What They Don’t Talk About When They Talk About Love

Pemain: Nicholas Saputra, Ayushita Nugraha, Karina Salim, Anggun Priambodo, Lupita Jennifer
Sutradara: Mouly Surya
Produser: Parama Wirasmo, Tia Hasibuan, Fauzan Zidni, Ninin Musa

Alur cerita yang tidak biasa dan sangat sensitif – namun menarik – untuk dihadirkan di layar lebar. Darimana datangnya inspirasi untuk mengedapankan kisah percintaan orang-orang penyandang cacat?
Saya memiliki seorang saudara yang tuna netra. Dia sekolah di sekolah luar biasa dan kami sering main bersama setiap akhir pekan. Ide cerita terinspirasi dari hari-hari itu.
Saat saya menulis naskah saya mengunjungi sekolah luar biasa untuk meneliti dan membicarakan tentang film ini bersama mereka.

Hambatan apa yang sempat dialami selama proses pembuatan film?
Hampir semua pemeran latar di film ini merupakan penyandang cacat mata dan telinga. Hanya pemain utama yang diperankan aktor dan aktris profesional. Dari sini semua pemain berkolaborasi dan pemain utama pun menyesuaikan untuk berbaur dengan para pemain latar.

Apakah menurut Mouly laga para aktor di film ini sudah sesuai dengan ekspektasi penonton?
Have no idea. Karena saya tentunya tidak dapat mengatur apa yang mereka pikirkan. Saya rasa film ini dibuat untuk memberikan pengalaman tersendiri bagi masing-masing penonton dan mereka bebas menginterpretasikan maknanya. Yang saya bisa katakan adalah saya telah berusaha menyutradarai film ini semaksimal saya dan setiap pemainnya telah memberikan yang terbaik lebih dari apa yang saya harapkan sebelumnya.

Pesan apa yang ingin Mouly sampaikan melalui film ini?
Cerita ini semua tentang ‘what if’: what if a person wasn’t able to possess these senses, and what would happen next.
Film ini menampilkan bentuk cinta yang beraneka ragam; kisah Diana dan Andhika menekankan pada Diana yang jatuh cinta pada perasaannya sendiri dan hanya memikirkan kebahagiaannya. Sedangkan Edo dan Fitri memiliki hubungan awal yang agak tegang namun akhirnya mereka menemukan cinta.

Setelah mendapatkan 4 Piala Citra FFI sekaligus untuk film pertama Mouly, Fiksi, pada tahun 2008, dampak seperti apa yang dirasakan Mouly? Apakah ada tekanan untuk selalu melebihi benchmark yang secara tak langsung sudah diterapkan oleh Fiksi?
Pasti ada dampaknya. Tadinya menang Piala Citra saya anggap untuk menyenangkan orangtua saja. Menyenangkan orangtua kan pahala, begitu juga menyenangkan orang banyak. Tapi, gara-gara menang Piala Citra, saya mendapatkan banyak kemudahan. Bahkan terasa sampai sekarang.

Tapi, iya, saya awalnya berhati-hati dengan film kedua saya. Orang kan jadi punya ekspektasi sama saya. Waktu buat Fiksi, saya nothing to lose. Mau film itu jelek, mau bagus, pokoknya nothing to lose. Kalau memang jelek, ya berarti berikutnya bikin lebih bagus lagi. Waktu selesai diproduksi, hasil akhir Fiksi sebenarnya di luar dugaan saya. Ibaratnya, kalau di kepala saya 100%, dalam Fiksi munculnya cuma 60%. Saya mengakui ada ketidakstabilan dalam diri saya sebagai sutradara debutan. Kalau saya nonton lagi sekarang, saya bakal banyak komentar, “mestinya kayak begini? Bisa nggak syuting ulang?” Tapi pertanyaan-pertanyaan ini sudah jadi bagian dari diri saya. Fiksi tidak akan jadi begitu kalau saya waktu itu tidak begitu.

Joko Anwar bilang ke saya, “film kedua itu susah. Gampangan film ketiga.” Dan saya jujur merasakan tekanan itu. Tapi saya coba untuk tidak mengindahkannya sama sekali. Justru di saat saya meremasa “bodo amat lah”, saya baru bisa mulai bergerak. Pokoknya, bagaimanapun juga, film kedua ini harus menantang ulang diri saya. Pokoknya film kedua tidak boleh mengulang Fiksi. Itu yang saya terus ulang di pikiran saya.

Pas mau bikin Don’t Talk Love, saya bilang sama Rama, sama Nico, “gue nggak yakin film ini jadinya bisa bagus.” Dan waktu itu naskahnya sudah jadi. “gue nggak yakin cerita kaya gini bisa jalan, tapi justru karena gue nggak yakin, film ini harus dibuat.”

Saya merasa saya harus keluar dari zona nyaman saya. Awalnya jelas susah, tapi pas produksi Don’t Talk Love jalan, perasaan itu malah saya coba bangun terus.

 ***

PENGALAMAN NICO SEBAGAI TUNA RUNGU

Berperan sebagai seorang tuna rungu, bagaimana proses pendalaman untuk bisa memahami kesulitan karakter Nico?
It’s an interesting character… jarang sekali film yang mengangkat karakter seorang tuna rungu. Apalagi keberadaannya ada di sekolah luar biasa.

Saya sih tidak menganggap sebuah kesulitan. Untuk mendalami karakter, saya ke sekolah tuna rungu, duduk di kelas mereka, mencoba memahami apa yang mereka miliki dan tidak. Jadi tidak hanya melihat kekurangan, tapi juga kelebihan mereka.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pendalaman karakter?
Dua bulan, tapi tidak setiap hari. Secara berkala mengunjungi sekolah luar biasa untuk observasi.

Apakah Nico berencana datang untuk pemutaran film Don’t Talk Love di IFF Melbourne?
Karena ada syuting April ini maka nggak bisa ikutan. Saya syuting film action drama garapan Mira Lesmana, film-nya akan keluar akhir tahun.

Bisa minta sedikit komentar untuk fans yang tinggal di Australia?
Sudah lama sekali saya nggak ke Australia untuk pemutaran film, yang terakhir film 3 Hari Untuk Selamanya mungkin delapan tahun lalu. Di Australia audience-nya selalu menarik.

So, enjoy the film dan tetap mencintai film Indonesia!