Sebelum Anda khawatir atau berpikir apakah properti yang Anda beli atau tinggal saat ini adalah berhantu, berikut sekilas pemaparan atas isu yang berkembang. Ghost House atau Rumah Hantu yang sedang marak dibicarakan saat ini adalah sebuah istilah yang ditujukan kepada rumah-rumah besar, yang umumnya terletak di daerah berkelas pinggiran kota dan dimiliki oleh investor asing murni yang ditujukan untuk meningkatkan capital growth. Para pemilik rumah-rumah tersebut pada umumnya meninggalkan properti kosong (tak berpenghuni) dan secara suka rela melepaskan pendapatan sewa yang signifikan.

Berdasarkan riset dari University of New South Wales, menemukan bahwa  krisis ‘rumah hantu’ ini dipicu oleh aktifitas para investor asing yang sengaja meninggalkan properti-properti ini kosong guna mendapatkan keuntungan pajak dari sistem negative gearing. Peneliti Bill Randolph dan Laurence Troy mengatakan, “kerugian terhadap investasi sewa dapat diimbangi dengan negative gearing yang berimplikasi terhadap pajak capital gain. Perilaku ini akan memberikan nilai lebih rendah ketika properti akhirnya terjual. Keputusan untuk meninggalkan rumah kosong anehnya dapat membawa keuntungan dan serta subsidi oleh pemerintah. Ini adalah skandal nasional akan sistem perpajakan di Australia yang irasional.”

Daerah-daerah di Sydney yang termasuk dalam daftar dengan tingkat hunian kosong tinggi (vacancy rate di atas 13%) adalah CBD, Haymarket, The Rocks serta diikuti oleh Manly-Fairlight, Potts Point-Wooloomooloo, Darlinghurst, Neutral Bay dan Kirribilli.

Demikian juga halnya di Melbourne, diperoleh dari riset, jumlah volume pemakaian air rumah menunjukkan lebih dari 80,000 properti atau sekitar 4.8% stok hunian di Melbourne tidak ada aktivitas penggunaan air. Fenomena ‘rumah hantu’ ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga paling tidak lima tahun ke depan, serta didukung oleh tak kunjung hentinya aktifitas investasi dari para pembeli asing khususnya dari Tiongkok.

Hal ini terjadi serupa di Kanada dan Singapura yang menghadapi fenomena seperti di atas, akan tetapi pemerintah Singapura mengambil langkah untuk mengenakan pajak 16% terhadap hunian yang kosong. Dan di Vancouver, pemerintah setempat sedang mengajukan usulan pajak terhadap semua properti residensial. Langkah-langkah tersebut dilakukan untuk mengontrol harga properti pasar dan daya jangkau masyrakat setempat yang semakin kecil.

Kepemilikan rumah adalah impian setiap individu yang tinggal di Australia, dan sebagai bukti nyata akan suksesnya seseorang. Akan tetapi impian ini tampaknya semakin menjauh dari kenyataan dikarenakan oleh rumah-rumah yang tersedia di pasar juga diperebutkan oleh para pembeli asing. Hal ini menyebabkan timbulnya tren baru yang tengah menjamur di antara para Melburnian usia 25-35 tahun.

Harga properti yang terus meningkat di Melbourne, membuat pembeli-pembeli rumah pertama (first home buyers) memikirkan pilihan lain dengan berpindah ke kota regional di Victoria seperti Ballarat atau Geelong. Dikutip dari Domain News, Zoe Clarendon (30) mengatakan bahwa dia dan pasangannya yang baru saja pindah ke Ballarat dapat membeli tanah dan membangun rumah di atas tanah tersebut dengan total pengeluaran sebanyak $300,000 saja. Hal serupa juga dirasakan di beberapa kota regional Victoria lainnya seperti di Bendigo, dimana para pembeli rumah dapat membeli house and land packages pada kisaran harga $300,000 serta ditambah subsidi sebesar $10,000 dari program pemerintah First Home Owner Grant.

Di Geelong (kota regional Victoria terbesar), jumlah populasi mengalami peningkatan sebanyak 100 individu setiap minggunya berdasarkan data dari bulan Juni 2014 hingga Juni 2015. Dengan hanya jarak tempuh sejauh 50 menit dari Melbourne atau sama dengan waktu yang ditempuh oleh para suburbian di Melbourne setiap harinya mengendarai transportasi umum atau bila terjebak macet, Geelong nampaknya akan terus menjadi pilihan destinasi bagi para first home buyer.

Fenomena pasar yang terjadi di atas, merupakan sebuah kondisi yang tidak dapat dihindari karena tidak ada seorang pun yang mampu mengendalikan pasar. Sehingga sebagai pelaku pasar, kita harus tetap bergerak cepat mengikuti perubahan dan mengambil keputusan rasional berdasarkan kondisi-kondisi yang terukur, seperti daya jangkau beli, lokasi properti, gaya hidup, atau unsur lainnya. Seperti dikatakan oleh Andrew Carnegie, 90% miliuner menjadi seperti saat ini melalui investasi pada properti. Hal ini berakibat, setiap orang untuk mulai memasuki pasar sedini mungkin. Saran investasi pada saat ini yang menunjukan bahwa para pembeli untuk tujuan tempat tinggal ataupun investasi, banyak mengarah pada kepemilikan properti yang memiliki lahan tersendiri atau umumnya dikatakan landed property; seperti townhouse atau rumah.

Bila Anda hendak atau tengah memikirkan langkah selanjutnya dalam perencanaan investasi atau penanganan aset properti Anda, ada baiknya bila Anda menghubungi kami atau pakar properti terpercaya Anda. Tim kami dapat memastikan bahwa Anda akan mendapat informasi dan saran yang paling sesuai dengan perencanaan yang Anda inginkan. Bila Anda mempunyai pertanyaan seputar dunia real estate Australia, silahkan menghubungi kami di 1300 884 168 atau kunjungi kantor terdekat kami.

“90% of all millionaires become so through owning real estate.” – Andrew Carnegie 

“Don’t wait to buy real estate, buy real estate and wait!” – Anonymous

 

Alain Warisadi,
CEA (REIV), CA (MFAA), TAA, CIT (M), CPS (RE), Dipl FMBM, B. Ec (Fin)
Property Writer/ Property Consultant
Finance Consultant (Mortgage Broker)
Licensed Estate Agent
Harvard University Scholar
(e.) [email protected] 

Tanya Tjahjosarwono, B.Bus (MKT), M. ADV MKT.
Co-property Writer
Marketing Communications Manager
(e.) [email protected] 

Sumber: News.com.au, Domain News.