Pada pertengahan September silam, acara mengeja The Great Australian Spelling Bee untuk anak-anak berusia antara 8 hingga 13 tahun yang ditayangkan di stasiun televisi lokal Channel TEN, telah menemukan pemenangnya untuk tahun 2016. Hebatnya, pemenang season kedua acara tersebut tak lain adalah Hafizh Tristan Bramanta, atau yang lebih akrab disapa Tristan. Berawal dari 36 anak, Tristan akhirnya berhasil mencapai babak final. Dan setelah bersaing dengan tiga kontestan lainnya, ia sukses menggondol titel anak Indonesia pertama yang membawa pulang piala Great Spelling Bee.

“Awalnya karena lihat iklan kalau mau masuk (acara) harus ke website-nya. Dari dulu sudah suka spelling tapi belum tahu kalau bisa sebagus itu. Di sekolah nggak pernah latihan, cuma nonton spelling bee yang pertama kok bisa benar. Jadi aku merasa kayaknya aku bisa nih. Pas pertama kali tegang, tapi aku merasa beberapa orang kayaknya bisa aku kalahin. Tapi nggak terlalu cocky gitu, go with the flow saja. Anak-anaknya juga baik semua,” ujar si tampan yang baru akan memasuki usia remajanya itu.

Tristan bersama kedua orangtuanya, Sigit Prasetyo dan Luluk Hanifah, sekaligus adiknya Reyna Chiara Laksita pertama kali pindah ke Melbourne pada tahun 2008. Kala itu sang ayah dipindah-tugaskan oleh perusahaan tempat ia bekerja. Tristan yang masih tergolong balita lalu mulai belajar Bahasa Inggris dan menghadiri sekolah di Melbourne. Kendatipun, Bahasa Indonesia tetap masih menyantol di benaknya sebagai bahasa yang sehari-hari digunakan di tengah keluarganya.

Tantangan yang dihadapi orangtuanya saat baru pindah ke negeri asing pun tidak mudah. “Kita jadi harus close dan tight hubungannya, soalnya kan nggak ada yang bantuin. Teman juga awalnya belum ada, akhirnya bergantung sama sistem. Kalau sekarang anak sekolah sudah enak. Waktu awal kan saya nggak kerja, terus setelah anak ada before dan after school care, saya mulai kerja part-time. Back-up -nya yang sulit kalau aku sakit apa semacamnya. Belum lagi anak-anak makan waktu setahun untuk bisa Bahasa Inggris,” ujar Luluk sewaktu ditanya bagaimana perjuangannya saat baru pertama kali bermigrasi ke tanah Kangguru dari tempat tinggal asal mereka di Depok. Ketika awal ia dan suami memutuskan untuk pindah, Tristan baru saja berusia 3 tahun dan adiknya, Reyna berusia 1 tahun.

Tristan bersama kedua orang tuanya, Sigit dan Luluk, dan adiknya, Reyna
Tristan bersama kedua orang tuanya, Sigit dan Luluk, dan adiknya, Reyna

Saat ini Luluk berprofesi sebagai asisten pengajar di Taman Kanak-Kanak setempat. Menurutnya, semua kembali ke keluarga, sebab jika bukan di Taman Kanak-Kanak, saat anak-anaknya libur, ia masih harus bekerja. Jadi, selain gemar mengajar, Luluk mengambil posisi tersebut juga agar dapat berada di dekat anak-anaknya ketika mereka libur sekolah. “Di Indonesia kan saya kerja full time, pas sampai di sini saya mau coba apakah bisa dapat kerjaan lagi, mau coba yang part-time. Untung sistem di sini mendukung,” tambahnya seraya bersyukur.

TRISTAN Salah satu hal yang pasti berubah bila menetap di “negeri orang” adalah menjadi golongan minoritas. Namun Luluk merasa beruntung keluarganya tidak pernah ada yang mengalami diskriminasi selama tinggal di Australia. Malahan, ia merasa orang-orang sekelilingnya cukup menerima sekaligus memberi dukungan.

Begitu pula dengan Tristan, pemuda 11 tahun ini mengaku tidak pernah merasa dikecilkan selama bersekolah dan berteman. “Pernah aku di-bully beberapa kali, cuma aku bisa fight back,” katanya mantap.

Mengulas sedikit tentang awal mula ketertarikan Tristan dalam hal mengeja, Sigit mengatakan tidak ada latihan khusus yang diikui anak sulungnya itu. “Tristan itu nggak latihan spelling. Hobinya dia baca buku, dan nggak difokuskan baca kata-kata, cuma baca keseluruhan buku saja. Nanti kalau ada kata-kata baru, biasanya diinget sama dia,” aku Sigit.

