Untuk yang pertama kalinya PPIA ranting Melbourne University mengadakan acara The Forum: “Meet The Experts” yang bertujuan untuk memberikan platform interaktif mengenai kondisi Indonesia dewasa ini.

Acara yang dilangsungkan di ruang teater gedung Chemical Engineering, The University of Melbourne, Maret kemarin mengangkat tema Asean Economic Community (AEC) dan mengundang Profesor Mari Elka Pangestu, Ph.D sebagai pembicara.

Melalui pengalaman dan kepiawaian Mari yang sempat menjabat sebagai Menteri Perdagangan ke-30 periode 2004-2011 dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ke-13 periode 2011-2014, para peserta The Forum mengetahui lebih dalam mengenai dampak perjanjian negara-negara ASEAN yang dicanangkan AEC terhadap jalur bebas barang dan tenaga terampil (free flow of goods dan free flow of skilled labour) yang dijadwalkan untuk mulai dijalankan tahun ini. Topik tersebut memicu diskusi menarik di antara 100 peserta yang hadir yang kebanyakan datang dari kalangan mahasiswa. Kesiapan sistem keamanan dan hukum Indonesia dalam menghadapi ekonomi bebas ini menjadi salah satu perbincangan hangat di sesi tanya jawab The Forum.

Highlight acara lainnya adalah pemutaran video inspirasional yang menceritakan seorang warga pedesaan yang sukses menjadi desainer grafis dan mengajak warga lain di desanya untuk mengikuti jejaknya. Alhasil, mereka yang kesehariannya menjadi petani dengan penghasilan pas-pas-an dapat menjadi seorang desainer pada malam hari dan menghasilkan uang tambahan. Hebatnya lagi, kebanyakan klien mereka adalah perusahaan besar di luar negeri dimana mereka harus berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris. Namun kendala bahasa ini pun dengan mudah teratasi dengan menggunakan Google translate.

Hal di atas menjadi bukti nyata kemajuan teknologi yang berkontribusi pada peningkatan ekonomi masyarakat Indonesia. “Bahkan dengan handphone yang sekarang bisa dibeli seharga 300ribu rupiah pun masyarakat bisa berbisnis online,” papar Mari.

Di lain pihak, infrastruktur negara Indonesia merupakan salah satu faktor yang masih dianggap kurang baik oleh masyarakat lokal maupun internasional. Hal ini salah satunya terlihat dari kemacetan, terutama di Ibu Kota Jakarta, yang tak kunjung terselesaikan sehingga membuat keresahan dalam dunia ekonomi.

“Bila dibandingkan, biaya logistik di Jepang berada di angka 6%, sedangkan Indonesia bisa sampai 30%,” papar Mari seraya memberi contoh dimana dalam satu hari, bila tidak terbentur macet, sebuah truk logistik dapat menempuh tiga rute tujuan, tapi kenyataannya hanya bisa satu tujuan.

Kesiapan Indonesia dalam menghadapi pasar AEC 2015 akan sangat diuji, terlebih lagi dengan populasi Indonesia saat ini, Indonesia memegang 40% porsi pasar ASEAN.

Berbagai tanggapan positif mengenai The Forum terlontar dari kalangan peserta. Bahkan Mari yang ternyata juga pernah menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Amerika Serikat, menilai inisiatif para pelajar untuk mengadakan forum diskusi seperti ini adalah sangat baik dan menunjukkan kepedulian terhadap Bangsa Indonesia serta kemajuan pemikiran para pelajar masa kini.