SUATU PEKAN DI PERTH

Petualangan saya di Perth dimulai pada bulan Oktober 2008 pada waktu saya datang dengan tujuan mengecap edukasi perguruan tinggi di Australia. Orangtua saya tidak memperbolehkan saya untuk pergi ke Melbourne atau Sydney karena menurut mereka terlalu jauh jarak dua kota besar tersebut ke Jakarta, Indonesia. Berbeda dengan kebanyakan orang Jakarta lainnya yang akan merasa bosan, saya langsung menyukai Perth dari awal saya menginjakkan kaki di kota ini. Bagaimana tidak, perubahan yang begitu drastis, dari hingar-bingarnya kota Jakarta berganti dengan kesunyian Perth. Walaupun, harus saya akui, Perth berubah menjadi kota mati di atas jam lima sore. Gelap dan sepi.

The Blue House terletak di tengah Swan River

Seiiring berjalannya waktu dan perkembangan industri pertambangan di Western Australia, Perth pun berubah menjadi lebih hidup. Banyak toko-toko pakaian internasional mulai menginjakkan kaki mereka di kota Perth, seperti Zara, Topshop dan belakangan ini, H&M. Walaupun akhirnya Topshop menyatakan status gulung tikar, kami sebagai warga Perth cukup senang akan kunjungan sementara mereka, yang memberikan ‘hiburan lebih’. Saya pribadi masih menunggu akan kabar baik dari Uniqlo, yang sudah mempunyai beberapa butik tersebar di Sydney dan Melbourne.

Kalau dibandingkan dengan kota-kota di pesisir timur Australia, Perth itu bagaikan anak bungsu yang terisolasi dari pengaruh saudara-saudaranya. Berjuang sendirian di pesisir barat. Tapi kalau saya harus memilih antara menetap di Perth atau pindah ke kota lain, Perth akan selalu menjadi pilihan saya setiap kalinya. Teman-teman dekat saya pun bertanya, kenapa saya begitu betah dan kerasan. Setiap mereka bertanya saya hanya tersenyum karena mau saya jelaskan seperti apapun, mereka mungkin akan susah mengerti apalagi kalau yang memang lebih menyukai kota yang ramai. Jangan salah, Perth juga bisa menjadi tujuan wisata yang sangat menarik karena Perth mempunyai kondisi cuaca yang sangat bagus, bahkan di musim dingin sekalipun. Berikut adalah kegiatan keseharian saya sebagai seorang warga Perth di akhir pekan.

Saya bukan manusia pagi melainkan seseorang yang akan tidur larut malam dan bangun lebih siang daripada orang normal. Jadi, pagi hari di akhir pekan adalah kesempatan saya untuk bisa tidur lebih lama walaupun terkadang harus bangun pagi juga untuk pergi sarapan bersama teman-teman dekat saya. Tempat sarapan pagi yang sangat terkenal diantaranya adalah Tuck Shop, Sayers dan Sayers Sister. Rating mereka selalu paling tinggi di situs zomato atau yelp. Masalahnya, antrian selalu panjang. Saya bukan orang yang sabar, apalagi jika perut sudah berteriak meminta makanan. Baru-baru ini, untungnya, saya menemukan kafe dekat rumah yang bernama Etro. Menunya tidak pasaran, lumayan sedap dan tidak terlalu mahal. Kopinya pun lumayan walaupun menurut saya dan teman-teman kerja saya, kopi paling enak di Perth itu letaknya di daerah Victoria Park yang dijual oleh kafe yang bernama Antsinyapantz.

