Multicultural Arts Victoria baru-baru ini menyelenggarakan sebuah eksibisi “Street | Life” yang berlokasi di galeri [email protected], Collins street, jantung Kota Melbourne. Pameran seni ini memamerkan karya tahap kedua dari “Street | Life” – sebuah projek gabungan dari Yogyakarta, Indonesia dan Melbourne, Australia yang melibatkan robotic/kinetics sculptures, projections dan presentasi guerilla yang terdiri dari tiga tahap. Karya ini merupakan kerjasama dari seniman Indonesia; Bimo Surojati dan RM Altiyanto Henryawan, dengan seniman dari Australia Cake Industries (Jesse Stevens dan Dean Petersen). 

RM Altiyanto Henryawan lahir di Yogyakarta. Ia merupakan seorang sutradara, penulis dan sejarahwan. Sejak tahun 1997, Altiyanto telah aktif menulis untuk teater, drama televisi dan film. Ia juga menjadi bagian dari tim kreatif di balik Wayang Ukur, Acapella Mataraman dan dipercaya menjadi Program Director Jogja Java Carnival sejak tahun 2010.

Sedangkan Bimo Suryojati adalah seorang audiovisual artist. Ia juga lahir di Yogyakarta dan sudah mengerjakan berbagai kesenian dan projek komersial sejak 2005. Di tahun 2010, Bimo mulai bekerja di new media art dengan keterlibatannya sebagai fotografer untuk “Arts Island”, sebuah festival performance arts.

“Sebelum melakukan projek “Street | Life” ini, saya dan mas Alti sudah beberapa kali terlibat kolaborasi dengan Cake Industries (Jesse dan Dean). Jadi kami cukup lama kenal dengan mereka. Dari perkenalan lama dan banyak kolaborasi, kami terus saling berkomunikasi dan bertukar ide hingga terciptalah projek ini,” ujar Bimo.

Menurut Bimo, projek “Street | Life” pada intinya adalah memaknai ulang benda-benda yang kita temui di kehidupan jalanan, baik di Indonesia (Jogja) maupun di Australia (Melbourne). Pemikiran dasarnya adalah kepercayaan animisme, yaitu bahwa setiap benda sesungguhnya memiliki ‘jiwa’. Jiwa-jiwa yang ada di dalam benda tersebut menjadi saksi dari setiap kejadian yang terjadi di sekitarnya. Termasuk interaksinya dengan manusia.

“Jadi dalam projek ini kami mencoba ‘menghidupkan’ benda – benda tersebut. Di Jogjakarta, gerobak makanan adalah sesuatu yang sangat mudah ditemui, gerobak makanan adalah ‘rumah’ bagi sebagian orang. Orang berjualan dengan gerobak makanan, dan para pembeli yang datang membangun sebuah atmosfer kekeluargaan, sesuatu yang tidak kita temukan di Melbourne. Sedangkan sepeda, kami merasa bahwa sepeda merupakan bagian dari kebudayaan jalanan di Melbourne,” jelas pria yang mempunyai ijasah psikologi dari Universitas Gadjah Mada ini.

Ketika Benda Menjadi Hidup

Bimo kembali menjelaskan dirinya berkontribusi terhadap empat karya di Yogyakarta dan empat lagi karya untuk dipajang di Melbourne, yakni Bike, Wheelie Bin, Hard Rubbish Monster dan Button.

Bike adalah sebuah instalasi sepeda yang menempel dan bergerak secara acak di sebuah tiang parkir. Idenya adalah muncul setelah melihat begitu banyak sepeda yang terpakir di jalanan Melbourne dalam waktu lama hingga ditinggalkan rusak oleh pemiliknya. Sepeda-sepeda yang ditinggalkan ini kemudian saling menyatu dan menempel di tiang parkir.

Wheelie Bin merupakan tempat sampah yang banyak sekali ditemui di Melbourne, tempat sampah yang bisa membuka diri-nya dan menunjukkan sebuah keindahan di dalamnya. Ide yang ditonjolkan adalah bahwa tempat sampah memiliki sebuah gagasan kebaikan yang indah seperti ibu kepada anak-anaknya.

