Sebagai salah satu agenda tahunannya, Multicultural Arts Victoria kembali meramaikan Kota Melbourne dengan pameran seni yang bertajuk Mapping Melbourne 2015. Dan tahun ini, seniman Tanah Air kembali ikut meramaikan seluruh rangkaian acara dengan karya-karya unggulan yang berhasil menyita perhatian masyarakat luas. Sebut saja penampilan musik trance (electronic dance) Jawa di panggung besar Federation Square yang nota bene merupakan tempat acuan berkumpulnya masyarakat Kota Melbourne, dan persembahan drama teater “Urat Jagat” karya Godi Suwarna yang dibawakan aktris Heliana Sinaga, Sandra Long dan Jodee Mundy. Penampilan teater ini digelar juga di jantung Kota Melbourne, yakni di State Library Victoria.

 

 “Lama Sabachthani #2” karya F Sigit Santoso merupakan salah satu karya yang diikutsertakan Mapping Melbourne
“Lama Sabachthani #2” karya F Sigit Santoso merupakan salah satu karya yang diikutsertakan Mapping Melbourne

Selain itu, program yang pantang dilewatkan adalah pameran seni kontemporer Indonesia, SHOUT!, yang dapat dijadikan sebagai gambaran perkembangan budaya di Tanah Air. Setiap karya yang ditampilkan memiliki arti yang unik dan sangat mendalam, bahkan beberapa termasuk kontroversial. Lukisan dan pahatan yang diikutsertakan dalam SHOUT! 2015 antaralain merupakan karya Tisna Sanjaya, Andita Purnama, Erika Ernawan, Erwin Windu Pranata, Patriot Mukmin dan masih banyak lagi.

BUSET sempat berbincang dan mengorek lebih lanjut tentang seorang Patriot Mukmin – pemuda kelahiran Tangerang, 4 Juni 1987 yang tampil sebagai pemenang kompetisi Bazaar Art Award 2011 dan finalis Bandung Contemporary Art Award 2012 serta Indonesia Art Award 2010. Terlebih dari itu, Patriot juga dipilih sebagai salah satu seniman yang dapat mengkontribusikan karyanya untuk dipajang di Museum Kepresidenan Balai Kirti, Istana Bogor pada Oktober 2014.

PATRIOT MUKMIN: “Saya bisa suka dua hal yang bertentangan secara bersamaan.”

Awal Patriot bisa memutuskan untuk bergelut di dunia seni

Saya baru mengenal dunia seni pada tahun 2005 ketika saya masuk kuliah S1 di FSRD-ITB. Hasrat saya sedari kecil sebenarnya ada di dunia otomotif, dulu bercita-cita ingin menjadi teknisi mesin atau desainer mobil. Akan tetapi ketika belajar tentang seni di kampus, saya merasa tergerak untuk berkarir di dunia seni. Alasannya sulit untuk diungkapkan, akan tetapi faktor kebebasan berekspresi, kejeniusan pemikiran yang dapat tercermin dalam karya seni adalah dua hal yang mendorong saya untuk aktif di bidang tersebut.

Penerimaan masyarakat di Indonesia mengingat masih banyak yang belum bisa menerima dan mengerti seni

Pada awalnya sulit, bahkan untuk orang tua saya. Akan tetapi dengan berjalannya waktu. Saya pameran secara berkala, saya ajak keluarga saya untuk datang dan mengapresiasi, teman-teman di luar seni juga saya ajak, dan ternyata mereka cukup appreciate, menghargai apa-apa yang saya telah kerjakan, begitu juga karya-karya seni lain juga yang dipajang.

Ternyata, orang umum haruslah diajak terlebih dahulu, ketika sudah melihat dan menikmati, mereka biasanya ketagihan. Dan saya rasa dalam beberapa tahun terakhir, didukung oleh berkembangnya teknologi informasi, lewat sosial media, lewat budaya visual yang berkembang, karya seni adalah salah satu objek favorit bagi masyarakat umum, terutama anak-anak muda untuk di-share di media sosial mereka. Yang saya baca, ada peningkatan jumlah kunjungan ke galeri dan museum di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Jogja. Mungkin saat ini masih di permukaan, untuk keren-kerenan, tapi mudah-mudahan bisa berkembang di kemudian hari.

Saya optimis, ke depannya, dunia seni di Indonesia akan mendapatkan apresiasi yang lebih luas. Kesulitan yang justru dirasakan oleh saya sebagai seniman, atau beberapa teman lainnya adalah untuk menjaga sustainability kami untuk terus berkarya. Sebagian orang masih ngotot untuk terus berkarir sebagai seniman walau tidak punya kepastian dalam hal penghasilan bulanan. Sedangkan sebagian orang lainnya, yang padahal memiliki potensi yang cukup besar memilih untuk bekerja secara formal, baik di industri swasta, wirausaha, maupun di instansi pemerintah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih stabil.

