Si Tukang Kopi Chicco Jerikho

Lahir 3 Juli 1984 dari ibu asal Indonesia dan ayah yang ialah orang Thailand, Chicco Jerikho Jarumillind, atau yang biasa disapa Chicco Jerikho, adalah soerang aktor yang mulai diperhitungkan di dunia perfilman Indonesia. Melalui karir modelling dan sinetron, namanya mulai melambung saat ia membintangi film Cahaya Dari timur: Beta Maluku dan memenangkan Piala Citra 2014 sebagai Aktor Utama Terbaik.

Chicco kemudian membintangi berbagai film, seperti Filosofi Kopi, A Copy of My Mind, Negeri Van Oranje, Aach.. Aku Jatuh Cinta, Surat dari Praha, dan yang akan datang, Surat Untuk Kartini dan Filosofi Kopi 2. Dua diantaranya telah ditayangkan di IFF Australia yang ke-11, dimana penjualan tiket Filosofi Kopi pada malam pembukaan berhasil terjual habis, dan teater ACMI juga dipenuhi penonton pada saat penayangan Negeri Van Oranje.

Selain kedua film tadi, A Copy of My Mind juga merupakan salah satu judul yang masuk dalam film festival dunia. Film karya sutradara ternama Joko Anwar ini telah ditayangkan di Toronto International Film Festival, Venice Film Festival, dan Busan International Film Festival 2015, namun tidak pada IFF Australia 2016. Sangat disayangkan, mengingat kedua pemeran utamanya adalah duta IFF Tara Basro dan Chicco sendiri.

“A Copy of My Mind juga seharusnya masuk sini, tapi ditahan karena harus masuk ke festival di Sydney yang international, karena jatuhnya world premiere kan. Sampai sekarang masih keliling dulu sih, untuk Indonesia saja kita baru bisa rilis bulan Februari lalu,” pemenang Indonesian Movie Awards 2015 kategori Aktor Pria Terbaik ini menjelaskan.

Dalam setiap perannya, Chicco selalu berusaha untuk jujur dalam segala hal, termasuk terhadap pikiran dan perasaan. Bahkan, terkadang penghayatannya terbawa dalam kehidupan sehari-hari. “Karena menurut aku, untuk membintangi suatu film, untuk berperan, untuk menghidupi tokoh, itu benar-benar suatu perjalanan. It’s a journey untuk saya sebagai seorang aktor. Saat saya menghidupi suatu karakter untuk beberapa lama, saya harus hidup sebagai dia, bukan sebagai Chicco. Dan apapun yang saya dapat dalam karakter itu, merupakan pelajaran untuk hidup saya, pengalaman batin, tidak akan bisa saya dapati lagi. Jadi yang positifnya saja kita ambil,” kata aktor yang mengaku ingin mencoba berperan di film laga / action ini.

BUSET EKSKLUSIF - CHICCO JERIKHOSepanjang tahun 2016 Chicco sudah memerankan 4 film; Surat Cinta untuk Kartini, Surat dari Praha, Aach.. Aku Jatuh Cinta, A Copy of My Mind. Ditambah lagi dengan tahap pra-produksi sekuel Filosofi Kopi yang ke-2. Kesemuanya ini merupakan bukti nyata kepiawaian Chicco dalam menjalani profesinya.

Surat dari Praha, film yang menemukan dirinya kembali dengan Julie Estelle seperti dalam Filosofi Kopi, juga memuat nama Chicco sebagai salah satu produser. “Surat dari Praha kemarin dapat 3 apresiasi, Best Actor untuk Tio, Best Director untuk Angga Sasongko, dan Best Picture di Usmar Ismail Awards 2016. Usmar Ismail itu bisa dibilang seperti golden globes-nya Indonesia lah,” paparnya bangga.

Co-Produser Filosofi Kopi

Filosofi Kopi merupakan film adaptasi dari cerita pendek berjudul sama karya Dewi ‘Dee’ Lestari. Film ini bercerita tentang dua sahabat, Ben dan Jody yang bekerja di kedai kopi, dan perjalanan mereka untuk menyelamatkan kedai kopi tersebut saat terlilit hutang. Film ini turut dibintangi Rio Dewanto sebagai Jody, dan Julie Estelle sebagai El.

“Yang menariknya dari Filosofi Kopi adalah kebetulan saya di sini selaku co-producer juga. Film pertama yang saya belajar untuk di belakang layar. Jadi Filosofi Kopi itu bukan sekedar film, kita punya spirit untuk memajukan dan memperkenalkan kopi Indonesia, sekaligus untuk lebih memperkenalkan profesi barista di Indonesia. Sejauh ini berjalan dengan baik,” ujar pria berusia 31 tahun ini.

Filosofi Kopi juga adalah film pertama di Indonesia yang menggunakan konsep user-generated, yang artinya adalah mengajak penggemar untuk ikut terlibat dalam proses pembuatan film. “Karena setiap orang membaca cerita pendek itu memiliki imajinasi sendiri tentang apa yang mereka baca dan kita nggak mau sampai misunderstanding, makanya kita mengajak pembacanya Dewi Lestari untuk sharing sama kita tentang look-nya Ben seperti apa, apa yang dipakai, look-nya Jody seperti apa, bentuk kendaraannya seperti apa, begitu juga dengan kedainya seperti apa. Dan kita akumulasi semua itu dan bikin jadi kenyataan,” jelas Chicco lagi.

