SHANNON HARTONO “NOT PROUD, BUT VERY GRATEFUL”

Tak heran kalau sosok wanita ini dijumpai tepat waktu, sesuai dengan yang sudah dijanjikan. Mungkin ini lah salah satu karakter yang membawanya hingga di posisi saat ini. Ia pun ramah menjabat tangan dan menyapa, membuat kenyataan lama tak berjumpa terasa tidak lagi terpaut waktu.

Shannon Margaret Hartono adalah Vice President Time International yang hingga saat ini telah membawahi 92 toko retail dari 60 merk papan atas dunia di Indonesia. Sebut saja Chanel, Cartier, Fendi, Rolex, Tag Heuer, dan puluhan lainnya. Wajahnya sudah malang melintang di berbagai majalah fashion di Indonesia, bahkan internasional. Namanya pun menjadi salah satu yang diperhitungkan dalam dunia fashion di Eropa dan Amerika Serikat. Dengan posisinya sekarang, Shannon memastikan semua bagian dari perusahaan berjalan lancar secara operasional dan strategis, baik itu untuk fashion termasuk jam, perhiasan, maupun aksesoris lainnya, hingga ke bidang food and beverage, dan advertising and communication agency.

Shannon berpose dengan aktor Hollywood Darren Criss

Perjalanan wanita yang baru berusia 39 tahun ini tergolong mengagumkan. Shannon kecil sempat tumbuh besar di Amerika Serikat sebelum akhirnya mengikuti kedua orang tuanya pindah ke Indonesia ketika ia berusia 10 tahun. Ia lalu menuntut ilmu di Don Bosco Pulomas, DKI Jakarta bersama sang adik, Lance Saputra.

Jiwa pemberani memang sudah terlihat dalam diri Shannon remaja dimana tumbuh niat dari dalam diri Shannon sendiri untuk bersekolah di luar negeri ketika mulai masuk tingkat SMA. Shannon lalu meminta orang tuanya untuk menyekolahkannya kembali ke Amerika, namun akhirnya tidak diijinkan karena alasan jarak yang terlalu jauh dari Indonesia. “Orang tua saya bilang ‘if anything happens, we have to fly two days’ tapi Australia masih ok, hanya 7 jam.” Shannon lalu bergegas berangkat sebagai siswi kelas 11 di Mother Christi, Belgrave, pada tahun 1994. Seperti kebanyakan murid lainnya, ia lalu melanjutkan sekolah hingga mendapatkan gelar Diploma jurusan Marketing dari Holmesglen Tafe, dan kemudian menjadi mahasiswi RMIT University jurusan yang sama.

Shannon tengah menjalani masa kuliahnya ketika krisis moneter 1998 terjadi. Ia pun terpaksa kembali ke Tanah Air meski belum resmi mendapatkan gelar. Singkat cerita, anak sulung dari dua bersaudara ini lalu mendapatkan pekerjaan di bidang marketing dalam industri perbankan, dimana salah satu yang menjadi tugasnya adalah menjalin kerjasama dengan pihak retail agar bisa mendapatkan penawaran spesial terhadap suatu barang yang nantinya dapat dibagikan kepada nasabah yang telah cukup mengumpulkan poin. “I went to Pak Irwan Mussri, my boss now, karena dia yang pegang Tag Heuer. Saya mau salah satu hadiahnya itu Tag Heuer,” ceritanya. Tak disangka, misi Shannon sukses, malahan, beberapa minggu kemudian, Shannon mendapatkan tawaran pekerjaan oleh relasinya itu.

“Pak Irwan sempat bilang sama saya he was impressed by my presentation waktu saya ketemu dia mewakili bank,” lanjut wanita berambut panjang ini. Shannon merupakan karyawan ke-16 yang bekerja untuk Time International. “ID saya nomor 16, dimana sekarang sudah melewati angka 2000,” katanya seraya menunjukkan tanda pengenal yang dikalungkan pada lehernya.