Karya yang paling berkesan

Sejujurnya dalam beberapa tahun terakhir, saya selalu suka dengan karya yang saya buat, jadi banyak karya favorit pribadi. Akan tetapi kalau mau pilih salah satu, saya akan jawab karya berjudul “Seeing is Painting” . Gambarnya dapat dilihat di link berikut www.patriotmukmin.com/seeing-is-painting/  

Dimana saja karya Patriot dipamerkan sebelum Mapping Melbourne

Pernah di Seoul, Korea International Art Fair (KIAF) 2011 dan di 7adam Gallery Singapore pada tahun 2012. Sewaktu di Seoul, saya datang ke sana dan respon masyarakat di sana cukup baik, terutama karena saya membuat karya yang mengangkat persoalan yang ada kaitannya dengan sejarah Korsel. Sedangkan di Singapura, saya saat itu berhalangan untuk hadir sehingga tidak bisa mengamati.

Di Indonesia sering mengikuti pameran di Bandung dan Jakarta. Beberapa kali di Yogyakarta, Magelang, Semarang dan Surabaya.

Yang diharapkan dari Mapping Melbourne

Melihat luasnya skala kegiatan yang saya lihat dari publikasi di website MAV, saya melihat ada dimensi baru yang belum pernah saya alami sebelumnya, saya merasa event ini bahkan lebih besar dari KIAF ataupun Singapore Art Stage. Saya bahkan tak bisa membayangkan apa yang bisa diharapkan. Yang jelas saya sangat bersemangat dengan acara ini.

Ada tiga karya saya yang akan dipamerkan; “Pancasila Sakti dan Teror Putih”, “Jas Merah #1” dan “Jas Merah #3”.

Inspirasi dalam berkarya

Saya suka berpikir dari dua arah, dari sudut pandang mainstream, kemudian berusaha untuk berpikir dari sudut pandang alternatif.

Saya suka berada di tengah-tengah, saya sering mengangkat hal yang ambigu, samar-samar, blur dan bisa dilihat dari beberapa sudut pandang.

Jas Merah (Jangan sekali-kali melupakan sejarah)

Jas Merah #1
Jas Merah #1

94.5 x 93.5 cm
Oil and acrylic on canvas mounted on wooden bars
2014

Seri karya Jas Merah merupakan salah satu karya yang menandakan mulai tumbuhnya sensibilitas sosial dan politik dalam rentang kekaryaan Patriot. Di samping itu, karya ini juga terinspirasi dari momentum suksesi pemerintahan SBY ke Jokowi tahun 2014 yang kemudian mengingatkannya pada Reformasi 98. Di tahun tersebut, Patriot yang berusia 11 tahun menyaksikan revolusi yang terjadi di Jakarta. Baik secara langsung melihat pembakaran Mall dan pusat pembelanjaan ataupun melihat perkembangan melalui berita di televisi. Ia menganggap bahwa ada tiga hal utama dari pergolakan 98, yakni pengunduran Presiden Suharto, penjarahan dan pembakaran, serta bentrokan antara mahasiswa melawan aparat keamanan. Tiga hal tersebut yang kemudian ia angkat dalam seri karya Jas Merah.

 

BUSET NGELIPUT - MAPPING MELB - Patriot Pancasila TerorputihPancasila Sakti dan Teror Putih

Karya ini merupakan karya yang menampilkan tumpang tindih lanskap monumen Pancasila Sakti dan salah satu foto dokumentasi yang memperlihatkan tindakan ‘Teror Putih’. Monumen Pancasila Sakti merupakan monumen yang dibangun sebagai bentuk penghargaan pada Pahlawan Revolusi sekaligus menjadi tonggak pengingat bahwa sempat ada upaya untuk mengkhianati Pancasila yang berhasil digagalkan. Istilah Teror Putih adalah istilah yang disebutkan oleh D. N. Aidit dalam satu pidatonya di tahun 1965 untuk menyebut tindakan-tindakan dalam sejarah Indonesia yang memperlihatkan tindak diskriminasi pada ideologi komunis di negeri ini. Melalui karya ini Patriot berupaya untuk memperlihatkan sebuah paradoks. Di satu sisi, ia menampilkan simbol pelanggaran HAM terhadap para Jenderal dan perwira yang diculik dan terbunuh. Namun di sisi lain, ia menampilkan pelanggaran HAM lain dalam bentuk foto dokumentasi simpatisan Partai Komunis Indonesia yang diciduk oleh tentara.

 

SHOUT! 2015 dapat dinikmati di berbagai tempat di CBD

Rabu, 2 Des – Rabu, 22 Dec
The Meat Market Stables
Wrecklyn Street & Courtney Street
North Melbourne
 

Rabu, 25 Nov – Selasa, 15 Des
Sidney Myer Asia Centre
158/761 Swanston Street
Parkville

Rabu, 2 Des – Sabtu, 5 Des
State Library Victoria
328 Swanston Street
Melbourne