Dessert andalan Matcha Cream Puff with Yuzu Jelly bisa didapatkan di CHU Bakery

Rasanya juga tidak lengkap apabila tidak makan makanan manis setelah asin. Kebetulan di Perth sedang ada kafe patisserie yang sedang sangat trending di media sosial di daerah Highgate, 10 menit dari pusat kota dengan menggunakan kendaraan pribadi. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang waktu saya sampai, dan toko yang dinamakan CHU Bakery tersebut ounmasih ramai akan penggemar kue sus, donat dan croissants. Menu yang paling terkenal di CHU Bakery adalah signature matcha cream puff with yuzu jelly. Yuzu jelly yang berperisa sedikit asam diletakkan di dalam kue sus yang sudah dipotong menjadi dua bagian, atas dan bawah. Matcha cream yang lembut pun dibalurkan secara ciamik dan cantik di atas yuzu jelly tersebut, lalu penampilan dilengkapi dengan sebuah snack stick kecil rasa green tea dan potongan kue sus bagian atas. Tidak heran mengapa kue sus ini sangat diminati warga Perth, rasa matcha cream yang tidak terlalu manis dicampur dengan yuzu jelly menghadirkan rasa nan unik di lidah. Dan karena CHU Bakery terletak di seberang Hyde Park, cara terbaik untuk menikmati kue sus yang saya beli adalah dengan duduk di bangku taman menikmati pemandangan keindahan alam Perth. Hyde Park bukan lah taman yang besar tapi karena bersuasana romantis, maka banyak warga Perth yang menghabiskan waktu mereka untuk berpiknik, bersantai dan berfoto di taman ini.

Keindahan alami Hyde Park mampu memberi ketenangan hati

Setelah puas menikmati pemandangan, saya memutuskan untuk pulang ke rumah dengan berjalan kaki selama kira-kira satu jam untuk sekalian berolahraga. Dalam perjalanan pulang saya memutuskan untuk tidak menggunakan google map dan mengikuti naluri saja. Saya melewati Northbridge, yang merupakan lingkungan komunitas Asia di Perth dan juga pusat kota. Saya mengambil waktu sebentar untuk berfoto dan menikmati suasana Murray St dan Hay St Malls. Setelah itu saya berjalan melewati St George Terrace yang merupakan pusat perkantoran di Perth, jalan yang dipenuhi oleh pekerja pada hari biasa dan sepi pada akhir pekan.

Suasana Murray St

Sebelum sampai di rumah, saya lalu sadar kalau sudah lama belum mampir ke Kings Park yang memang berlokasi hanya lima menit dari rumah saya. Dari Kings Park, saya bisa melihat pusat kota Perth secara keseluruhan. Beruntung, cuaca hari itu sangatlah mendukung, kalau dilihat dari Kings Park, Perth terlihat bak sebuah lukisan biru yang indah.

Dari Kings Park, saya pergi menuju Crawley Boatshed House atau yang sering disebut ‘The Blue House’, rumah kecil biru yang berada di tengah-tengah Swan River dan sudah menjadi ikon kota Perth selama berpuluh-puluh tahun. Kalau kalian berkunjung ke Perth dan belom berfoto di the Blue House, artinya kunjungan kalian belum sempurna.

Pertokoan elit terletak di sepanjang King St

Belum sempurna juga kalau kalian belum mengunjungi pantai paling terkenal di Perth, Western Australia, yakni Cottesloe Beach yang letaknya hanya 12 kilometer dari pusat kota.

Inilah salah satu alasan saya betah dan nyaman di kota yang terisolasi ini, saya bisa berinteraksi dengan alam kapan pun saya mau. Saya mau menghabiskan waktu tiduran di padang rumput hijau bisa, mau main ombak pun  juga bisa tanpa harus berkendara jauh atau merepotkan orang lain. Dimana lagi di Australia saya bisa ke pantai, tanpa takut merasa kedinginan dan bisa menikmati udara yang cerah pada saat musim dingin? Hanya di Perth, Western Australia.

Cottesloe Beach yang terkenal hanya berjarak 12km dari pusat kota

Akhir pekan saya diakhiri dengan makan malam di Garden of Thai, sebuah rumah makan Thailand, bersama teman-teman saya, di daerah Victoria Park. Walaupun cuaca Perth sangatlah stabil dibandingkan dengan kota di Australia lainnya, tidak dapat dipungkiri kalau hidup di Perth itu mahal biayanya. Kenapa? Karena tidak banyak persaingan atau kompetisi antar usaha di Perth. Restoran tidak sebanyak Sydney atau Melbourne yang lalu menyebabkan harga makanan menjadi lebih mahal. Kendatipun, harga rumah dan tanah di Perth tetap lebih terjangkau dikarenakan lebih banyak lahan yang tersedia. Jadi bagaimana? Tertarik untuk berkunjung?

Penulis pecinta Perth

 

 

 

Thelia