Keputusan untuk bergabung dengan Time International adalah peristiwa yang tidak akan pernah disesalinya. Padahal, pada umumnya, orang lain akan menolak penawaran kerja dari suatu perusahaan yang belum terdengar namanya dibandingkan bank berskala internasional, apalagi jika gaji yang ditawarkan lebih rendah dari pekerjaan sebelumnya. Berbeda dengan opini wanita ini, Shannon melihat Time International sebagai peluang dimana dirinya dapat lebih bebas berinovasi dan mengembangkan ide serta keterampilannya. “I’m lucky I can grow with the company,” ujarnya rendah hati.

Melalui pekerjaannya, Shannon sering berjumpa dengan wajah-wajah popular seperti Bunga Citra Lestari dan Ashraf Sinclair

Shannon menilai jika dunia perbankan sangat ketat, “everything is about due diligence and double check and double check again, it was a shock therapy for me yang sewaktu kuliah hanya memikirkan deadline assignment dan pay the rent.” Kendatipun, dua tahun bekerja di industri bank telah memberikannya fondasi yang kuat dalam hal kedisiplinan. Dan wanita yang lahir pada 13 September 1977 ini selalu bersyukur atas setiap hal baik yang bisa ia pelajari dan terapkan ketika ia bergabung dengan Time International pada tahun 2000.

Karirnya di Time International dimulai dari divisi wholesale yang bertugas mendistribusikan jam-jam mewah ke toko-toko retail yang bukan milik perusahaan. “Pada waktu itu, di Indonesia toko-toko retail kebanyakan berbasis keluarga, yang jaga toko ya yang punya, anaknya, keponakannya, atau anggota keluarga lainnya. Jadi ya harus menyesuaikan waktunya. Pernah saya janji ketemu jam 10 pagi, saya sudah sampai di tempat, ternyata harus menunggu sampai jam 2 siang. Satu hari sudah habis karena harus menunggu,” paparnya mengenang salah satu tantangan di masa awal kerjanya. “Apalagi untuk membuat mereka menandatangi faktur, ada yang bilang ‘sudahlah percaya saja, tidak perlu tanda tangan’ sementara I came from banking, everything has to be signed.”

Beberapa saat kemudian, Indonesia mengalami perkembangan ekonomi yang mendorong peningkatan usaha retail. Time International kemudian memutuskan untuk memperbanyak toko mereka sendiri sehingga akhirnya Shannon diberikan mandat untuk ikut berperan serta. “Waktu saya mulai bekerja, di kantor mungkin hanya ada 20 orang karyawan. Jadi sewaktu perusahaan ingin berkembang ke retail, ada brand baru saya bisa coba ikutan, ada devisi baru saya juga bisa turun tangan, jadi saya bisa belajar banyak hal,” ujarnya.

Seiring dengan cakupan kerja yang mulai meluas, Shannon merasakan buah dari kerja kerasnya sebagai pelajar. “Business law sangat berguna ketika saya harus berhubungan dengan perusahaan internasional, tentunya jika berurusan dengan perusahaan lokal saya tetap harus berkonsultasi dengan kuasa hukum di Indonesia… selain itu saya juga pernah belajar merchandising, dan pengetahuan ini juga saya aplikasikan di pekerjaan saya.”

Melalui pekerjaannya, Shannon juga pernah bertemu dengan artis Hollywood Anna Kendrick

Seiring perkembangan jaman, Shannon melihat adanya perubahan gaya berpikir dan etika kerja, terutama pada generasi milenial. “Percaya atau tidak, pernah ada pelamar yang ketika di-interview untuk posisi eksekutif sudah menanyakan ‘apakah saya nanti ada asisten’. Saya jawab, ‘di sini semua kerja bersama-sama, bahkan saya membuat kopi saya sendiri’,” tuturnya geli. Istri dari Marketing Director McDonald’s Indonesia Michael Hartono tersebut melihat ini sebagai agenda barunya, “the biggest challenge for me is to make sure I leave a proper legacy,” katanya tegas.