Hard Rubbish Monster adalah gabungan dari berbagai ‘sampah-sampah besar’ yang sering kita jumpai di Melbourne, seperti lemari, sofa, televisi, komputer dan sebagainya. Benda-benda ini lalu saling menyatu dan berjalan kesana kemari menyusuri rumah-rumah demi mencari pemilik baru.

“Sedangkan Button adalah tombol penyeberangan untuk para pejalan kaki. Tombol ini ikut bergerak di jalanan bersama dengan orang-orang. Idenya adalah bahwa di Melbourne, tombol pedestrian ini sangat bermanfaat, tombol ini menjadi penghubung dari jalan ke jalan, menjadi sesuatu yang dipercayai para pejalan kaki untuk keselamatan mereka, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan berjalan kaki,” papar Bimo menjelaskan karya seni yang dipajang.

Banyak para pengunjung eksibisi yang mengaku sangat tertarik dan mengagumi karya tradisional Indonesia yang dipajang di [email protected]. Namun, Bimo menambahkan, apa yang diperlihatkan di galeri hanyalah jejak-jejak dari projek yang mereka lakukan. “Jadi performance sesungguhnya adalah saat kami membawa objek-objek tersebut di jalanan secara gerilya, dan berinteraksi langsung dengan orang-orang.”

Saat ditanya mengenai reaksi yang didapat, Bimo langsung mengatakan yang paling menarik adalah ketika objek-objek tersebut berada di jalan. “Orang-orang bereaksi secara jujur dan spontan. Mendadak mereka melihat keranjang kayu yang berjalan di antara keranjang-keranjang kayu yang lain, atau tombol penyeberangan yang mendadak ikut berjalan bersama mereka. Demikian pula dengan objek-objek yang lain. Reaksi spontan dan jujur ini yang kita harapkan. Karena kami tidak memberitahukan kepada siapapun di jalanan tersebut bahwa ada sebuah benda instalasi karya seni. Kami berusaha untuk tidak terlihat di sana, jadi reaksi dari orang yang melihat betul-betul murni dan spontan. Ada yang terkejut, tertawa, takut, merasa aneh, bingung, ada pula yang terharu, pun banyak juga yang cuek.”

Proses Kolaborasi “Street | Life”

Untuk seorang artis yang biasa berkarya di tempat asal mereka, tentu akan merasa sedikit berbeda rasanya bekerja di negeri orang. Tetapi menurut Bimo, secara kreatif bisa dikatakan tidak ada perbedaan. Yang membuat berbeda tentu saja atmosfer yang ada, baik itu alam maupun budaya. “Mungkin juga masukan ide yang menjadi lebih variatif karena kami berlatarbelakang kebiasaan Jogja kemudian harus berkolaborasi dengan kebiasaan dan pola pikir di Melbourne,” jawab Bimo.

Proses pengerjaan juga tidak menjumpai hambatan yang berarti. Bimo menyatakan yang menjadi tantangan hanya bagaimana mengkomunikasikan berbagai ide dari empat kepala menjadi satu sebab empat orang dalam kolaborasi tersebut mempunyai dasar seni yang berbeda.

Dengan semua suka dan duka yang datang di kolaborasi tersebut, Bimo mengaku “Street | Life” merupakan kerjasama seni yang sangat menarik, dan ia maupun Altiyanto berharap kedepannya bisa melakukan lebih banyak lagi kegiatan seni bersama pihak Melbourne.

“Kami merasa memiliki hubungan yang cukup baik dan hangat, sehingga lebih mudah bagi kami untuk setidaknya membuka pembicaraan dan berbagi ide. Selain itu, kami juga merasa bahwa atmosfer kreatif di Jogja dan Melbourne memiliki kesamaan, dua kota ini memiliki gairah seni yang tinggi,” tutur Bimo mengakhiri wawancaranya dengan BUSET.

Tahap ketiga “Street | Life” akan dicanangkan di Yogyakarta bulan Juni mendatang.

 

sasha