Seniman asal Bandung Tisna Sanjaya mendapat kehormatan sebagai seniman Indonesia pertama yang tergabung dalam Indonesian Artists SITUATE Residency, sebuah program kerja sama antara RMIT, Project 11, dan Multicultural Arts Victoria.

Melalui program ini, Tisna berkesempatan menetap di Melbourne selama satu bulan untuk membuat sebuah karya seni yang pada akhirnya dipamerkan di SITE EIGHT, Building 2, RMIT University selama dua pekan dari tanggal 2 Maret 2018. Tahun lalu seniman penerima Anugrah Adhikarya Rupa 2014 itu juga telah terlibat untuk pertama kalinya dalam rangkaian festival seni Asia Topa di Melbourne. Kala itu Tisna mengangkat tema “Art is a Prayer”.

Di minggu pertama menetap di Melbourne, Tisna yang sudah menjadi seniman selama 40 tahun ini langsung mendapatkan tiga ide karya, salah satunya melibatkan teknik pengikisan logam dengan asam untuk membentuk ukiran, yaitu etsa.

Menurutnya, seni grafis etsa menjadi medium yang sempurna untuk menyampaikan pesan kultural dari karya seninya kali ini.

“Seni grafis etsa ini adalah seni yang hubungannya secara kultural. Masing-masing seniman punya cara sendiri, yang penuh dengan kontemplasi. Ketika proses pembuatannya, saya belajar pada orang-orang Melbourne, para empu ahli dalam seni grafis. Jadi saya bilang ini etsa kultural, etching culture,” ujar Tisna.

Mengacu pada definisi teknik etsa yang menggarisbawahi kata proses, Tisna juga lebih mengutamakan proses pembuatan dibanding produk akhir yang nantinya akan dipamerkan.

Berlatar ruang praktik seni di Building 39 RMIT University, Tisna mendemonstrasikan sebuah proses seni yang melibatkan campuran bahan gula dan pewarna dan 11 buah plat tembaga yang terletak di lantai mengelilingi dua buah mesin cetak besar.

Berpakaian sederhana hitam dan putih, Tisna melumurkan campuran gula dan pewarna pada tangan dan kakinya lalu melakukan shalat di atas setiap kesebelas lembaran tembaga. Hasil cetakan anggota tubuh berupa tangan dan kaki ini lalu melalui proses etsa.

Dalam karya seni tersebut, Tisna juga menyelipkan pesan spiritual. Ritual shalat dan peletakan mesin di tengah kesebelas plat tembaga yang mengikuti tata letak kota suci Mekkah ini masing-masing memiliki makna tersendiri.

“Sesudah shalat, bisa maghrib, subuh, biasanya muncul banyak ide. Kadang kalau habis sholat itu khusuk. Banyak inspirasi. Apalagi sesudahnya. Tentang peletakan mesin, kalau kamu lihat di Mekkah itu kan ada kabah, saya idenya dari situ. Dari kiblat. Jadi saya menyerap nilai-nilai spiritual itu. Tapi kiblatnya seni etsa,” ungkapnya.

Melalui proses pembuatan selama tiga minggu, kesebelas plat tembaga yang sudah melalui proses pengasaman etsa dipamerkan di SITE EIGHT, Building 2, RMIT University pada tanggal 2 hingga 15 Maret 2018.

Pada tanggal 1 Maret 2018, Tisna melakukan seni pertunjukan untuk membuka pameran tersebut. Acara ini salah satunya dihadiri oleh Konsul Jenderal Republik Indonesia di Victoria dan Tasmania Spica Tutuhatunewa.

RMIT, Project 11, dan Multicultural Arts of Victoria berharap bahwa peluang yang diberikan kepada Tisna Sanjaya melalui SITUATE Artists Residency menjadi awal pembangunan hubungan baik antara Australia dengan Indonesia melalui seni.

 

 

Nasa