Tampilannya rapi dengan potongan rambut pendek belah pinggir kanan. Pandangan matanya fokus pada selembar kertas di atas meja, sambil tangan kanannya sibuk menggoreskan bolpoin. Sementara tangan kirinya yang juga memegang bolpoin sesekali menekan kertas agar tidak bergeser akibatnya kerasnya goresan. Beberapa kali dia juga berganti bolpoin untuk mendapatkan goresan yang sesuai.

Sekilas, pria berumur 31 tahun ini tengah menulis atau mengerjakan tugas mata kuliah. Namun, setelah didekati, dia tengah membuat lukisan. Jari-jarinya terampil menggoreskan tinta dari bolpoin untuk membuat gambar yang indah.

Ya, Puji Budi Purwanto memang bukan pelukis biasa. Dia tak menggunakan kanvas kain dan cat air atau minyak untuk membuat lukisan. Warga Desa Langse RT 03/01 Kecamatan Margorejo, Pati, Jawa Tengah, itu lebih memilih menggunakan bolpoin untuk media lukisnya. Selain itu, Puji juga berbeda dengan seniman pada umumnya yang berpenampilan rambut gondrong, gimbal dan terkesan kusut.

“Untuk menjadi seniman tak selalu harus gondrong dan gimbal. Kalau saya lebih menyukai seperti ini (rambut pendek), enggak ribet. Selain itu, menggunakan bolpoin ini juga semua ruangan bisa bersih tidak ada belepotan cat di lantai maupun dinding, saya suka rapi dan bersih,” kata Puji kepada BUSET.

Dia menceritakan, awal menggunakan bolpoin untuk melukis bermula dari ketidaksengajaan. Saat itu, dia masih tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Rupa Univeritas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

“Saat itu tahun 2002, ketika mengikuti pameran lukisan oleh jurusan. Saya tertarik dengan metode lukis teman yang menggunakan poin rilis berupa titik-titik. Dia menggunakan pena sehingga tinta bisa mudah keluar dan membentuk titik-titik. Nah, saya mencoba pakai bolpoin biasa, jadinya sering macet, hingga saya tekan-tekan ujung bolpoinnya dan membuat kruwel-kruwel (mencoret acak),” paparnya.

Dari kruwel-kruwel itu, dia mengamati hingga menemukan pola yang bisa menghasilkan objek gambar. Berawal dari situlah, Puji membuat lukisan gerobak sapi yang diberi judul “Gerobak” di kertas ukuran A4 dan turut dipamerkan.

“Saya sejak awal menyukai banyak aliran mulai surealis, abstrak dan realis. Saat pameran itu saya juga menampilkan beberapa karya termasuk lukisan baru berjudul ‘Gerobak’ tersebut. Namun, usai pameran, lukisan itu hilang entah ke mana, sampai sekarang belum ketemu,” kenang pria bertinggi badan 170 sentimeter itu.

Dia menjelaskan, semula hanya fokus membuat lukisan kruwel menggunakan bolpoin warna hitam. Namun, kini dia mengembangkan kreativitasnya dengan berbagai warna tinta bolpoin yang ada di pasaran.

“Warna tinta bolpoin kan terbatas, biasanya kalau perlu banyak warna menggunakan bolpoin yang berisi empat tinta, merah, hitam, biru dan hijau. Meski begitu, saya sekarang lebih suka lukisan yang realis, jadi semua gambar sebisa mungkin harus sama seperti aslinya. Beberapa teman yang lihat lukisanku, awalnya tak mengira jika pakai bolpoin, katanya mirip objek aslinya,” ungkapnya bangga.

Menurutnya, untuk membuat lukisan pada kertas berukuran A4 menghabiskan satu buah bolpoin, yang dikerjakan selama empat hingga lima jam. Sementara jika ukuran kertas paling besar, A0, dengan komposisi gambar ful arsir membutuhkan bolpoin sebanyak tujuh hingga delapan buah, selama seminggu.

“Saya pakainya kertas foto (glossy) jadi gambarnya bisa tampak bagus. Kebanyakan lukisan foto buat kado pernikahan dan pemandangan alam. Kalau kata orang, keistimewaan lukisan ini terlihat goresan bolpoin melingkar-lingkar sehingga terlihat tiga dimensi,” tukasnya.

Dia juga tidak mematok harga mahal untuk mendapatkan karyanya. Menurut dia, harga bergantung pada ukuran kertas dan tingkat kerumitan. “Untuk ukuran A4 harganya Rp75 iibu hingga Rp150 ribu, sedangkan ukuran A3 sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu. Pernah melukis paling mahal Rp1,2 juta, cuma melukis ikan koi, laku terjual dibeli orang Denpasar, Bali,” bebernya.

Pria yang menempuh pendidikan SD-SMP di Pati itu menuturkan, hanya mengandalkan media sosial dan testimoni konsumen untuk mengenalkan karyanya ke masyarakat. Meski demikian, dalam setiap pekan ia rutin melayani pesanan pelanggan untuk berbagai ukuran.

“]“(Pemasaran) hanya pakai Facebook selama ini. Pesanan sudah mulai banyak dari daerah sini (Pati), dan sekitarnya, bahkan sekarang juga merambah hingga luar Pulau Jawa,” cetusnya.

Puji menyebutkan, melukis meggunakan media bolpoin belum banyak dilakukan seniman. Menurut catatannya, di Tanah Air baru sekitar lima seniman yang menggunakan bolpoin untuk melukis. Sedangkan yang menggunakan teknik kruwel, belum pernah dijumpainya selama mengikuti pameran di beberapa galeri.

“Ini masih jarang yang menggunakan bolpoin, mungkin sekitar lima di Indonesia. Kalau di Pati hanya saya sendiri. Harapannya teknik kruwel ini saya patenkan, karena yang pertama menemukan teknik ini adalah saya,” ulasnya.

Dia berkeinginan menciptakan sebuah galeri pribadi untuk memamerkan karya sekaligus menjadi tempatnya melukis. Pasalnya, selama ini bungsu dari dua bersaudara ini memanfaatkan ruang dan meja tamu untuk menuangkan insiprasinya melalui goresan tinta.

“Dulu saya tidak sampai lulus kuliahnya, hanya dua tahun, karena bersama teman-teman bekerja membuat spanduk. Akhirnya tidak sampai lulus. Makanya, untuk keinginan membuat galeri ini harus terwujud. Setidaknya gagal di akademik, di dunia lukis ini saya harus berhasil,” tandasnya.

tb