Ridwan Kamil, Walikota Bandung yang baru saja terpilih menjadi Gubernur Jawa Barat periode 2018 – 2023 baru saja menyambangi Melbourne. Politikus yang sebelumnya dikenal sebagai arsitek ini diundang oleh dewan kota di Hawaii dan juga Melbourne mengenai implementasi dan pengembangan Smart City.

Warga Indonesia di Melbourne antusias menyambut Kang Emil

Melongok ke belakang sebelum berkiprah di dunia politik, Ridwan Kamil sempat bekerja di Amerika Serikat selama lima tahun dan sukses mengerjakan puluhan proyek arsitektur dan desain urban di benua Amerika, Timur Tengah dan Asia. Namun kemudian Kang Emil, begitu panggilan akrabnya, tergerak hatinya untuk pulang ke Tanah Air dan berbuat sesuatu bagi kota kelahirannya, Bandung.

“Indonesia adalah negara yang indah namun banyak masalah,” begitu kata Kang Emil mengawali pertemuannya dengan warga Melbourne di Konsulat Jendral RI  tanggal 10 Agustus lalu. Menurutnya, pilihanya untuk mengajukan diri dalam pemilihan walikota di tahun 2013 didasarkan pada kekesalannya terhadap potensi yang ada di kota Bandung namun belum bisa dimanfaatkan dengan baik. Saat terjun berpolitik, ia merasa beruntung karena meski dirinya berasal dari non partai atau independen bisa ikut pemilihan walikota dan menang.

Fenomena Digital dan Perubahan Wajah Masyarakat

Kang Emil memang dikenal punya terobosan-terobosan unik dalam mengelola kota kreatif seperti Bandung, termasuk konsep pembangunan Smart City. Tentu dalam penerapannya ia banyak membaca kecenderungan orang-orang Indonesia. Misalnya saja, orang Indonesia yang jarang membaca buku. Berdasarkan penelitian, rata-rata orang Indonesia hanya mau membaca 27 lembar saja. Indeksliterasi orang Indonesia adalah di peringkat 50 dari 60 negara,menurut survei. Di sisi lain, orang Indonesia sangat suka berbicara. Maka tidak heran, pengguna Facebook, Instagramdan media sosialIndonesia berada di posisi tertinggi dari seluruh dunia.Oleh karena itu, orang Indonesia mudah terprovokasi oleh berita-berita palsu dan negatif.

Ada empat situasi yang harus dipahami oleh generasi hari ini ala Kang Emil. Pertama, Getting competitive. Di era yang sudah sangat maju, menjadi seseorang yang extraordinary sangat diperlukan. Salah satu caranya adalah menguasai beberapa Bahasa. Untuk menunjang hal tersebut, Kang Emil memberlakukan Thursday English dimana semua warga harus menggunakan Bahasa Inggris namun juga memberlakukan Sundanese Wednesday supaya warga Bandung tidak kehilangan identitasnya sebagai orang Sunda. Extra skills sangat dibutuhkan hari ini agar warganya menjadi pemenang di era yang kompetitif seperti sekarang ini.

KJRI Melbourne dipenuhi warga yang ingin bertemu dengan Ridwan Kamil

Kedua, dunia sekarang semakin ekstrim. Jika kita lihat belakangan ini, banyak orang menggunakan teknologi untuk melakukan hal-hal diluar norma, misalnya bunuh diri live on facebook, murid mengerjai guru bahkan orangtua memukuli guru. Kecanduan teknologi membuat manusia lupa pada kemanusiaan. Orang Indonesia menggunakan gadget bisa mencapai 5 jam dalam sehari, namun untuk hal yang sia-sia seperti bergosip atau ngobrollewat Whatsapp Group.Karena itulah Kang Emil selalu menghimbau untuk mengunggah hal-hal yang positif kepada kerabat dan teman dekat sehingga bisa lebih berguna.

Ketiga, konektivitas tanpa batas. Jarak bukanlah sebuah masalah. Ekonomi juga berubah ke ekonomi digital, maka dari itu pengiriman barang dapat dengan mudah dilakukan melalui aplikasi. Kejadian di Lombok kemarin misalnya juga memungkinkan untuk menggunakan teknologi untuk membantu sesama kita. Walaupun kita di Melbourne, namun kita tetap bisa memberi perhatian kita dengan berdonasi. Baru tiga hari saya membuat akun untuk berdonasi sudah terkumpul 1 miliar lebih untuk korban Lombok dan sekitarnya.

Keempat, dunia ini semakin berbahaya. Kita tahu kondisi Indonesia yang memprihatinkan karena kasus pemboman dan gerakan-gerakan ormas yang dianggap mengganggu kesatuan dan persatuan Indonesia. Maka ada baiknya, kita ingat kembali dasar negara kita yaitu, Pancasila. Pernah ada keributan yang dipicu sentimen agama. Dan itu terjadi di wilayah Bandung. Sehingga Kang Emil harus mengambil tindakan berupa diskusi kedua pihak yang terlibat. Menurutnya, walikota atau gubernur harus mampu menjadi mediator untuk menjaga pesatuan dan kesatuan negara. Hal itu dimulai dari hal yang kecil yaitu berdiskusi atau berdialog antar pihak yang terlibat. Komunikasi menjadi satu-satunya jalan keluar, bukan sekedar mengunggahkomen di Facebook (komunikasi satu arah) yang malah menyulut peperangan.

Mengelola Smart City, Kota Berwawasan Masa Depan

Dengan lebih dari 300 aplikasiuntuk Kota Bandung, beliau secara positif menyatakan bahwa Smart City berhasil membawa negara kepada masyarakat bukan lagi masyarakat yang datang ke kantor.Keterbukaan dan kedekatannyadengan warga ditandai dengan aktifnyaKang Emildi media sosial sepertiTwitter dan Instagram. Semua masyarakat dapat langsung mem-followdan berkomunikasi langsung dengan sang walikota. Bahkan uniknya, ia sudah menjodohkan lebih dari 12 pasang melalui akun Instagramnya.

Ketua Indonesian Diaspora Network Victoria, Sulistyawan Wibisono memberikan kenang-kenangan kepada Kang Emil

Dengan adanya kemudahan yang diberikan dunia digital, ia pun telah beralih membuat bujet melalui e-budgeting. Kang Emil mengaku dapat lebih efektif menggunakan uang untuk kepentingan masyarakat dan memangkas proyek-proyek yang tak perlu. Tentunya masih banyak lagi konsep baru yang sudah dilaksanakan atau bahkan masih dalam tahap pengembangan Kang Emil untuk beberapa tahun kedepan. Semoga bisa terus menjadi pemimpin yang melayani rakyatnya dengan sepenuh hati dan sudah tentu kunjungan singkatnya di Melbourne sambil menyapa para warga Indonesia di Melbourne begitu berkesan.

 

 

 

 

Devina