Ice Bucket Challange merupakan sebuah tantangan untuk menyiramkan satu ember penuh es batu dan air dingin ke atas kepala peserta yang secara otomatis akan membasahi seluruh tubuhnya. Partisipan yang telah melakukan tantangan ini kemudian dapat menominasikan orang lainnya untuk melakukan tantangan serupa dalam waktu 24 jam. Jika tidak mampu melakukannya, maka orang tersebut diminta untuk mendonasikan sejumlah dana.

Fenomena yang berhasil menjadi perbincangan dan tren dunia ini pada dasarnya berasal dari bagian utara Benua Amerika. Meskipun asal usulnya tidak jelas, selidik demi selidik dikatakan bahwa tantangan super dingin ini berasal dari metamorfosis tantangan sebelumnya; Cold Water Challenge.

Walaupun sedikit ekstrim, tantangan unik ini ternyata memiliki latar belakang amal dan kepedulian sosial. Ya, Ice Bucket Challange dilakukan untuk meningkatkan kesadaran sekaligus membantu mendanai penelitian mengenai ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis), atau di Australia dikenal dengan sebutan MND (Motor Neurone Disease).

ALS sendiri adalah kelainan pada tubuh manusia yang disebabkan degenerasi sel syaraf motorik. Kondisi ini menyebabkan penderitanya sulit mengendalikan otot seturut kehendaknya. Dalam waktu yang singkat, penderita ALS akan kehilangan kemampuan untuk bergerak dan sayangnya, hingga saat ini ALS belum ada obatnya.

Belum ada kejelasan mengenai awal mula dimulainya Ice Bucket Challange. Namun kebanyakan aktivitas ini terinspirasi oleh Peter Frates, mantan Kapten Boston College Baseball (AS) yang didiagnosa mengidap ALS pada Maret 2012 di usia yang sangat muda, 27 tahun. Hingga artikel ini ditulis, kondisi fisik Frates telah menurun drastis. Frates tidak lagi mampu berbicara, makan, jalan, atau bahkan menggerakkan tubuhnya untuk aktivitas sehari-hari. Dirinya membutuhkan perawatan konstan 24 jam sehari.

Rekan-rekan atlit Frates menyumbangkan dana untuk membantu penelitian terhadap pengobatan ALS serta melakukan tantangan menyiram diri dengan air es sebagai bentuk dukungan terhadap Frates dan keluarganya. Video mereka lalu tersebar luas melalui dunia maya dan diikuti oleh orang-orang di segala penjuru dunia.

Tantangan ini juga dilakukan figur publik seperti penyanyi Justin Timberlake dan komedian Hollywood Ellen DeGeneres yang kemudian menantang ratu reality show Kim Kardashian. Dan dalam kurun waktu beberapa minggu saja virus positif ini telah menyebar di Australia serta Indonesia.

Artis sexy Julia Perez, misalnya, melakukan aksi mandi air es yang kemudian disebarkan melalui akun instagram-nya. Bunga Citra Lestari bersama suaminya, Ashraf Sinclair, VJ Daniel, Luna Maya, Melly Goeslaw dan Joe Taslim diketahui juga telah melakukan tantangan tersebut sekaligus berdonasi. Banyak di antara para selebriti ini yang lalu menominasikan para politisi negara termasuk Jokowi, Prabowo, SBY dan Ani Yudhoyono, namun hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan dari mereka.

Masyarakat Indonesia di Melbourne juga tidak mau ketinggalan untuk turut berpartisipasi meramaikan tren dunia tersebut. Sebut saja, Ingkania Daenuwy, amlumni RMIT University ini Agustus yang lalu mengunggah aksinya melakukan tantangan Ice Bucket Challenge di akun facebook-nya yang merupakan tantangan dari Reh Gia Sabrina (Ririn), alumni Swinburne University. Tantangan ini dilanjutkan oleh Cicil Kumala, mahasiswa master degree di Melbourne University yang ditantang Ingkania untuk melakukan aksi yang sama.

Saat ditanya apa rasanya melakukan tantangan tersebut di penguhujung musim dingin, Cecil mengaku sangat kedinginan. Akan tetapi setelah membaca lebih lanjut dan mencoba memahami penyakit ALS, mahasiswi yang bergelut dalam bidang kesehatan ini merasakan adanya manfaat positif dalam tantangan ini, terutama untuk perkembangan medis dalam usaha menyembuhkan ALS. Hal serupa juga disampaikan Ririn, menurutnya kegiatan sosial memang harus dikemas dengan kemasan yang kreatif agar dapat menjangkau semua kalangan dengan lebih cepat dan efektif.

Ice Bucket Challenge pada kenyataannya memang merupakan tantangan yang sangat berbeda dan menyenangkan. Kendati demikian, kita diharapkan tidak lupa makna dan arti di balik tantangan tersebut. Hingga Agustus kemarin, MND Australia telah mendapatkan sumbangan lebih dari 2 juta dolar yang akan digunakan untuk penelitian dan bantuan bagi para penderita MND. Sedangkan di Amerika Serikat, sumbangan kepada Asosiasi ALS telah mencapai 100 juta dolar. Di Inggris, tantangan ini dilakukan untuk mendukung penggalangan dana bagi Asosiasi MND dan Macmillan Cancer Support. Penduduk Indonesia yang melakukan Ice Bucket Challenge juga dikatakan telah menyumbangkan dana bagi beberapa organisasi sosial di Tanah Air.



ignatia