Soundsekerta, acara yang diadakan setiap tahunnya oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) ranting Monash University, kembali lagi tahun ini dengan tema “Limitless Indonesia”. Menurut Shabrina Atika, Project Manager Soundsekerta 2014, Soundsekerta adalah sarana bagi pelajar-pelajar Indonesia di Australia untuk mengingat dan menikmati karya-karya anak bangsa; dimana tahun ini, dengan tema “Limitless Indonesia”, Soundsekerta bertujuan untuk mengingatkan orang-orang Indonesia yang tinggal di Victoria bahwa untuk berkontribusi bagi Indonesia bisa dilakukan dimanapun dan dalam bentuk apapun.

Acara yang pertama kali diadakan pada tahun 2007 ini berhasil menarik lebih dari 1000 pengunjung dengan tema yang berbeda-beda dan menarik setiap tahunnya seperti talk show, dimana Soundsekerta bekerjasama dengan Trans 7 mengundang Tukul Arwana dari acara Empat Mata; peragaan batik untuk melestarikan budaya Indonesia yang dimeriahkan oleh penampilan dari para musisi Indonesia, yakni Monita Angelica (Indonesian Idol) dan Yovie & the Nuno; drama musikal yang mengangkat cerita rakyat Loro Jonggrang, dengan penampilan penutup dari grup musik terkenal Indonesia, Project Pop; “Awards Night” yang pada kesempatan yang sama Ello, Sheila on 7 dan dua pembawa acara kondang, Desta dan Vincent dari club 80’s juga diundang; serta game show yang dipandu oleh Pandji Pragiwaksono dan dimeriahkan tiga band terkenal dari Indonesia, yaitu GIGI, D’Masiv dan Nidji; “Bhinneka Tunggal Ika”, dimana Soundsekerta kembali bekerja sama dengan Trans 7 mengundang grup komedian Indonesia, Opera van Java. Selain itu, ada juga penampilan dari Raisa dan stand-up comedian Ryan Adriandhy serta Vincent Rompies. Pada kesempatan yang lalu, Soundsekerta 2013 kembali ke Melbourne Town Hall dengan bertemakan “Future of Indonesia” dan mengundang rock band legendaris dari Indonesia yaitu Dewa 19 bersama dengan Ari Lasso dan Andra & the Backbone.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, Soundsekerta tahun ini bertemakan “Limitless Indonesia”. “Tema ini dipilih karena akhir-akhir ini banyak anak-anak Indonesia yang pergi belajar di luar negeri dan terlihat lupa dengan Indonesia, padahal kenyataannya tidak begitu. Banyak dari kita yang pada akhirnya balik ke Indonesia dan bertekad untuk memajukan Indonesia; begitu juga anak-anak yang mungkin tidak balik ke Tanah Air; tidak balik bukan berarti lupa sama tanah kelahiran kita dan tidak bisa berkontribusi untuk Indonesia,” ujar Shabrina Atika yang juga menjabat sebagai wakil ketua Monash University, Caulfield. Jadi, tema ini diangkat untuk membuktikan bahwa kontribusi untuk Indonesia tidak harus dilakukan dari Indonesia saja, tapi dimanapun kita berada dengan cara apapun.

Seperti beberapa tahun sebelumnya, Soundsekerta 2014 akan menghadirkan bintang-bintang tamu dari Indonesia yang pastinya mampu membawa suasana yang seru dengan penampilan yang luar biasa dan tentunya tidak lupa, unsur budaya Indonesia tetap diangkat ke dalam pertunjukan tersebut. Kali ini, Soundsekerta akan kembali dengan konsep musik yang pastinya akan lebih baik dan menarik dari tahun-tahun sebelumnya dan pesan utama dari acara ini dapat tersampaikan ke pengunjung nantinya.

Selain pertunjukan pada hari H, tidak seperti tahun-tahun sebleumnya, pada kesempatan kali ini Soundsekerta akan mengadakan photography competition dan song cover competition yang terbuka untuk umum. Bagi yang hobi musik dan fotografi, ajang ini saat yang tepat untuk menguji dan menunjukkan bakat kalian. Untuk informasi lebih lanjut mengenai lomba-lomba ini, silahkan dilihat dari social media PPIA Monash University dan facebook page Soundsekerta.

Penasaran dengan Soundsekerta 2014? Get prepared and be ready for it!

Supaya kalian bisa tahu update Soundsekerta yang terbaru, ayo follow twitter & instagram @ppiamonash, subscribe PPIA Monash TV di youtube, join facebook page PPIA Monash, dan like SOUNDSEKERTA – PPIA MONASH on facebook! 

PPIA Monash University