Wayang kulit merupakan salah satu hasil karya seni dan kebudayaan dari Indonesia yang unik dan lain dari yang lain. Seringkali pertunjukan wayang merupakan perpaduan antara keahlian dalang dalam menuturkan cerita dengan kepiawaian para pemain gamelan dan penyanyinya. Karena keindahan dan nilai budayanya, UNESCO pun telah mencantumkan gelar ‘Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity’ bagi wayang kulit di tahun 2003.

Walau begitu besar nilainya bagi kesenian dan kebudayaan Indonesia, semakin sedikit masyarakat Indonesia yang tertarik untuk mengetahui lebih dalam dan memperlajari wayang, terutama para generasi muda. Oleh karena itu pertunjukan Ciptaning yang diadakan akhir bulan November lalu patut diacungi jempol.

Pertunjukan wayang tersebut dipersembahkan oleh orkestra gamelan Permai dengan tujuan mulia; menggalang donasi bagi SurfAid Sumba. SurfAid sendiri merupakan organisasi yang dibentuk oleh para peselancar yang sering berkunjung ke daerah terpencil di Indonesia. Saat melihat kondisi kehidupan masyarakat yang memprihatinkan, para peseluncur tersebut memutuskan untuk membantu mengurangi beban kehidupan mereka dan membentuk SurfAid. Donasi yang telah dikumpulkan oleh grup gamelan Permai akan digunakan oleh SurfAid Sumba untuk memberikan air bersih kepada warga setempat.

Dalam acara tersebut, dalang asal Australia, Helen Pausacker, bersama dengan Ki Poedijono O.A.M. dan Ria Soemardjo menghibur masyarakat di Melbourne dengan menceritakan pertarungan Arjuna dengan Niwatakawaca melalui pertunjukan wayang kulit dan musik gamelan.

Penampilan yang berlangsung selama dua jam tersebut telah berhasil memancing tawa dan kagum dari banyak penonton. Pengunjung yang datang memenuhi ruangan di KJRI malam itu pun bukan hanya orang tua, namun juga remaja dan anak-anak. Hampir semua dari mereka merupakan warga Australia yang tertarik dengan kebudayaan Indonesia.

Berbincang dengan Dalang Helen Pausacker

Alasan berpartisipasi dalam acara ini?
Saya diundang oleh Permai yang ingin mencari sumbangan dana untuk SurfAid Sumba. Jadi anggapnya saya diundang sebagai bintang tamu, karena memang saya adalah seorang dalang.

Sejak kapan belajar bermain wayang?
Saya empat tahun di Solo untuk belajar wayang di Institut Seni Indonesia (ISI). Tahun pertama 1976 sampai 1977, lalu kembali lagi di tahun 1985 dan 1995. Kemudian yang terakhir saya datang lagi di tahun 1997 sampai 1998. Jadi totalnya empat tahun tapi terpisah-pisah karena di sini harus bekerja.

Alasan ingin bisa bermain wayang?
Saya belajar bahasa Indonesia saat di universitas. Sambil belajar, saya menjadi tahu sedikit mengenai wayang. Dari situ saya mulai tertarik untuk mengetahui lebih dalam. Awalnya saya berpikir tidak sampai belajar praktiknya, namun begitu saya tahu kalau saya bisa, sayapun jadi terus mempraktikan.

Seberapa sering bermain wayang di Australia?
Kalau di sini tidak mungkin ada seminggu sekali. Saya bermain wayang kalau ada panggilan saja, biasanya setahun dua atau tiga kali.

 

 

** APA KATA MEREKA **

I think it was a great performance. It was very entertaining and the children really enjoyed the characters. And the music of course, it was lovely.

 

Bagus! Saya lihat kebanyakan krunya dari orang Australia. Jadi kagum aja gitu melihatnya buat kita orang Indonesia, orang-orang Australia bisa begitu mencintai budaya kita. Padahal orang Indonesia belum tentu bisa seperti mereka. Salut deh.

 

 

gaby