“Di sekolah pelajarannya juga nggak khusus mengeja, pelajaran normal saja,” tambah pria 41 tahun ini. Sigit pula mengatakan, jika di negara bagian Australia lainnya ada acara mengeja tingkat nasional seperti Premier’s Spelling bee yang diadakan di New South Wales, di Victoria justru tidak ada. “Jadi Tristan suka nulis, tapi diulang-ulang tulisannya. Terus nanti kata itu dipakai dalam kalimat, dipakai dalam game.”

Sedikit bercerita mengenai pengalaman membanggakan ini, sang bunda mengatakan sebelum Tristan berhasil menjadi peserta The Great Australian Spelling Bee, ia harus mengikuti beberapa tes yang sudah disiapkan panitia. “Awalnya di-tes komputer dulu, terus ngetik-ngetik, di-tes lewat skype, interview sama psikolog, interview sama produser, dan terus ikut audisi sampai akhirnya dipilih 36 dari ribuan anak yang diaudisi,” jelas bangga.

Hebatnya, siswa yang baru duduk di bangku kelas 5 ini mampu menyebutkan nama kota di Wales, United Kingdom, yang terkenal karena panjangnya mencapai 58 huruf, yaitu Llanfairpwllgwyngyllgogerychwyrndrobwllllantysiliogogogoch, dan hal ini menjadi salah satu penentu yang membantunya lolos audisi.

Akan tetapi perjalanan Tristan di dalam acara tersebut tidaklah mudah. Dengan banyaknya peserta dan konsep acara yang kompetitif, banyak anak yang gagal karena berada di bawah tekanan.

Selama bertanding, Tristan sering masuk ke babak eliminasi. Dari 10 episode, ia telah berada di babak eliminasi sebanyak 6 kali. Kendatipun, menurut Sigit, hal itulah yang mungkin menjadi kunci dari kemenangan Tristan. “Mungkin karena sebenarnya struggle terus dia, beberapa kali kan dia sudah hampir pulang. Tetapi jadinya ia justru sudah biasa di bawah tekanan,” kisahnya mengenai babak grand final yang paling sulit.

Kemenangan Tristan serta merta mendapatkan sambutan positif di berbagai komunitasnya. Walaupun momen ketika tampil sebagai juara bertepatan dengan awal liburan sekolah, banyak teman-teman sekolahnya yang mengucapkan selamat, terutama yang tinggal berdekatan dengan lokasi rumah mereka. “Bahkan waktu kita pulang dari malam grand final-nya di pintu rumah kita sudah ditempelin kertas congratulations, ada balon-balon. Teman-temannya ada yang dari TK sampai sekarang sama, jadi building community-nya bagus,” papar Sigit.

Perubahan yang menambah popularitas Tristan ini tentu akan membawa dampak tersendiri baginya, terlebih lagi di usianya yang masih tergolong belia. Untung saja, hal ini tidak luput dari perhatian pihak penyelenggara. Channel TEN menyediakan seorang psikolog sebagai dukungan kepada para kontestan cilik tersebut. Seminggu setelah menang pun mereka masih dihubungi oleh psikolog untuk menilai keadaan Tristan dan keluarga.

Menyinggung tentang sekolah, Tristan ternyata menyukai pelajaran Bahasa Inggris dan Geografi, walaupun untuk kedepannya ia masih belum tahu ingin mendalami profesi apa. “Aku sukanya ngedit foto. Lebih suka ngeditnya daripada foto-foto. Kalau hobi aku suka dengar musik alternative rock, Twenty-One Pilots, Pierce The Veil, My Chemical Romance,” ujarnya santai.

Selain mendengarkan musik, Tristan pun gemar membaca buku, main game, dan melihat akun Instagram di handphone-nya meski ada batasan akses dari orang tua bila bermain dengan telepon pintar. Beberapa judul buku favoritnya termasuk The Fault in Our Stars, Harry Potter and The Cursed Child, dan karya-karya penulis Roahl Dahl. “Dia itu kalau baca buku cepat, bisa setengah hari atau sehari saja. Tadinya kita beliin dia buku, tapi karena dia cepat banget selesainya, ujung-ujungnya kita ke library saja jadinya pinjem,” kata Sigit geli.

Kesuksesan Tristan telah menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang berada di Mlebourne, Victoria. Semoga saja kisah Tristan ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya.

 

Sasha