Di penghujung tahun 2018, Tulus sukses menggelar konser tunggal ketujuh yang berjudul “Konser Monokrom Tulus” di Bandung, Indonesia. Beruntung meski jauh di Melbourne, para Teman Tulus (sebutan untuk penggemarnya) sudah lebih dulu menikmati musiknya di Soundsekerta pada September 2018. Dan Buset berkesempatan untuk ngobrol bareng penyanyi bernama lengkap Muhammad Tulus ini di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne.

(Bukan Sekadar) Lirik untuk Pasangan

Lagu ciptaannya selalu punya sudut pandang dan analogi unik. Mulai dari Sepatu, Gajah, hingga Diorama. Lagunya pun bukan sekadar lagu cinta biasa. Lagu Sewindu konon ditulis untuk kucingnya. Formula ini juga masih dipertahankan dalam album terakhirnya, “Monokrom”. Tulus mengaku bahwa sebagian besar lagu dalam album terakhirnya bukan bercerita tentang cinta pada pasangan.

“Semua lagu 90% saya tulis sendiri, tapi tidak semuanya berasal dari pengalaman pribadi. Saya menulis dari apa yang saya lihat, dengar dan rasakan,”terangnya. “Tiap tahun ketertarikan saya untuk membingkai cerita di lagu-lagu saya itu berubah-ubah. Di album terbaru, saya banyak membingkai kehidupan keluarga dan cerita di rumah,” lanjut pria yang kerap berkolaborasi dengan fotografer Davy Linggar.

Tulus tampil prima di panggung Soundsekerta

Lirik-lirik lagu Tulus juga boleh dibilang berkarakter dibanding musisi-musisi Indonesia lainnya. Meski punya ciri tersendiri, ia memotivasi para penulis lagu agar tidak berusaha keras menjadi berbeda. “Karena kadang-kadang kalau orang berusaha keras untuk beda, dia lupa kalau semua orang itu sebenarnya sudah berbeda sendiri.”

“Jadi diri sendiri saja. Tulis apa yang kamu rasakan. Tidak harus sibuk jadi beda. Ujung-ujungnya pasti akan jadi biasa saja. Menurut saya tidak akan pernah lahir lagu yang melegenda dari sesuatu yang diusahakan berlebihan,” pesannya lagi.

Melebarkan Sayap ke Jepang

Di Indonesia, Tulus tak cuma sudah dikenal luas. Karyanya diapresiasi dengan mendapat lebih dari 50 penghargaan. Nah, baru-baru ini lagunya yang berjudul Sepatu diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Ini adalah bentuk untuk berekspansi ke negara lain.

“Menurut saya apa yang bisa kita lakukan sebagai pemusik adalah memperbanyak atau mencari kesempatan untuk bisa bernyanyi di luar Indonesia dalam rangka mempromosikan musik karya Indonesia,” ungkapnya. “Contoh kalau misalnya di Jepang, saya ketuk pintunya pakai lagu bahasa Jepang yang diterjemahkan dari bahasa Indonesia. Itu kontribusi saya untuk memperkenalkan Bahasa Indonesia.”

Tulus yang mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dalam seremoni pembukaan Asian Games tahun lalu mengungkapkan bahwa menjadi musisi di era yang berubah dan serba mudah, perlu memiliki ekosistem yang kuat. Apalagi di tengah semakin mudahnya orang menampilkan kebisaannya menyanyi atau berkesenian, jika tidak ditopang dengan sistem yang benar akan mudah goyah dan akhirnya lenyap.

Tulus bersama Natasya (#Busetcrew)

Kehadiran Tulus masih terasa menyegarkan hingga kini, di tengah banyaknya musisi baru yang datang dan pergi. Semoga, akar kariernya semakin kuat dan buah-buah karyanya semakin banyak. Boleh dong kami ikut bermain-main analogi seperti yang sering Tulus lakukan di tiap liriknya. Bagi Buset, Tulus adalah pohon rimbun yang kini tengah berbuah lebat. Semoga tetap membumi dan mengakar kuat.

 

 

 

Nasa
Foto: Nys