Gamelan Putra Panji Asmara mengunjukkan kebolehan mereka dalam acara bertajuk Gamelan & the Cirebon Mask: A Dance Cycle, yang berlangsung selama tiga hari dari tanggal 22 hingga 24 September silam di aula Dance Hall.

Mengikuti gaya tradisional Cirebon, acara tersebut menggabungkan lima arketipe sifat manusia, yaitu refined (beradab), playful (kelakar), settled (ketentraman), steadfast (kukuh), dan crazed (kegilaan) ke dalam suatu pertunjukan seni yang berdurasi satu jam.

“Kelima arketipe ini kami tampilkan mengikuti gaya rakyat Cirebon. Keberadaan pelawak, dialog, dan interaksi antara penari dan pemain gamelan, semua ini adalah bagian dari tradisi Tari Topeng di Cirebon,” jelas direktur musik dan tari Gamelan & the Cirebon Mask: A Dance Cycle, Michael Ewing.

Michael memanfaatkan festival seni tahunan di Melbourne, Fringe Festival, sebagai ajang untuk memperkenalkan kesenian Cirebon yang merupakan perpaduan dari cabang seni musik (gamelan), tari (Tari Topeng), rupa (kostum), dan dibumbui oleh elemen senda gurau. Nama Putra Panji Asmara sendiri rupanya terinspirasi dari grup gamelan milik Sujana Arja dari Desa Slangit, Cirebon, yaitu Panji Asmara. Almarhum adalah guru tari dan musik Michael ketika masih tinggal di California, Amerika Serikat.

“Menurut kami, Fringe Festival menjadi ajang untuk mempertontonkan bagaimana sih sebenarnya gaya tari dan musik dari Cirebon itu kepada para penonton Australia,” paparnya.

Acara dibuka dengan persembahan tari dari penari Ade Suharto dan Ning Hall, disusul penampilan kelakar oleh Helen Pausacker, dan berujung pada tarian dan dialog singkat yang diperagakan oleh Michael Ewing dan Ade Suharto, yang sebagian dinarasikan oleh Helen Pausacker. Seluruh rangkaian acara ini tidak pernah lepas dari iringan musik tradisional Cirebon. Tepuk tangan dan tawa dari puluhan penonton yang hadir telah menjadi penyempurna acara utama Gamelan Putra Panji Asmara di tahun 2017 tersebut.

Proses latihan yang memakan waktu berminggu-minggu nyatanya telah membuahkan hasil. Keempat belas anggota yang tampil malam itu membuat Michael merasa bangga akan grup yang sudah berdiri sejak lima belas tahun yang lalu tersebut. “Penonton kelihatannya sangat menikmati dan kami senang akan hal tersebut,” kata Michael.

Michael Ewing

Michael pula berharap agar penonton Australia yang hadir dapat mengetahui lebih jauh keragaman budaya Tanah Air. “Karena kebanyakan orang tahu kesenian dari Jawa dan Bali, namun tidak tahu aliran berbeda musik dan tarian tradisional daerah lainnya di Indonesia. Melalui acara ini, kami berharap lebih banyak orang Australia tertarik untuk belajar lebih jauh tentang Indonesia,” ucapnya.

“Menurut saya, pertunjukan ini adalah sebuah karya yang menggambarkan tradisi pedesaan Cirebon yang sangat hidup. Bahwa pertunjukan ini bukanlah sesuatu yang serius di atas panggung, namun adalah suatu atraksi yang engaging karena hanya ada jarak kecil antara orang-orang yang tampil dengan penonton,” tambah Michael lagi.

Keseluruhan acara berlangsung dengan meriah. Hampir semua penonton yang hadir pun mengaku terpesona pada keindahan budaya Cirebon.

 

APA KATA MEREKA

SUNNY

I knew this event from my friend, Ash, who I study a PhD with. She is playing in the gamelan. I think the performance was fun. Actually, it was more fun than I thought it would be. It was good because it’s small, and you’re quite close to the orchestra, I think it was fun to watch and not too serious but also, good music, I enjoyed it. I like the fight, I just like when they take the mask on and off, I thought that was pretty cool. Also, I love the different characters of the the dancers. I should come and see more of them. It’s good!

MONICA

Saya tahu acara ini dari teman, soalnya ada satu teman, Cindy. Dia main gambang. Dia yang kasih kabar. Lagipula, saya juga penasaran karena belum pernah lihat penampilan Topeng Cirebon.

Menurut saya acara ini bagus, ya. Awalnya saya hanya pernah lihat Tari Topeng sekilas gitu di TV, atau lihat fotonya, tapi gak pernah nonton sendiri. Saya suka style Jawa Barat yang lebih cepat dari Jawa Tengah. Jadi, saya absolutely suka pertunjukan ini karena lebih dinamik, lebih fast paced, juga engaging.

Untuk kritik, saya pikir mungkin durasinya kalau bisa lebih lama sedikit, ya. Tadi kan satu jam. Maksudnya, kalau satu jam setengah kan paling tidak bisa ada seru-serunya, lebih ada variasi, dan lebih oke. Tadi saya suka banget yang pas ada story, cerita yang sangat berkesan. Soalnya saya suka dengerin wayang juga dulu di radio gitu. Kalau ada story kan lebih ada konteks lah dari movement-nya gitu.

NELLY

I came to know this show from one of my friend who is one of the dancers, Ade. I think it was very enjoyable. I really love the mask dancing, I don’t know the proper term for it, but also like the group musicians and dancing, and I particularly love the way the stage is also the set for them to change their mask or costumes. I really enjoyed it. It was a very friendly, very intimate stage in this theatre, so compared to a big theatre, this seemed more informal, and the audience was really much a part of it, rather than that very removed performers and audience. It seemed that they were like, in a way, more friendly, it was very engaging. It made you feel connected, because it wasn’t so perfect, in a way, that you could see them speaking to each other, and moving around. 

For the critics, I suppose with the Fringe festival, maybe just the advertising. I mean, I heard about it because obviously, my friend. I didn’t see anything about it anywhere else. 

I know a little bit about the group through my friend, but it would’ve been just interesting just to hear how they come to perform together. It would be interesting to connect a little bit more, maybe look out for other performances. Maybe just a little bit of commentary, while they put those particular dances together, maybe a little bit of the history of the performance and the people. I would’ve wanted to know that because I was thinking how they choreographed these, are they all dancers, or new interpretation. 

 

 

 

Nasa