Adalah penyanyi rap asal Indonesia, Sonu Tolani yang baru merilis albumnya di Melbourne. Album berisikan 12 tembang tersebut diberi judul “Jiwa Merdeka”; dimana ini merupakan album rap pertama Sonu yang menggunakan Bahasa Indonesia.

Selain sebagai seorang rapper, pemuda ini juga berprofesi sebagai DJ dan bekerja di kawasan St. Kilda dan Melbourne. Sonu Tolani pertama kali mendarat di Melbourne pada tahun 1999. Ia disponsori pemerintah Indonesia sebagai murid untuk sekolah atletik di tingkat nasional; Brighton Secondary College. Pada saat itu usianya baru genap 16 tahun.

Sebelum pindah ke Negeri Kangguru, ia tinggal di Pasar Baru, Jakarta Pusat dan sempat bersekolah di Santa Maria, Batu Ceper, sampai kelas 4 SD. “Gue pindah-pindah sih, karena nyokap gue Katolik, bokap gue Hindu. Makanya abis itu gue pindah ke Gandhi (school). Nyokap gue orang Solo dan bokap gue orang India. Makanya dia pengen gue nongkrong sama anak-anak India di Gandhi,” jujur pria yang sekarang berusia 30 tahun ini.

Awal mula Sonu bisa mengenal musik rap adalah lewat teman-teman sekolahnya di Melbourne. Sonu menceritakan banyak pelajar internasional yang datang ke sekolahnya, kendatipun, ketika mereka bermain, kelompoknya itu-itu saja. Yang dari Jepang berkumpul dengan sesama dari Jepang, begitu pula yang dari Korea berkumpul dengan yang asalnya dari Korea juga. “Kalau gue, kemana saja gue ikut. Ga ada yang tau gue orang Indonesia, padahal gue cuma satu-satunya orang Indonesia di sana.”

Gue ngikut aja pas teman gue nge-rap sama freestyle-freestyle gitu di sekolah pas waktu recess [jam istirahat –red.]. Gue waktu itu belum bisa Bahasa Inggris, jadi bikin beat dari mulut, beatbox, abis itu ketularan aja gue sama mereka,” tambahnya.

Selain itu, sejak masih di Jakarta, Sonu kecil juga gemar mendengar musik rap, salah satunya karya grup hip hop asal Amerika Serikat bernama The Fugees yang digawangi Lauryn Hill, Wyclef Jean dan Pras. Malahan, kaset The Fugees merupakan kaset pertama yang ia beli pada tahun 1995, dan dengan cepat mereka menjadi inspirasi musik rap bagi Sonu. “Kebetulan pas ke Melbourne lagu Coolio yang judulnya Gangsta’s Paradise lagi terkenal, orang-orang nyanyiin lagu itu pas di sekolah.”

Nostalgia anak sekolahan

Saat awal menginjakkan kaki di Melbourne, Sonu tinggal sendiri di sebuah granny flat; rumah milik penduduk lokal yang biasanya merupakan sebuah rumah terpisah untuk anggota keluarga yang sudah senior.

Gue juga nggak ngerti masak, pertama kali masak hampir ngebakar rumahnya. Gue lagi masak telor, gak tau minyaknya seberapa banyak, cuma gue liat nyokap kalo goreng kerupuk kan minyaknya banyak banget tuh. Trus gue angkat telepon dari nyokap, tau-taunya pas gue liat apinya udah gede,” katanya sambil menjelaskan ia lalu memakai jeans-nya untuk mematikan apinya.

Setelah kejadian itu, baru Sonu belajar memasak. “Dulu makan pagi cereal, makan malam cereal juga. tapi sekarang ada istri, dan dia masaknya lebih jago dari gue,” tambahnya girang.

Ngerap Bahasa Indonesia

Gue suka musik-musik lain, tapi pas jaman itu musik rap yang lebih terkenal di teman-teman gue. Semua pada dengerin musik rap, pada nge-rap, gue juga awalnya gak pernah liat misi kedepannya gue bakal jadi rapper, gue cuma bisa nge-rap aja,” jawabnya saat ditanya tentang pilihannya di antara lautan genre-genre musik lainnya.

Lagu-lagu rap Sonu awalnya dibawakan dalam Bahasa Inggris. Barulah saat kembali ke Tanah Air pada tahun 2007, ia mulai tertarik menciptakan lagu rap dalam Bahasa Indonesia.

Ia bercerita tentang projek seorang komedian Pandji Pragiwaksono dan Coca-cola yang bekerjasama memberikan dana sebesar 15 juta kepada siapa saja yang memiliki ide unik dengan topik membuat perubahan dalam bidang pendidikan, kesehatan, seni budaya dan lingkungan.

“Pas balik ke Indonesia, gue volunteer di rumah singgah, dimana yang tinggal adalah anak-anak pemulung, anak-anak jalanan gitu. Terus teman gue seorang rapper, kita masukin ide dia buat ajakin anak-anak nge-rap, buat lagu; lagu-lagu anak, bukan lagu galau.”

“Pandji sama Coca-Cola suka idenya, jadi dapat kita. Mumpung gue pas lagi di rumah singgahnya itu, dan suka ngajar Matematika atau Bahasa Inggris di situ, dia suruh gue ngajarin anak-anak ini nge-rap, nanti dananya buat bayar produser musik, ajak mereka main ke Dufan dan makan siang.”