Hal itu juga yang membuat kedai kopi bernama Filosofi Kopi seperti yang ada di film benar-benar ada. Berawal dari keinginan mereka untuk membuat set yang sesuai, mereka menyewa tempat, dan setelah filmnya dirilis, kedai tersebut benar-benar dibuka oleh Chicco untuk memberikan para penonton sebuah pengalaman sinematik. Setelah lebih dari satu tahun berjalan dan beranjak dari sambutan yang sangat positif, akhirnya Chicco pun menjalani kedai Filosofi Kopi yang terletak di DKI Jakarta seperti layaknya sebuah bisnis.

“Bisa dibilang itu passion saya di luar acting, kebetulan sekarang sudah dibuka di daerah Melawai dan Bintaro. Jadi ini juga supaya saya dan teman-teman mempunyai spirit untuk memperkenalkan kopi-kopi Indonesia, dan yang kita serve di sana rata-rata kopi Indonesia. Jadi sama seperti di film, no wifi, just you and coffee,” tuturnya bercanda.

Pendalaman Karakter

Persiapan Chicco untuk pendalaman karakter sebagai Ben ternyata cukup panjang. Awalnya ia mempelajari berbagai teknik pertanian kopi itu sendiri, dan pergi ke distributor kopi kelas kakap untuk belajar langsung dari Moelyono Soesilo, Purchasing & Marketing Manager PT. Taman Delta Indonesia, salah satu perusahaan kopi tertua di Semarang.

“Sampai akhirnya saya sekolah barista di ABCD school of coffee, lulus menjadi barista, dan saya sempat magang di coffee shop yang ada di Bali, Jogja, Medan, dan Semarang untuk memperdalam karakter Ben,” cerita pria berparas tampan ini.

Selain itu, Chicco juga harus melewati masa-masa bonding dengan lawan mainnya, Rio Dewanto, yang berperan sebagai Jody, sahabat Ben di dalam film. Karena di dalam film, hubungan Ben dan Jody sangat dekat seperti layaknya kakak-adik, ia ingin benar-benar membangun chemistry-nya dengan Rio.

“Kita harus mengenal lawan main kita. Bukan hanya di dalam script tetapi juga di luar script, karena begitu kita hanya menghafali script, tapi nggak dari dalamnya, itu akan menjadi textbook, kita ngga akan bisa improvise, jadi nggak bisa natural, oleh karena itu kita harus dekat dengan lawan main kita, siapapun itu. Karena kalau kita sudah dekat, sudah in touch, apapun yang kita kasih, yaitu aksi, dia akan kasih reaksi. Jadi berjalan dengan natural aja, kamera tinggal meng-capture adegan-adegan itu,” jelas Chicco bijaksana.

Filosofi Kopi 2

Berkat banyaknya peminat dan reaksi positif yang diterima melalui film Filosofi Kopi, Chicco bersama rekan-rekannya lalu merencanakan sekuel ke-dua. Kabarnya, proses syuting akan dimulai Agustus mendatang dan filmnya akan dirilis menjelang akhir tahun.

“Nah tapi ceritanya itu kita lempar ke audience karena film Filosofi Kopi itu user generated, jadi siapapun yang mau menyumbangkan ide ceritanya bisa di www.filosofikopi.co.id dan kita dari Visinema Pictures akan memberikan 10 juta uang tunai untuk yang terpilih, dan yang terpilih nanti akan kita sekolahin scriptwriter, sekaligus namanya akan ditulis di credit title, jadi ‘script by:’ yang terpilih itu,” ujar sang bintang.

Chicco juga berkata bahwa hal tersebut dilakukan agar para penonton mempunyai sebuah ‘sense of belonging’. Tak disangka, sejauh ini sudah banyak sekali orang-orang yang mengirimkan cerita lewat situs yang disediakan. Kendatipun, proses pengiriman cerita akan ditutup pada bulan Mei.

Bagi yang ingin mengetahui perkembangannya, bisa mengikuti akun Instagram @filkopmovie, di sana ada keterangan lebih lanjut tentang sekuel Filosofi Kopi yang akan diberi judul Ben dan Jody.

 

IFF - Negeri Van Oranje

Chicco dan Homoseksual

Satu lagi film Chicco Jerikho yang ditayangkan di IFF tahun ke-11 adalah Negeri van Oranje, dimana ia dipasangkan dengan aktor kawakan Arifin Putra beserta Tatjana Saphira.

Chicco berperan sebagai Geri, seorang mahasiswa S2 yang kuliah di Den Haag. Film ini mewajibkan Chicco untuk bisa berbahasa Belanda dan sebagai persiapan, ia mengaku belajar bahasa Belanda di Erasmus Huis, pusat kebudayaan Belanda di Jakarta.

Satu hal mengenai Geri yang berbeda dengan karakter yang ia biasa mainkan namun sangat esensial, yaitu orientasi seksual Geri sebagai seorang homoseksual. Negeri Van Oranje kan berdasarkan novel, jadi karakter Geri itu yang harus saya hidupi,” kata Chicco. Menanggapi isu LGBT yang masih marak di Indonesia, Chicco mengaku tidak mempunyai masalah mengenai hal tersebut. “Kalau menurut saya tentang LGBT sih itu urusan mereka lah, semua orang mempunyai jalan hidup masing-masing. Pokoknya filmnya light, film persahabatan dan jalan-jalan, lalu ada konflik. Film ini sengaja dibikin seperti teen movie yang enjoyable,” tutupnya.

  

Sasha
Foto: Andrew