Selama sepuluh tahun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah memimpin Indonesia. Setelah dua kali masa jabatannya, Juli ini Indonesia akan menjalani Pemilihan Umum Presiden (pilpres) untuk memilih calon pemimpin baru yang diharapkan bisa lebih memperbaiki nasib Bangsa Indonesia.

Seperti yang diketahui, pilpres diadakan secara nasional serentak pada 9 Juli 2014 mendatang. Namun seperti pemilu legislatif yang lalu, pilpres untuk wilayah luar negeri akan dilaksanakan 4 hari sebelumnya yakni pada 5 Juli 2014 di Konsulat Jenderal RI, 72 Queens Road Melbourne.

Pilpres 2014 mempertemukan pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) Prabowo Subianto – Hatta Rajasa dan Joko Widodo – Jusuf Kalla. Keberadaan kedua pasangan tersebut menggambarkan dinamika politik Indonesia yang sangat beragam.

Memilih capres dan cawapres bukanlah hal yang mudah karena keputusan tersebut akan mempengaruhi kemajuan Indonesia paling tidak untuk lima tahun kedepan. Bagi M Rangga Wiranatakusumah, Ulya Jamson, Yacinta Kurniasih dan Retno Agustin, momen ini pantang dilewatkan. Mereka pun mencetuskan sebuah wadah dengan nama Seknas (Sekretariat Nasional) Muda Jokowi Melbourne.

Apa itu Seknas Muda Jokowi

“Interpretasi kami adalah mewadahi orang-orang yang ingin mendukung Jokowi dan Kalla,” ujar Yacinta Kurnasih yang juga berprofesi sebagai dosen di Monash University.

Bentuk dari seknas ini merupakan kampanye positif yang tidak hanya untuk mengawasi serta mewadahi dukungan terhadap pasangan Jokowi dan Kalla tetapi juga ingin memberikan inspirasi kepada warga Indonesia di Australia, khusunya di Melbourne untuk ikut berpartisipasi dalam proses berpolitik yang sehat serta positif.

“Kita ingin mengabarkan kalau kita, warga Indonesia di Australia, punya suara. Kami ingin mengingatkan kepada warga Indonesia untuk memilih. Kami ingin menginformasikan, mendidik, mempengaruhi dan membuat mereka untuk ikut peduli terhadap proses demokrasi, “ tambah Yacinta.

Keterlibatan keempat individu ini didasari atas keinginan untuk menjadi pelopor sekaligus inspirator bagi warga Indonesia di Australia untuk bisa berani mengeluarkan opini politik, khususnya terhadap mahasiswa strata dua atau strata tiga yang datang dengan latar belakang Pegawai Negeri Sipil (PNS).

“Masih ada keraguaan dari generasi strata dua dan strata tiga yang menjadi PNS di Indonesia. Mereka masih berpikir tentang konsekuensi dari memberikan opini kepada Jokowi dan Kalla. Mungkin ini kebiasaan. Dari pengetahuan saya ialah mereka yang bekerja sebagai PNS tidak diperbolehkan untuk bergabung di partai politik tetapi bukan berarti tidak bisa memberikan opini,” ujar Yacinta.

Kampanye Aktif

Dukungan moril yang menjadi aktifitas utama Seknas Muda Jokowi di Melbourne direfleksikan dengan mengunggah foto serta video melalui jejaring sosial. “Foto serta video dukungan yang berisikan tulisan dukungan ini menjadi sangat krusial karena informasi tersebut bisa di-share ke Seknas yang mempunyai ranting di provinsi yang tersebar di Indonesia,” kata Retno Agustin sebagai salah satu anggota pencetus Seknas Muda Jokowi di Melbourne yang sedang menyelesaikan studi strata dua bidang Gender Studies di Melbourne University.

Rangga menambahkan, “kalau teman-teman punya pemikiran yang sama, maka mari ditunjukkan dukungannya sehingga orang yang tadinya apatis terhadap capres, sekarang punya kepercayaan diri untuk mendukung calon yang mereka percaya bisa menang di pemilu.”

Untuk meningkatkan kekuatan dari Facebook dan Twitter mereka, awal Juni silam pengurus Seknas Muda Jokowi di Melbourne mengajak warga untuk berkumpul di Federation Square demi menunjukkan dukungan mereka terhadap pasangan Jokowi –  Hatta dengan menulis poster serta direkam lewat video yang memberikan alasan mereka untuk memilih pasangan tersebut. Terlihat sekitar lima puluh warga Indonesia menghadiri undangan tersebut.

“Foto dan video ini akan di-link dengan seknas di Indonesia dan akan disebar,” untas Retno kepada BUSET saat diwawancarai pada hari itu.

“Petisi itu bisa menjadi wadah untuk menumpahkan idealisme kita,” tambah Ulya Jamson.

Menurut para pendiri Seknas Muda Jokowi, warga Indonesia banyak yang kecewa karena selama ini dinilai tidak ada dampak nyata serta positif terhadap perbaikan kehidupan warga Indonesia. Hal ini lalu membuat beberapa orang menjadi apolitis serta acuh terhadap perkembangan politik Indonesia.

Juli merupakan masa penentuan bagi Negara Indonesia. Semangat inilah yang berusaha dibendung oleh Seknas Muda Jokowi Melbourne untuk bisa mendorong kaum muda pada khususnya untuk mengikuti pilpres.

“Orang Indonesia sudah lelah, sudah mengikuti pemilu dari jaman kemerdekaan, apa yang mereka pilih dan yang dirasakan tidak sinkron. Mereka alergi karena mereka tidak merasakan dampak dari apa yang mereka pilih. Istilahnya ‘ngapain gua pilih kalau tidak ada keuntungannya’,” tangkas Rangga.

“Kita berusaha untuk berkontribusi untuk Indonesia. Kita melihat bahwa Jokowi – Kalla punya bagasi politik yang ringan, tidak ada pelanggaran HAM di masa lalu, tidak ada hutang atas pemerintahan. Bagasi politik di sini maksudnya ialah janji-janji kepada koalisinya. Kita yakin bahwa pasangan ini berani dan mendorong perubahan Indonesia. Kalau calonnya sudah banyak janji-janji politik, dia akan pertama kali memenuhi keiingan koalisinya daripada rakyat Indonesia. Ini bagi kita berbahaya untuk Indonesia karena warga Indonesia akan disandera oleh kepentingan kaum elit lagi,” tambah Retno.

**APA KATA MEREKA**

Adanya Seknas Muda Jokowi di Melbourne sangat bagus, karena pemilih pemula bisa tahu siapa yang bisa dipilih, karena dengan ini mereka bakal tahu soal Jokowi.
Gue milih Jokowi karena sudah terbukti bahwa dia tidak hanya ngomong doang, dia membuktikan omongannya. Jokowi juga bijaksana, rendah hati, nggak parlente, tulus, berpihak pada masyarakat luas dan sepenuh hati kepada negara. Sebagai Presiden RI nanti, gue yakin dia akan berhasil membawa banyak perubahan.

Saya milih Jokowi karena dia tidak lahir dari orde baru. Melihat kiprah Jokowi selama ini, sudah banyak perubahan yang dia lakukan di Solo dan Jakarta. Intinya sosok Jokowi sebagai presiden membawa harapan untuk perubahan di Indonesia.

 

ham/sasha

SHARE
Previous article2014 MARKET TANTRUM
Next articleUNDANGAN DAGANG KBRI