Para penonton bersorak-sorai. Setiap hentakan tangan dari penari menguncang panggung Spring Feast pada tanggal 4 Oktober di University of Western Australia (UWA). Mereka bukan penari profesional, melainkan mahasiswa dari Indonesia yang berani memperkenalkan budaya lewat tarian RatoJaroe asal Aceh. Tahun ini mahasiswa Indonesia membuat heboh pengunjung dengan melodi dan gerakan serentak.

Para penari Ratoh Jaroe yang kompak ini pun berasal dari

Multicultural Week yang diadakan setiap tahunsejak tahun1999, merupakan ajang untuk mempersatukan berbagai macam latar belakang budaya. Salah satu rangkaian kegiatan yang dipersembahkan adalah Spring Feast. Berbagai macam klub universitas unjuk keahlian mereka. Mulai dari Lion Dance hingga nyanyian lagu pop diimbuhi senar gitar. Tak sekadar aksi panggung saja, pengunjung juga bisa menikmati aneka jajanan.

Untuk Palu dan Donggala                                                                                                   

Rentetan gempa dan tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala beberapa waktu lalu tak luput dari perhatian. Sebelum menampilkan Ratoh Jaroe, para penonton diajak mengheningkan cipta sejenak. Mereka juga mempersembahkan tarian ini untuk para korban bencana. “Kami melakukan ini untuk mereka. Meskipun kami jauh dari Indonesia, tapi kami ingin sampaikan rasa simpati terhadap mereka,” ujar Eko, salah satu penari.

Para penari hanya membekali diri dengan latihan selama 3

Mereka masuk dan duduk. Bermula dari ketukan rebana dan nyanyian syeikh (seseorang yang membawakan lagu), penari mengikuti lantun musik secara berantai. Pukulan tangan ke badan dan paha terdengar seakan suara drum dipukul. Suasana seketika hening, seakan semua pengunjung dipertontonkan atraksi megah dari penari kelas atas. Sekitar delapan menit mereka menari.

Tim penari Ratoh Jaroe yang penuh komitmen dan kebanggaan

Tentu tak mudah menarikan Ratoh Jaroe. Perlu konsentrasi tinggi dan kesalahan bukanlah pilihan. Wajah serius dan keringat yang jatuh ke lantai boleh jadi menggambarkan betapa sulitnya tarian ini. Namun setelah selesai, para penari tampak melepaskan tawa penuh kelegaan. Mereka turun dari panggung dengan sambutan meriah dari penonton.

Kekurangan Personil Tak Jadi Soal

Tarian Ratoh Jaroe sempat dibawakan oleh 1.600 penari pada pembukaan Asian Games 2018 silam. Tarian yang bermakna jemari yang menari ini biasanya memang hanya diperuntukkan bagi wanita saja dan biasanya berjumlah genap. Berbeda dengan Tari Saman yang ditarikan dalam jumlah ganjil.

Konsentrasi penuh dibutuhkan

Nah, Ratoh Jaroe yang dipertontonkan di panggung Spring Feast memang tidak sesuai pakem karena melibatkan penari pria juga. Penyesuaian ini dibutuhkan karena memang terkendala penari yang mau berpartisipasi. Padatnya jadwal perkuliahan serta sulitnya gerakan yang harus diikuti kerap membuat banyak mahasiswa gentar.

“Mereka yang terpilih tidak sembarangan. Sebagian dari mereka sibuk dan tidak pernah menari, namun tetap menari. Ini adalah suatu bentuk komitmen yang teguh,” tutur Cendra, salah seorang penarisambil mengapresiasi keberanian dan kemauan belajar para penari. Salah satu contoh dari mereka yang belum pernah menari adalah Rino. Ia tidak pernah menari, apalagi ikut pentas. Bahkan ia harus berbagi waktu karena harus bolak-balik Melbourne – Indonesia untuk mengambil data lapangan. “Ada rasa khawatir karena harus bolos latihan selama satu minggu. Untung semuanya berjalan dengan lancar,” tegas Rino setelah pertunjukan selesai.

Tim penari Ratoh Jaroe yang penuh komitmen dan kebanggaan

Usaha yang dikeluarkan tidak sia-sia,apalagi upaya mereka ini dibantu oleh teman-teman lain yang turut menyiapkan kebutuhan-kebutuhan lain seperti dokumentasi dan konsumsi.  Para penari  Ratoh Jaroe ini, mereka bukan profesional, tetapi membuahkan hasil yang maksimal.

