Seperti apakah dunia tanpa tembakau akan terlihat?

Setiap tahun, tepat pada 31 Mei, World Health Organisation (WHO) memperingati hari World No Tobacco Day (Hari Bebas Tembakau Dunia) yang menyoroti resiko kesehatan yang berhubungan dengan penggunaan tembakau dan advokasi kebijakan untuk mengurangi konsumsi tembakau secara efektif.

Menurut WHO, perdagangan ilegal produk tembakau merupakan masalah global utama, termasuk kesehatan, hukum dan ekonomi, pemerintahan dan korupsi. Statistiknya, tembakau membunuh hampir enam juta orang setiap tahun di seluruh dunia, dimana lebih dari 600,000 orang yang tidak merokok meninggal akibat menghirup asap rokok (perokok pasif).

Berkaitan dengan hal ini, Australia dan Indonesia memiliki pendekatan yang berbeda. Jika di Australia ada banyak aturan dan organisasi sosial semisal QUIT untuk menghalangi atau mengurangi konsumsi rokok, menaikkan pajak tembakau dan pelarangan iklan, di Indonesia nyatanya masih sangat jauh untuk menanggulangi fenomena tersebut. Bila ditilik secara mendalam, banyak faktor yang mempengaruhi isu tembakau Tanah Air, termasuk tingkat kemiskinan dan pendidikan yang masih belum memadai. Faktanya, perkebunan tembakau masih menjadi mata pencaharian utama para petani di berbagai desa. Selain itu, rokok dipercaya dapat dijadikan pengganti pangan atau untuk menahan lapar. Bahkan, figur publik di Indonesia seringkali terlihat sedang merokok di hadapan umum, termasuk kalangan dokter dan aparat pemerintahan yang sedianya menjadi teladan bangsa.

Untuk memperingati World No Tobacco Day, kali ini BUSET mengambil pengalaman dari Hendrik Irawan; seorang Indonesia yang sekarang berdomisili di Melbourne. “Saya tidak ada hubungan apapun dengan rokok. In fact, saya sangat tidak suka dan membenci rokok. Saya kehilangan saudara tertua saya karena dia perokok berat dan mengidap kanker paru-paru.”

Kakak Hendrik meninggal dunia pada tahun 2007. Kala itu almarhum masih tergolong muda. Alhasil, kakak yang sangat dicintainya itu tidak dapat menghadiri pernikahan Hendrik dengan kekasihnya, Samantha, ataupun mengenal anak mereka, Luke yang dilahirkan tiga tahun silam.

Mengamati perkembangan rokok di kedua negara, Hendrik mengatakan, “satu hal yang paling utama adalah soal harga. Harga rokok di Australia bisa lebih dari 10 kali lipat dari harga rokok di Indonesia. Kedua, perusahaan rokok di Indonesia diperbolehkan mengiklankan produk mereka di tempat umum, papan iklan di pinggir jalan, di pusat-pusat perbelanjaan. Bahkan mereka memakai wanita wanita cantik untuk mempromosikan produk rokok. Rokok juga banyak sekali mensponsori acara-acara olahraga seperti sepakbola, sea games, atau aktivitas lainnya. Ironis, mereka mensponsori acara yang sangat baik untuk kesehatan.”

Di lain pihak, Hendrik mengakui jika produksi tembakau juga memiliki sisi baik untuk Indonesia. “Perusahaan rokok di Indonesia padat karya, mempekerjakan banyak orang, sehingga mengurangi atau menekan angka pengangguran. Hal ini sangat baik untuk ekonomi suatu negara, tapi di sisi lain menimbulkan banyak masalah kesehatan yang juga membebani negara.” “Ini seperti makan buah simalakama, kalau saya makan ibu yang mati, kalau tidak makan ayah yang mati.”

“Saya tidak punya jawaban yang tegas untuk dilema ini karena di satu sisi industri rokok menyerap banyak tenaga kerja dan sangat baik untuk negara. Pemerintah juga mendapatkan banyak pajak dari rokok dan diperlukan untuk membiayai negara,” papar Hendrik kala ditanya opininya mengenai rekomendasi solusi yang cocok untuk menekan peningkatan konsumsi rokok di Indonesia. “Kendati demikian, kita bisa kurangi jumlah perokok dengan pendidikan di sekolah, peraturan pemerintah yang baik, pelarangan merokok di tempat umum untuk mengurangi jumlah korban perokok pasif dan menaikkan harga rokok sehingga tidak semua orang bisa membeli dan berpikir dua kali sebelum membeli.”

Perokok pasif merupakan orang-orang yang tidak merokok namun terkena imbasnya karena harus berada di sekitar perokok dan menghisap asap rokok dari perokok tersebut. “Selain membahayakan diri sendiri, rokok juga sangat membahayakan orang-orang di sekitarnya. Jadi berdampak sangat besar terhadap kesehatan banyak orang, tidak hanya si perokok itu sendiri. You’re hurting more than just yourself,” tutup Hendrik gemas.

Memang benar, apabila kesadaran akan bahaya rokok mampu ditingkatkan setidaknya dapat memotivasi para perokok  untuk mengurangi atau berhenti menghisap rokok. Untuk itu, diperlukan sosialisasi yang terus menerus dan dukungan dari setiap kita demi memperjuangkan lingkungan yang sehat.

 

[alert color=”FF173E” icon=”hearts”]SUDAH SAATNYA KITA BERHENTI MEROKOK[/alert]program layanan masyarakat tersedia bagi Anda

Jangan menyerah. Buat kalian yang ingin berhenti merokok, ada banyak bantuan di Australia. QUIT merupakan salah satu organisasi yang menawarkan bimbingan dan dorongan untuk memadamkan api rokok Anda. QUIT menyediakan berbagai bentuk layanan masyarakat secara gratis, termasuk orang yang dapat diajak bicara dan berdiskusi melalui pesawat telepon 13 QUIT atau 13 78 48.

Pemerintah Australia sendiri telah menciptakan sebuah aplikasi digital yang bisa membuat kamu memenangkan pertarungan melawan rokok. Nama app yang dapat diunduh juga secara gratis tersebut adalah My QuitBuddy. Aplikasi ini dapat membantu merekam perjalanan Anda dalam mencapai tujuan berhenti merokok, termasuk menyediakan statistik jumlah hari bebas rokok yang telah Anda jalani dan berapa banyak uang yang telah Anda hemat dengan tidak membeli rokok.

My QuitBuddy dapat memotivasi Anda untuk berhenti merokok dengan gambar dan kata-kata penyemangat serta pesan audio. Anda juga dapat membaca kisah nyata dari ribuan orang lainnya yang telah berhasil menaklukkan kecanduan mereka akan tembakau. Bahkan, aplikasi ini menyediakan beberapa jenis permainan digital untuk mengalihkan pikiran Anda ketika muncul rasa ingin merokok.

Mari kita bersama-sama dukung perwujudan Hari Bebas Tembakau Dunia!

 

 

sam