Sayup-sayup terdengar suara merdu permainan alat musik yang diiringi angin yang berdesir pada malam itu. Melodi yang mengalun terasa begitu mendamaikan hati. Melangkah lebih dekat, maka semakin jelaslah instrumen yang tengah dimainkan adalah gamelan. Gamelan merupakan alat musik khas Indonesia yang begitu mendunia tentunya. Betapa tidak? Penikmatnya tersebar di penjuru Bumi, dan pecintanya tidak terbatas pada usia maupun ras/kewarganegaraan.

Salah satu ruang konservatorium musik Melbourne University di kawasan Parkville berperan sebagai tuan rumah acara pada hari itu. The Final Gong, demikianlah nama acara tersebut, merupakan pertunjukan akhir semester yang diadakan oleh murid-murid yang mempelajari gamelan di University of Melbourne. Ajang tersebut memberikan kesempatan bagi para murid untuk unjuk kebolehan mereka, setelah melewati 12 minggu pengajaran oleh Ilona Wright.

Lebih dari 50 orang memenuhi ruangan sederhana yang terletak di lantai 2 itu. Mereka yang hadir pada malam tersebut di antaranya adalah orangtua para murid dan anggota keluarga mereka lainnya. Seringkali terlihat para orang tua mencuri senyum bagi anaknya dengan harapan untuk mengurangi rasa tegang yang mungkin mereka rasakan. Para murid yang cukup beruntung dan melihat senyuman tersebut pun membalas tersenyum, dan paras mereka seketika melembut.

 

Ilona Wright, sang guru

Pertunjukan pada malam itu dibagi menjadi tiga bagian. Diawali dengan kata sambutan oleh Ilona, permainan gamelan pun dibawakan oleh sejumlah 26 murid. Mereka dibagi menjadi dua kelompok dan masing-masing membawakan tiga buah lagu. Berbincang dengan Ilona, yang juga adalah seorang pianis, beliau mengungkapkan, “sebagian besar murid gamelan saya tidak memiliki latar belakang musik sama sekali. Jadi mereka betul-betul belajar dari nol. Tapi mereka semua sangat menyukai pelajaran ini, terutama karena ini sangat berbeda dengan studi dan mata pelajaran mereka lainnya.”

 

 

Setelah penampilan mereka usai, Dr. Wang Zheng-Ting dipersilakan oleh Ilona untuk memperkenalkan diri dan juga alat musik yang dibawanya, sheng. Sheng merupakan sebuah instrumen kuno dari Tiongkok yang memiliki bentuk yang sangatlah menarik. Ketika dimainkan, jenis suara yang dihasilkan alat musik tiup tersebut mirip dengan alat musik akordion. Para penonton yang hadir pun sangat terpukau dengan keunikan sheng.

Dr. Wang Zheng-Ting memainkan alat musik sheng

Memasuki babak ketiga dan terakhir The Final Gong, Melbourne Community Gamelan (MCG) membawakan tiga buah lagu dengan piawai. Penampilan mereka sungguh mengesankan. MCG telah terbentuk semenjak tahun 1990 dan beranggotakan warga lokal Australia yang memiliki minat luar biasa dalam seni musik gamelan. Ilona menambahkan, “yang sangat istimewa dari gamelan adalah, tidak ada satu instrumen yang lebih penting daripada instrumen lain. Yang juga berarti tidak ada satu pemain yang lebih penting daripada pemain lainnya. Setiap alat musik memiliki perannya masing-masing dan semuanya bekerja bersama-sama. Unity in diversity.”

Setelah semua pertunjukan berakhir, acara pun dilanjutkan dengan hidangan sederhana yang dinikmati para penonton sembari berbincang satu dengan lainnya. Para murid juga tampak begitu lega setelah telah melewati acara akhir semester tersebut tanpa halangan yang berarti. Hingga akhirnya satu per satu para hadirin berpamitan dan meninggalkan ruangan tersebut untuk pulang dan beristirahat di rumah masing-masing. Yang tersisa adalah suatu rasa kepuasan tersendiri, sebagai orang Indonesia, untuk menyaksikan betapa gamelan digemari oleh orang Australia.

Lagu-Lagu yang Dibawakan
University of Melbourne Student Gamelan Ensembles

Kelompok 1:
Lancaran Baito Kandhas Slendro Manyurå
Ladrang Asmåråndånå Slendro Manyurå
Lancaran Udan Mas Pelog Barang

Kelompok 2:
Lancaran Tropongbang Pelog Lima
Ladrang Parisukå Pelog Nem
Lancaran Kandhang Bubrah Slendro Manyurå

Melbourne Community Gamelan:
Lancaran Singånebah Slendro Nem (Pouncing Lion)
Ladrang Ayun Ayun Pelog Nem (Swinging)
Lancaran Sluku-sluku Bathok Slendro Manyurå

Apa Kata Mereka

Royce Steven

Royce Steven It’s fun, karena sebelumnya aku ga pernah belajar musik, jadi ini sebuah pengalaman baru ya,” sebut mahasiswa ekonomi University of Melbourne ini. “Seru sih belajarnya, tapi mungkin bagi yang belum pernah belajar musik agak susah ya, sebab belajarnya terbatas banget. Seminggu hanya sekali dan di rumah ga mungkin punya alat musiknya kan,” lanjutnya sembari tertawa. “Jadi hanya seminggu sekali dan kadang lupa juga. Belajar hari ini, kalau minggu depan lupa ya harus mulai dari awal lagi. Lumayan intens, tapi juga menyenangkan dan ga bikin stres. Ada kegiatan selain belajar di library, something completely different gitu,” tutup mahasiswa yang berasal dari Indonesia ini.

 

 

Laura Kirkwood

 

Laura Kirkwood I really enjoyed it!” seru Laura yang merupakan seorang pemusik perkusi (percussionist). “It was a really big change for me, particularly as a musician. I guess obviously first of all the instruments itself, but the feeling of the beat, the rhythm, the music. Very different to what I was traditionally taught and brought up learning music. I find it quite hard at first, but it was very interesting to see all the intricate elements that work together to form an overall sound. We had a great teacher, of course.”

 

 

 

 

 

Aine Watanabe I loved it and I may even continue and join the Gamelan community,” jawab Aine yang pernah belajar piano, biola, cello, dan flute ketika ia kecil hingga usia high school. “We did Javanese Gamelan here at the university so next time, I want to try Balinese Gamelan. There are certain characteristics about Javanese music which can be hard to play on certain instruments. Melodies change quickly, the pace changes quickly. I played the metallophone this time and it wasn’t too difficult to follow. I think some students find it very difficult to play some of the instruments, because it is very different from Western instruments. However, we all had a great time learning together, that’s for sure.”
Noriko Watanabe “Bagus sekali pertunjukannya! Sedikit mengingatkan saya pa

Aine Watanabe (kiri) dan Noriko Watanabe (kanan)

da tipe musik yang saya dengar ketika berada di Thailand. Mungkin karena negara tetangga, jadi masih ada kemiripan. Ritme yang dimiliki keduanya cukup mirip dan bunyinya peaceful and comfortable. Ilona adalah seorang guru yang sangat passionate. Putri saya, Aine, memutuskan untuk belajar Indonesian music semester ini dan dia sangat menyukainya. Dia juga selalu bilang kalau gurunya, Ilona, memiliki minat yang sangat besar terhadap musik Indonesia. Kapanpun ia mengajar di kelas, Ilona selalu tampak sangat gembira. Jelas sekali kalau dia begitu senang mengajar gamelan.”

 

Ishie