 

 

 

Apa Kata Mereka – Para Penari

 

CendranataPostgraduate Student

Menampilkan tarian Indonesia di acara multikultural tahunan sekaligus acara terbesar di UWA memberikan kesan yang sangat mendalam. Tidak mudah dalam berlatih, namun kami terbakar dengan semangat bahwa sedikit banyak kita menjadi representasi dari wajah Indonesia. Harapannya makin banyak teman-temandari Indonesia dan dari luar Indonesia yang mengapresiasi seni budaya Indonesia. Buktinya beberapa rekan tertarik untuk belajar tarian Ratoh Jaroe setelah melihat pementasan tersebut. Bicara tentang representasi dari wajah Indonesia, lebih jauh lagi hal ini mengingatkan kita bahwa dalam bersikap, bertindak, bekerjasama, dan belajar di lingkungan universitas yang beragam latar belakang, hendaknya kita juga menjadi representasi yang mengharumkan bagi wajah Indonesia. Dari ke 9 penari, banyak di antara mereka yang sama sekali belum pernah menari, namun bisa dibilang cukup sukses dengan komitmen latihan selama 3 minggu. Harapannya, momen ini akan membakar semangat rekan-rekan yang lain untuk lebih berani dan percaya diri dalam mengekspresikan seni budaya Indonesia.

 

RinoPostgraduate Student

Suguhan yang kita buat di Spring Feast sangat total, walaupun hanya dipersiapkan dalam waktu yang tidak lama. Ketika aku menerima feedback dari penonton pun membuat jerih payah yang dilakukan terbayarkan! Semoga yang berikutnya kita bisa tampil untuk acara serupa. Tetap termotivasi!

 

DilaPh.d Student

Penampian ini menunjukkan bahwa kita bangga punya budaya yang beragam. Cara menunjukkan kebanggaan ini  dengan penampilantari. Di sela kesibukan sebagai mahasiswa, komitmen untuk berkontribusi secara nyata pada bangsa tetep harus ada walaupun dianggap kecil.

 

HaniPostgraduate Student

Saya senang bisa menjadi bagian dari tim tariini. Menari tradisional sebenarnya cukup sulit, dibutuhkan konsentrasi, kerja tim, keluwesan, dan semangat dalam menampilkan gerakan. Tapi seseorang pernah berkata kepada saya, menjadi mahasiswa di negeri orang tidak hanya tentang belajar, tapi juga sebagai agen dalam mengenalkan budaya dan keragaman yang kita miliki, dan tampil dalam pekan multikultural ini adalah kesempatan yang baik untuk itu. Saya harap ke depannya akan lebih banyak lagi teman teman dari Indonesia yang menampilkan kebudayaan daerahnya masing-masing melalui kegiatan semacam ini.

 

AbigailPostgraduate Student

Saya merasa sangat bersyukur bisa ikut menari RatohJaroe dalam rangka kegiatan Spring Feast, UWA. Pengalaman yang sangat luar biasa, karena tidak hanya tampil pada hari H, tetapi di mana kami dibentuk dalam proses belajar menari; berkoordinasi satu sama lain, belajar mengatur waktu, kesabaran, mencintai budaya nusantara, dan lain-lain. Saya berharap kegiatan seperti ini bisa dilakukan terus menerus dan mengajak teman-teman yang lain untuk ikut terlibat

 

NunukPostgraduate Student

Ini pertama kalinya saya nge-syeikh sambil main rebana. Biasanya menari atau nge-syeikh saja. Jadi tantangan baru karena takut tidak sinkron. Apalagi waktu latihannya terbatas. Tapi seneng banget karena bisa mengiringi teman-teman yang menari. Puas karena teman-teman menari dengansemangat dan bagus!

 

EkoPostgraduate Student

Ini merupakan sebuah kebanggaan bagi diri saya sendiri karena diberikan kesempatan untuk mewakili Indonesia memperkenalkan budaya kepada komunitas Western Australia khususnya pelajar-pelajar international di UWA. Sambutan dan antusiasmepenonton terhadap tarian yang ditampilkan sangat positif. Kesempatan ini juga digunakan untuk meminta dukungan dan doa masyarakat yang hadir untuk warga Palu dan Donggala yang tertimpa bencana. Semoga semangat untuk saling membantu menular.

 

Annisa – Undergraduate Student

Gua senang dan bangga banget bisa dapat kesempatan buat menampilkan budaya Indonesia di luar negri. Walau konteksnya masih acara universitas, tapi ini akan jadi cerita yang tidak terlupakan selama studi di Australia. Semua pemain all out, dan serasa tampil di acara besar (Congrats guys!). Melihat penonton terkagum-kagum sama tarian kami juga sangat berkesan. Susah senangnya latihan, apalagi di tengah banyak tugas dan deadline, semua terbayar! Bangga banget! Smoga dengan apa yangsudah kami tampilkanbisa mengajak orang-oranguntuk mau belajar budaya Indonesia, either they’re Australian, Indonesian, or people from other countries!

 

KevinUndergraduate Student

Suatu hasil yang tidak pernah terbayangkan. Saya tidak pernah menari. Ada rasa takut yang terus menghantui, namun karena semangat untuk belajar akan hal baru membuat saya bersemangat. Ditambah lagi dengan makna yang ingin kami sampaikan, yakni membuat kagum Indonesia dan berempati kepada mereka yang baru saja terkena bencana alam.

 

 

 

 

Kevinng
Foto: ElisZA