang tidak terbatas hanya sate tetapi mulai dari jajanan pasar dan kue-kue khas Indonesia hingga makanan seperti nasi padang, ayam bakar, batagor, bakwan malang, bakso dan masih banyak lainnya.

Peminat batik berkesempatan mendapatkan koleksi terbaru

Tidak hanya makanan, masyarakat yang datang juga bisa kembali melengkapi isi lemari baju dan aksesoris khas Indonesia seperti baju batik yang tersedia tepat didekat pintu masuk acara Satay Festival. Semua ini bisa kita nikmati dari pukul 11 pagi hingga 5 sore.

Satay Festival yang sudah berusia 32 tahun ini tak lepas dari dukungan teman-teman dari berbagai komunitas, termasuk yang mempersembahkan tarian tradisional adalah Mahindra Bali, Sanggar Widya Luvtari, Bonapasogit, Sanggar Sang penari Maria Leeds, Baitul Ma’mur Dance dan Kawanua Dance.

Kulinari khas Tanah Air menjadi obat pelepas rindu

Adapula permainan alat musik angklung dari Dharma Wanita Persatuan KJRI Melbourne serta alunan musik dan lagu Jawa dari OJWM, dan masih banyak hiburan lain yang ditampilkan. Uniknya, sebuah acara yang mengharuskan pengunjungnya untuk membayar tiket masuk, tetap ramai dikunjungi di usianya yang sudah lebih dari tiga dekade.

Selain memperingati Hari Kartini, Perwira melalui The Satay Festival 2019 secara khusus mengundang Mental Health Victoria dan Santi Whiteside – Ambassador untuk Indonesia – untuk melakukan pelatihan dan menyebarkan informasi mengenai kesehatan mental.

Sambil makan, pengunjung pun dihibur dengan sederet pertunjukan tradisional


Apa Kata Mereka

Atik Wickes
(kanan)

Menurut saya Satay Festival acara yang bagus. Di sini terlihat orang Indonesia dan non-Indonesia yang datang untuk menikmati makanan Indonesia. Walaupun banyak restoran Indonesia, tetapi acara seperti ini sekaligus bisa kumpul dengan teman-teman sekaligus nostalgia melalui musik dan tarian yang dibawakan oleh teman-teman komunitas yang jarang kita lihat di hari biasa. Saya di sini sudah sekitar 20 tahun dan hampir setiap tahunnya saya datang.

Mujiati Wheeler
(kiri)

Saya senang dengan adanya cara seperti iini. Walaupun kita tinggal di Australia, kita bisa menikmati makanan yang lezat. Setiap hari selalu bekerja, sehingga kesempatan menikmati acara seperti ini sangat jarang.

Devina