ki-ka: Fransiska Darmawan dan Avada Nirel, Co-Project Manager Project O: Happiness in Giving

“Jangan lupa untuk memberi ke orang yang membutuhkan, karena di saat kamu memberi, kamu akan menemukan kesenangan dari dalam dirimu sendiri.” Begitulah tanggapan salah satu Co-Project Manager Project O: Happiness in Giving, Avada Nirel.

Berawal dari tahun 2011, acara tahunan dari PPIA RMIT tahun ini mengajak para penghuni Australia dan Indonesia untuk memberikan donasi bagi teman-teman kita di Tanah Air. Ini kali Project O bekerjasama dengan Book for Papua dalam rangka peningkatan pendidikan di Wamena, Papua.

Menurut Wikipedia, Wamena merupakan ibukota dari kabupaten Jayawijaya dan merupakan kota terbesar di pegunungan tengah Papua. Namun, beberapa narasumber menyatakan kalau kota ini hanya bisa dicapai melalui transportasi udara, menyebabkan mahalnya dan sulitnya mendapatkan berbagai kebutuhan hidup di Wamena.

Karena itu, Avada Nirel menambahkan jika pada tahun ini Project O juga turut membantu beberapa aspek lain yang termasuk sangat penting, yakni makanan, kesehatan, serta sanitasi air. “Dari kerjasama kami dengan Book For Papua, kami terinspirasi kalau teman-teman kita di Papua tidak hanya kesulitan dalam mendapatkan edukasi, tapi akses ke air bersih juga susah. Karena itu, tahun ini kami ingin mencoba untuk membantu aspek-aspek di luar edukasi,” jelas pemudi yang lebih akrab disapa Nirel.

Book For Papua sendiri merupakan sebuah organisasi nirlaba yang berdiri sejak tahun 2013 dan hingga kini aktif meningkatkan tingkat edukasi di Papua. Selain menyalurkan ribuan buku serta perlengkapan sekolah, Book For Papua juga telah berhasil membangun enam taman baca di Papua. “Alhamdulilah, [Book For Papua] itu engaging banget sama kita. Mereka menjelaskan kepada [panitia Project O] kemana donasi yang kita berikan akan disalurkan dan digunakan untuk apa,” tutur Nirel.

Pemilihan Papua sebagai lokasi target sumbangan Project O 2017 dikarenakan tingkat buta huruf di Papua yang tergolong tinggi. Seperti yang dilansir dari surat kabar Tanah Air, Kompas, pada 30 Maret 2017, Papua memiliki tingkat buta huruf mencapai 10 persen.

Para pengunjung Project O dipersilakan memberikan bantuan melalui kotak-kotak sumbangan yang telah disediakan pada acara puncak yang diadakan pekan pertama Oktober kemarin di Storey Hall RMIT University. Selain itu, sebanyak 60% dari hasil penjualan tiket Project O juga disumbangkan ke Book for Papua. Ditambah lagi dengan hasil penjualan merchandise dan makanan yang diharapkan dapat lebih banyak membantu sesama yang lebih membutuhkan. Dan untuk mengajak lebih banyak orang mengulurkan tangan mereka, sumbangan juga dapat dilakukan secara online melalui situs gofundme.com di Australia, atau kitabisa.com di Indonesia.

Puncak Acara

Untuk menghibur warga Indonesia di Melbourne sekaligus sebagai rasa terimakasih bagi para pengunjung Project O yang telah, secara langsung maupun tidak langsung, mengulurkan tangan dan berdonasi untuk Papua, acara puncak Project O: Happiness in Giving dilengkapi beberapa permainan interaktif yang mengilustrasikan betapa anak-anak di Papua kesulitan menempuh perjalanan menuju sekolah. Untuk lebih menyentuh hati para pengunjung, Students of Melbourne mempersembahkan pertunjukan skit yang menceritakan lebih lanjut mengenai keadaan saudara-saudari kita yang masih hidup tidak layak.

Malam itu pula diramaikan oleh berbagai penampilan menarik lainnya, sebut saja aksi panggung dari musisi Indonesia Yura Yunita, runner up Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV Mamat Alkatiri, serta band Klaudspirits asal Melbourne, dan AJOY – pemenang kompetisi pre-event Project O, Samuna.

Yura membawakan beberapa tembang hitsnya ‘Cinta dan Rahasia’, juga lagu dari single terbarunya ‘Intuisi’ dan lagu gubahan berbahasa Sunda ‘Kataji’. “Karena aku bangga sekali sama Bandung, kota asalku dan tempatku bertumbuh, aku ingin membawa pesan positif buat teman-teman semua untuk bisa terus bangga dengan darimana kita berasal,” jelas Yura di jumpa press Project O, “aku merasa lagu-lagu dari bahasa lain seperti Bahasa Korea atau Brazil itu menarik, seksi; jadi aku merasa kalau bahasa Sunda kalau dikemas secara menarik juga pasti akan terdengar seksi di kuping yang tidak biasa mendengar bahasa Sunda,” tambahnya.