“Pas gue ngajarin mereka, gue nulisin lirik, lirik-liriknya gue sendiri. Gue mikir nge-rap Bahasa Indonesia asyik juga ya, dari situ tuh gue dapet inspirasi, ngeliat anak-anak ini sama ngajarin mereka, inspirasi gue balik untuk nulis lagu rap pakai Bahasa Indonesia,” ujar Sonu.

Industri musik rap

Selain The Fugees, Sonu juga terinspirasi rapper legendaris Wu-tang clan, Tupac, Dr. Dre, Snoop Dogg dan yang baru-baru ini keluar, Kendrick Lamar. “Ada albumnya Kendrick, “Good kid, MAAD City” hampir sebulan lebih gue dengerin. Dia new school tapi masi ada ‘feel’ old school-nya juga sih, jadi gue suka liriknya dia, style-nya dia, rap-nya, beat-beat-nya juga dicampur. Gue suka konsep albumnya juga dimana biasa orang bikin album ada 12 lagu tapi nggak ada konsep kan,” decaknya kagum.

Saat ini genre musik rap yang sukses bukan lagi terbatas kepada artis asal Amerika saja, tetapi penyanyi di negara lain banyak yang sudah menapakkan kaki mereka di industri musik tersebut. Bahkan rapper Asia seperti dari Korea dan Jepang juga mulai mendunia. Meski demikian, secara personal Sonu menyatakan kurang menyukai rap Jepang. “Dari flow-nya gue kurang demen, kurang asik. Rap Perancis lumayan oke. Jerman juga agak kurang suka gue, tapi kebanyakan rap memang di Amerika dan Australia,” katanya.

Rapper berhati emas

Selain bermusik, rupanya Sonu doyan membuat baju, topi, atau jaket dengan motif batik. Sonu biasa memilih bahan batik sendiri lalu mencari penjahit yang dapat membuatkan desain sesuai yang ia inginkan.

Ketika rapper terkenal, Snoop Dogg ke Jakarta, Sonu melalui partner bisnisnya mengirimkan jaket hoodie motif batik. Snoop sempat mengenakan hoodie tersebut yang lalu difoto dan dikirimkannya ke Sonu.

Di Melbourne, menjadi seorang rapper bukan satu-satunya pekerjaan Sonu. Ia mengkontribusikan tenaganya di dua tempat berbeda, yakni sarana anak muda, St. Kilda PCYC (Police and Citizens’ Youth Club) dan sebagai asisten pengajar di sekolah SD khusus anak dengan kondisi Autisme di Bentleigh.

“Di St. Kilda PCYC itu ada gym-nya, ada tempat basket, ada sarana tinjunya. Kita tuh outreach program ke anak-anak yang tinggal di rumah-rumah susun di South Melbourne, Port Melbourne, Collingwood dan Prahran. Gue kerja sama anak-anaknya, main olahraga. Karena orangtua mereka adalah kriminal, narkoba, keluar masuk penjara, PCYC itu sarana dimana anak-anak bisa datang dan bersama-sama berjuang untuk keluar dari situasi kayak gitu,” jelasnya.

Sementara sebagai asisten guru di sekolah Autisme di Bentleigh, Sonu membantu para guru yang bekerja. “Gurunya sudah ada set program, misalnya buat hari ini belajar berhitung, gue liat programnya terus ya gue bantuin. Anak penderita Autis kan ada 3 jenis, tapi gue tau semua anak-anaknya yang di situ.”

Keinginannya membantu anak-anak didapat dari sang ibu yang ialah seorang guru Taman Kanak-Kanak. Karena Sonu mengikuti ibunya setelah orangtua-nya berpisah, kebanyakan perjalanan hidupnya diisi dengan mengajar ke panti asuhan dan rumah singgah di Indonesia.

“Makanya pas gue ke Melbourne, gue ga punya kualifikasi apa-apa tapi karena gue udah punya pengalaman jadi diterima,” kata pria yang sekarang sedang juga berkeinginan untuk membantu para pencari suaka dalam mencari pekerjaan.

Inspirasi “Jiwa Merdeka”

“Kontribusi gue dari album ini lebih ke cerita gue yang gue share. Di tiap lagu gue ada hint-hint kecil dari cerita masa remaja sampai sekarang,” papar rapper yang juga sempat merilis “Still Thinking – Self Titled” (2006), “Batik Tribe – Melangkah” (2008) dan “Duvz – Rize” (2011).

Sebagai orang Indonesia, Sonu merasa beruntung karena dapat memiliki budaya yang beraneka ragam. Itulah mengapa ia tidak hanya berpengetahuan seputar sesama rapper saja, tapi juga berusaha mengenal seniman-seniman tradisional dimana ia lalu membentuk grup Batik Tribe. “Konsepnya nyampur-nyampur beat hip-hop dengan musik-musik tradisional.”

Sayang, Batik Tribe tidak bertahan lama. Namun demikian, Sonu tetap tidak putus asa. Bersama beberapa rekannya, Plenthe Percussion-musisi asal Solo, Bangkit-pencipta lagu dan komposer musik dan Eko, Sonu memulai proses pembentukan konsep “Jiwa Merdeka” yang juga menyelipkan unsur musik tradisional Indonesia.

Setelah dirilis di Melbourne dalam bentuk digital Agustus kemarin, album ini juga direncanakan akan rilis di Indonesia. “Lagi deal-deal-an sama label di Jakarta, katanya mereka bakal print out seribu CD. Tapi masih gentleman agreement, belum kontrak, jadi belum tau,” ujar pria yang juga mengekspresikan keinginannya untuk membuat “Jiwa Merdeka” dalam bentuk vinyl limited edition sejumlah 20 copy.

 

sasha
foto: krusli