Sejak 1983 Festival Pako Festa sudah menarik perhatian banyak orang. Pako Festa merupakan perayaan multikultural yang diadakan setiap tahun di Geelong – kota dengan populasi terbanyak ke-dua setelah Melbourne di wilayah Victoria.

Festival sehari itu memuat segudang acara, diantaranya bazar makanan, hiburan keluarga, pertunjukan musik dan tarian tradisional berbagai bangsa. Salah satu program acara yang paling ditunggu-tunggu adalah Parade Pako Festa yang dimeriahkan komunitas dari berbagai bangsa. Tak kurang dari 40 komunitas dan 60 organisasi masyarakat turut ambil bagian mempertontonkan tradisi dan budaya masing-masing. Indonesia sudah pasti tidak ketinggalan.

Ini kali kontingen Indonesia dipimpin Komunitas Indonesia di Geelong (Indonesian Association Geelong) dengan mempromosikan Kain Tenun dan Batik, sesuai dengan tema Pako Festa 2014: Weaving of Cultures.

Ketua bagian Sosial dan Budaya Rini Meerbeek mengatakan jika meskipun ini sudah tahun ketiga Komunitas Indonesia di Geelong turut serta di Parade Pako Festa, pihaknya baru pertama kali diberikan kepercayaan untuk mengorganisir oleh Konsulat Jenderal RI wilayah Victoria. Keterlibatan Indonesia di Pako Festa tahun-tahun sebelumnya ditangani kepanitiaan ormas berbasis Melbourne.

Tidak ada kesulitan dalam mencari para sukarelawan yang ingin berpartisipasi dalam parade. Sebaliknya, Rini justru terpaksa menolak puluhan orang karena sudah melebihi batas maksimum yang ditentukan, yakni 50 peserta per kontingen. “Komunitas Indonesia di Geelong sudah semakin besar… mereka sangat antusias,” ujar Rini.

Rini yang kebetulan bekerja di organisasi kemanusiaan yang mendukung multikulturalisme, Diversitat, mengajukan permohonan agar jumlah anggota parade kontingen Indonesia dapat ditambah hingga akhirnya disetujui menjadi 70 peserta. “Tapi tetap masih ada yang tidak kebagian… mereka terpaksa musti nunggu giliran tampil tahun depan,” tutur Rini.

Sedikit tidak biasa, ini kali terlihat beberapa peserta parade yang berperawakan asing mengenakan pakaian tradisional Indonesia. Rini menjelaskan jika memang ada beberapa bangsa asing, diantaranya warga Filipina dan lokal Australia yang sedang mempelajari Bahasa Indonesia menawarkan diri untuk ikut serta. Tentunya ketertarikan warga asing terhadap budaya Tanah Air merupakan kebanggaan tersendiri bagi kita.

Selain parade, komunitas Indonesia pula mempersembahkan tarian adat Bali dan Betawi di panggung hiburan Pako Festa 2014.

Secara keseluruhan usaha Indonesian Association Geelong perlu diacungi jempol sebab meski baru pertama kali, jerih payah mereka telah membawa nama Indonesia menjadi juara ke-dua kategori Parade Terbaik yang Sesuai Tema. Dalam sepuluh tahun terakhir sejarah Pako Festa, Indonesia dianugerahi penghargaan The Most Culturally Aware pada 2006, 2008, 2010, 2011 dan 2012.

Menutup wawancaranya, Rini mengucapkan “terimakasih kepada semua teman-teman di Geelong dan Melbourne yang telah membantu suksesnya acara street parade, food festival dan kepada voulenteer di luar komunitas Indonesia.”

GALERI FOTO
foto: buset