Shannon dengan pembalap Rio Haryanto

Bila ditanya apakah dirinya sekarang merasa bangga setelah mencapai kesuksesan dalam karir, Shannon menjawab, “not proud, but very grateful. Kesempatan seperti ini tidak dapat diakses semua orang. Dan dengan segala kekurangan saya, saya bisa sampai di posisi sekarang. In theory, I had very little experience, but my boss is able to trust me with so many responsibilities.”

Terlebih lagi, Shannon mengaku memiliki atasan yang menjunjung tinggi rasa saling menghormati dan menghargai. “Tidak banyak lho perusahaan yang dipercaya oleh brand-brand sekelas Cartier dan Chanel,” ujarnya. Oleh karena itu, Shannon mengemban beban yang cukup besar dalam mempersiapkan calon penggantinya bila tiba saat memasuki masa pensiun nanti.

 

Karir dan Keluarga

Kedua buah hati Shannon dan Micahel: Matthew (13) dan Mikaela (9)

Tak dipungkiri, kebanyakan wanita kerap terbentur urusan keluarga dimana wanita harus memilih untuk tinggal di rumah dan mengurus anak, atau mengejar karir. Kembali lagi Shannon mensyukuri karena dirinya telah dipertemukan dengan atasan yang sangat pengertian. “Bahkan para pemilik perusahaan lainnya juga sangat mengerti arti sebuah keluarga. Perusahaan ini dijalankan dengan basis kekeluargaan namun tetap mengikuti aturan kerja corporate.”

Shannon menceritakan pengalamannya ketika di tahun 2004, anak pertamanya, Matthew Nathanael Hartono lahir secara prematur, “Matthew harus berada di rumah sakit selama dua bulan sejak ia dilahirkan karena bobotnya sangat lemah dan masih terlalu kecil. Tidak lama setelah Matthew boleh dibawa pulang, masa cuti hamil saya sudah habis dan saatnya kembali kerja, tapi bos saya justru tidak mengijinkan saya kerja. Mereka meminta saya untuk bonding dulu sama anak saya di rumah. Padahal itu saya baru bekerja di Time selama empat tahun, bukan termasuk waktu yang lama untuk ukuran perusahaan.”

Bahkan ada saat dimana Shannon terlalu ‘asyik’ bekerja hingga larut malam di kantor dan atasannya dengan santai berkata, “kenapa kamu masih di kantor, anakmu sudah nunggu di rumah, pulang saja, lanjutkan besok lagi.”

Selang empat tahun kemudian, Shannon melahirkan seorang putri, Mikaela Natascha Hartono. Ini tentu menjadi tantangan tersendiri ketika Shannon harus menghadiri berbagai acara dan undangan di luar negeri. “Bayangkan saja, kalau ada 60 brand dan setiap brand mengadakan event setahun sekali, berapa banyak yang harus saya hadiri… untungnya sampai saat ini saya dan suami bisa mengatur jadwal kami sehingga tidak pernah bentrok dimana keduanya pergi. Pasti salah satu ada di rumah,” ucap Shannon.

“Dan tidak bosan saya ucapkan, ini semua berkat kuasa Tuhan. Saya memiliki suami dan orang tua dari kedua belah pihak yang sangat mendukung. Mertua saya tinggal di rumah seberang rumah saya, jadi saya bisa titip anak-anak. Orang tua saya juga selalu bersedia kalau saya minta bantuan, mereka langsung datang dari Jakarta Utara ke rumah saya di Selatan,” lanjutnya lagi.

Melalui pengalamannya tersebut Shannon banyak berbagi tips pada generasi muda yakni agar tidak melewatkan kesempatan yang kelihatannya kecil. “Justru kalau di perusahaan besar, jika diberi kerjaan A yang kalian tahunya A saja. Tapi di perusahaan kacil there are lots of ways for you to shine,” paparnya bijak.

Satu hal yang sangat berkesan ketika mengenal sosok seorang Shannon Hartono adalah rasa bersyukur. Dan memang benar, bila manusia bisa mensyukuri setiap peristiwa dalam hidupnya, maka ia akan mampu melihat sisi positif dari peristiwa tersebut.

 

 

 

vr
foto: koleksi pribadi, rr