Lebih lanjut, Mamat Alkatiri yang berasal dari Papua diundang untuk mengilustrasikan keadaan di Papua kepada sekitar 300 hadirin melalui kemasan humor yang mudah diterima. “Ya kan, stand up comedy itu sebenarnya berawal dari adanya masalah. Kalau masalahnya membuat kira resah, bisa dicari lucunya,” tutur Mamat.

Melalui perannya, Mamat sempat menceritakan mengenai keadaan di Papua yang cukup jomplang dengan kota-kota besar di Jawa, bahkan banyak kabupaten maupun kota di Papua yang belum memiliki jalan penghubung, terutama di Wamena. “Nggak ada apa-apa gitu, nggak ada kehidupan. Jalan-jalan rusak, nggak ada akses untuk ke daerah pinggiran kota,” tuturnya. Kendati demikian, Mamat meyakini, “Papua bukan daerah yang paling maju, namun implementasi pendidikan serta toleransinya paling maju”. Mamat pun mengajak para hadirin untuk bisa menjadi role model bagi anak-anak Indonesia, terutama Papua, dengan tidak menilai seseorang melalui tampak luarnya.

***

Bagi pembaca yang masih ingin turut berkontribusi dalam acara Project O,
donasi online masih dibuka sampai bulan November dan dapat diakses melalui https://www.gofundme.com/project-o-book-for-papua

***

Mau lihat foto-foto PROJECT O 2017: kunjungi album foto di FB Page Buset
http://bit.ly/2yv6sI3

**

Apa Kata Mereka?

Avada Nirel
Co-Project Manager Project O: Happiness in Giving

Kami ingin mengingatkan kalau memberi itu dapat menimbulkan kebahagiaan dari diri sendiri. Kan selama ini kita tuh sudah terbiasa menerima, kita tuh way too fortunate banget, dapat kuliah ke luar negeri, kita dapat resources buku yang bagus, university kita bagus, segala macam. Dan kita punya kecenderungan untuk lupa untuk memberi ke yang lain. Jadi kita ingin mengingatkan kalau dengan memberi itu kamu bukan hanya membuat mereka senang, tapi kamu juga build your own happiness from within.

 

 

Yura Yunita
Bintang tamu

Pesan-pesan buat teman-teman BUSET lainnya, terimakasih sudah support teman-teman PPIA RMIT ini. Jangan cuma datang saja, tapi mudah-mudahan bisa ikut donasi untuk teman-teman yang ada di Papua sana. Dan terimakasih juga buat teman-teman yang apresiasi sama karya-karya di album Yura, dan mudah-mudahan bisa terus mengapresiasi dan bisa terus dengar lagu-lagunya di Spotify, di iTunes, di YouTube juga. Dan sekarang itu sedang persiapan menuju album kedua Yura, jadi mudah-mudahan nanti teman BUSET nantikan album kedua Yura yang akan rilis sebentar lagi.
Mamat Alkatiri
Bintang tamu

Untuk pembaca BUSET yang sudah selesai kuliah dan kerja di sini, berhenti sajalah, balik kerja di Indonesia. Karena di Indonesia lebih membutuhkan. Jadi aplikasikan apa yang kita dapat buat untuk negara kita sendiri dong, nggak usah lama-lama di sini.

 

 

Maya
Pengunjung

Seru banget sih. Kita jadi lebih aware sama kondisi beberapa daerah di Indonesia yang mungkin agak sedikit tertinggal. Dan kita sebagai orang di sini yang punya privilege untuk dapat lebih, bisa lebih berbagilah sama sesama. Lebih mau berbagi saja, karena nggak semua orang mungkin bisa seberuntung kita, punya akses ke segala macam pendidikan dan kesehatan kayak kita. Jadi kalau kita punya kesempatan kayak gini, bolehlah menyisihkan sebagian dari yang kita punya karena bisa jadi berarti banget buat teman kita yang ada di Papua.
Acara puncaknya menghibur banget sih, Mamat juga, Yura juga suaranya bagus banget. Mungkin beberapa orang ada yang ga tahu mereka, tapi begitu ngelihat mereka perform, memang mereka entertaining banget sih.

 

 

Felicia dan Becky
Pengunjung

Di Papua masih banyak orang yang kekurangan, jadi target donasi kali ini memang sudah bagus. Kami mau encourage teman-teman buat ikut menyumbang, karena dengan kita memberi donasi sedikit saja itu sebenarnya mungkin buat kita itu tidak berarti, tapi buat anak-anak di Papua itu berarti banget. Mereka bisa sekolah, dan bisa untuk kebutuhan yang lain juga.

 

 

 

JLie
Foto: Nys