Kemampuan bayi tentunya terbatas. Berkomunikasi hanya lewat tangisan, aktivitasnya pun terbilang hanya makan dan tidur. Setelah menyusui atau dibuai nyanyian pengantar tidur biasanya mata mungil bayi akan tertutup dengan cepat. Nah, beranjak dewasa kita akan mengenali spesies “bayi besar”. Mereka tak mau “bangun” meski sudah dewasa.

Siapa sajakah bayi-bayi besar yang dimaksud? Salah satunya, kaum inteligensia, atau jika menengok kamus Bahasa Indonesia berarti kaum intelektual, para cendekiawan. Di era yang begitu bergegas dan cepat berubah, mereka tetap duduk diam dalam kondisi nyaman. Mereka bicara di depan publik dengan kapasitas sebagai ahli, namun tidak dapat membaca situasi aktual.

Kemerosotan sistem pendidikan adalah salah satu contohnya. Murid-murid bukan lagi buta huruf, tetapi buta akan kondisi sosial pada masyarakat. Mental dalam pembelajaran semakin hari semakin tidak menarik. Adapun situasi ini diperparah oleh sikap pengajar yang sibuk menghitung hari libur. Ditambah lagi dengan sekolah-sekolah yang sekadar mengejar profit. Mereka tidak akan pernah bisa menjadi institusi pendidikan yang mandiri dan berhasil membangun generasi yang mawas.

Sangat disayangkan apablia sekolah-sekolah independen hilang dari eksistensinya. Sebagian besar dari mereka tidak bisa bersaing dengan sekolah-sekolah “elite” dengan modal yang tinggi, serta fasilitas-fasilitas mewah. Tidak ada relevansi antara fasilitas mewah atau ruangan dingin nyaman dengan proses mengasah daya kritis dan pikir murid. Yang terjadi sebenarnya hanyalah “menyuapi” gengsi dari orangtua dan murid—mereka yang bangga disebut kaum elite.

Adakalanya, pemikiran-pemikiran yang belum matang bisa dilatih untuk menjadi lebih dewasa, Tapi seakan-akan semua itu tidak terwujud dalam pandangan saya. Buku-buku telah hangus dibakar oleh arogansi media sosial yang instan dan tidak memiliki kedalaman yang cukup. Komunikasi antar guru dan murid hanya sebatas yang dibayar dan yang membayar. Pada masa Yunani Kuno, mereka yang disebut “sophist adalah orang-orang yang mengajar demi sesuatu—biasanya konotasinya negatif. Sekarang, mereka juga hadir di era modern ini.

Pengajar-pengajar yang seharusnya mengajar demi majunya calon-calon inteligensia, sekarang lebih nikmat mendengkur dan tidur, menunggu murid-muridnya ikut terlelap juga. Tetapi mereka juga khawatir dengan status mereka. Kehadiran pengajar-pengajar tak berlisensi siap datang membantu para murid yang tersesat. Padahal, kalau dipikir dengan matang, mereka juga tersesat dalam mimpi buruk sistem pendidikan.

Kehadiran para pengajar yang inisiatifnya untuk dibayar ini digunakan oleh institusi-institusi tandingan, bimbingan belajar namanya. Bukannya dibimbing untuk menjadi dewasa, melainkan para murid diajarakan cara cepat untuk dapat nilai tinggi atau sekedar fokus untuk menjadi “mahasiswa“. Inilah kebangkitan dari mahasiwa-mahasiswa yang kebut-kebutan. Ada dari mereka yang lolos ke dalam universitas-universitas elite. Bagi yang tidak diterima, mereka akan menyerahkan diri pada universitas privat.

Keadaan yang klise kembali lagi terjadi dalam universitas, universalitas melawan privatisme pendidikan. Tidak ada bedanya dari kedua bentuk institusi tersebut bila dilihat dari perilaku mahasiswanya. Kebanyakan dari mereka mulai tertidur lelap dengan kondisi mereka, bersantai dan minta penghargaan karena sudah menjadi mahasiswa.

Untuk membangunkan mereka yang tidur memerlukan perjuangan yang luar biasa. Kaum inteligensia yang masih sadar akan permasalahan ini akan selalu tergerak dan berusaha membangunkan mereka yang tidur. Dan mereka yang berhasil dibangunkan akan segera bangkit dari kasur yang empuk. Namun ini adalah pekerjaan rumah yang tidak mudah.

Sudah saatnya mereka bangun dan menghadap kepada realitas masyarakat. Bagi kalian yang  tidak digolongkan  pada kaum inteligensia, kalian adalah harapan satu-satunya untuk menjadi pemikir-pemikir independen. Tidak semua pembelajaran dilakukan di sekolah berlantaikan marmer, namun kini pembelajaran bisa dilakukan di mana saja. Belajarlah di manapun kalian berada. Batasan untuk menjadi kaum inteligensia hanya satu: ketidakpedulian. Jangan pernah tidur ketika teriakan minta tolong terdengar.

 

 

Kevinng