Budaya Indonesia tidak selalu identik dengan batik dan makanannya. Dunia pula mengenal Indonesia lewat pertunjukan wayang. Pernahkah kamu melihat pertunjukan wayang? Atau pernah mendengar karakter Hanoman si monyet putih?

Walaupun namanya sudah mendunia, pendalang nusantara Sumardi Sabdho Carito dari Yogyakarta melihat bahwa warga Indonesia tidak begitu peduli dengan perkembangan perwayangan di Tanah Air. Ia justru merasa bahwa Australia merupakan lahan segar yang memberikannya keleluasaan untuk melestarikan budaya wayang.

Lulus dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan jurusan pendalangan, Sumardi merupakan sosok ‘langka’. Sebelum serius menjalani karir pendalanganya, ia mengawali karirnya di perusahaan asuransi.

“Waktu wawancara, saya ditanya kok mau bekerja di bidang asuransi. Padahal kan lulus dengan jurusan pendalangan. Lha, ya saya jelaskan kalau saya itu diajarkan tentang konsep dari peperangan Mahabarata serta cerita dari Pandawa dan Kurawa. Semua itu bisa diaplikasikan ke pekerjaan ini. Setelah saya jelaskan, eh, saya langsung diterima walau cuma tahan selama 3 tahun di situ,” ujarnya.

Wayang di Australia

Negeri Australia bukanlah tempat yang asing bagi Sumardi. Dia sudah berkunjung ke Negeri Kangguru sebanyak enam kali. Lewat kolaborasinya dengan sebuah organisasi bernama Culture Infusion, ia sudah berkeliling ke Port Hedland di Australia Barat hingga Cairns di negara bagian Queensland.

“Saya sudah datang hampir ke seluruh wilayah di Australia kecuali ke Darwin. Mungkin belum dapat kesempatan saja,” tambahnya.

Sumardi merupakan seorang sosok yang memiliki kecintaan yang teramat besar terhadap dunia perwayangan. Dalam tur yang dilakukannya ke berbagai sekolah dari tingkat pre-school hingga SMA, ia berusaha memberikan cerita yang berbeda dengan pesan moral yang memberikan pelajaran hidup. Menurutnya, wayang adalah refleksi dari karakter manusia di dunia.

Saat dirinya datang ke Sekolah Taman Kanak-Kanak, ia akan menggunakan wayang kancil atau animal puppet. Hal ini membuatnya dapat berkomunikasi dengan mudah kepada anak-anak. Tidak hanya itu, ia pun menceritakan kisah wayangnya dalam Bahasa Inggris agar dongengnya bisa dimengerti.

Ramuan jitu yang ia gunakan dalam memamerkan cerita wayang kancil-nya ialah dengan menjadikan burung garuda sebagai bintang utama dari cerita tersebut.

“Biasanya kan lion atau tiger yang jadi king of the jungle. Nah, sekarang saya mau buat eagle jadi rajanya,” tambahnya.

Antusiasme dari para murid sekolah sebagai penonton sangatlah tinggi. Sumardi bercerita bahwa mereka mempunyai rasa keingintahuan yang sangat besar terhadap budaya Indonesia. Padahal, saat ia memulai proyek ini enam tahun yang silam, dirinya tidak yakin terhadap tanggapan dari warga Australia terhadap produk seni yang ia tawarkan. “Awalnya pesimis tetapi saat saya mulai menjalankan proyek ini, banyak dari murid-murid memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis. Misalnya, kenapa wayang harus warna-warni padahal hanya bayangannya saja yang terlihat? Ada juga yang bertanya tentang keris yang saya pakai. Ia bertanya kenapa wayang yang saya pakai harus ditaruh di belakang, bukan di depan? Saya sempat kewalahan,” tuturnya.

Nasib Semu Budaya Wayang

Apabila kita cukup jeli untuk melihat lingkungan sekitar di Indonesia, mungkin kita akan kesulitan untuk mencari pendalang. Hal ini dikarenakan tidak banyak pendalang yang ingin meneruskan profesi yang mulia ini. Faktor terbesar ialah frekeunsi pementasan wayang yang sangat berkurang. Selain itu, dukungan pemerintah yang minim untuk melestarikan budaya ini serta lahan yang tidak memadai.

“Sekarang, setiap ada lahan kosong langsung dijadikan perumahan. Jadi, seseorang mungkin mempunyai uang untuk menonton wayang, tetapi tempat untuk mementaskan pertujukan tersebut tidak ada,” katanya.

Sedih sekali untuk mendengar hal ini datang dari seseorang yang ingin melestarikan budaya Indonesia yang sudah mendunia. Biaya yang tinggi serta keinginan dari para generasi muda untuk menjadi pendalang juga berkurang. Hal ini terjadi karena profesi ini tidak bisa menjadi menyokong kebutuhan kehidupan sehari-hari.

“Tak kenal maka tak sayang. Generasi sekarang tidak mengenal wayang. Jenjangnya sudah terlalu jauh. Padahal, wayang itu memberikan tuntunan moril.”

Suka duka Sumardi memperlihatkan semangat seorang individu dalam memperjuangkan kelestarian budaya Indonesia. Hambatan serta pesimisme pasti akan melanda. Akan tetapi, kedua hal itu tidak menjadi alasan justru menjadi senjata yang paling ampuh untuk mencapai objektif yang diinginkan.

“Saya optimis bahwa budaya wayang akan hidup di Australia. Kedatangan saya dan teman-teman seperti menebar benih. Harapannya ialah seseorang akan menyirami, memberi pupuk dan memelihara benih tersebut. Lalu, benih tersebut akan tumbuh kembang di Australia. Dari sinilah para pendalang dari Indonesia bisa mempromosikan budaya wayang ke masyarakat Australia.”

ham
foto: dok. pribadi